Siapa Abdul Ghani Baradar, Wajah Baru Emirat Islam Afganistan? | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 17.08.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Afganistan

Siapa Abdul Ghani Baradar, Wajah Baru Emirat Islam Afganistan?

Abdul Ghani Baradar yang dibebaskan dari penjara Pakistan atas permintaan AS tiga tahun lalu, ikut mendalangi kembalinya Taliban ke puncak kekuasaan di Afganistan. Siapa sosok yang diduga bakal memimpin Emirat Islam itu?

Abdul Ghani Baradar Akhund

Abdul Ghani Baradar Akhund

Ketika 20 tahun petualangan militer AS ambruk dalam sebuah hari dramatis, Minggu (15/08), Abdul Ghani Baradar mengawal pengambilalihan kekuasaan dari Doha, Qatar, menyusul larinya Presiden Ashraf Ghani ke luar negeri.

Salah seorang tokoh pendiri Taliban itu diyakini akan menjadi salah satu pemimpin Emirat Islam Afganistan yang baru dideklarasikan.

Saat ini Haibatullah Akhundzada masih menjadi episentrum pergerakan para talib, sejak pendahulunya, Mullah Mansour Akhtar, tewas dalam serangan udara AS pada 2016. Sebaliknya, Baradar adalah pemimpin politik dan tokoh Taliban yang paling dikenal di dalam dan luar negeri.  

Baradar lahir di Provinsi Uruzgan dan dibesarkan di Kandahar, yang sekaligus menjadi awal mula pergerakan Taliban. Seperti warga Afgan lain, masa kecilnya dibebani oleh pertumpahan darah selama invasi Uni Soviet pada dekade 1970-an, yang ikut mendorongnya mengangkat senjata.

Ketika seisi negeri terjerembab dalam perang antar warlords pasca hengkangnya Uni Soviet, dia membantu saudara iparnya, Mohammad Omar, membuka sebuah pesantren yang mengkampanyekan pembentukan kekhalifahan Islam. Kekuatan Taliban kian menggurita, sampai menyita perhatian dinas rahasia Pakistan, yang lalu membantu Omar merebut kekuasaan pada 1996.

Di periode awal masa keemasan tersebut, Baradar dianggap sebagai ahli strategi yang ulung dan dirayakan sebagai arsitek kejayaan Taliban. Namun, menyusul invasi Amerika Serikat pada 2001, Baradar dikabarkan mendekati Presiden Hamid Karzai untuk menawarkan kesepakatan demi pengakuan Taliban atas pemerintahan bentukan Washington.

Dia akhirnya ditangkap di Pakistan pada 2010 dan dibebaskan atas desakan Presiden AS Donald Trump pada 2018. Saat itu militer AS meyakini Baradar yang cenderung berpandangan moderat bisa memimpin tim negosiasi Taliban. Sejak itu dia hidup di Doha, Qatar, hingga penaklukan Kabul pada 15 Agustus 2021.

Kepemimpinan kolektif Emirat Islam Afganistan

Baradar adalah salah seorang dari tiga penasehat utama Haibatullah Akhundzada, pemimpin spiritual Taliban. Sang mullah selama ini dikenal sebagai tokoh spiritual, ketimbang komandan perang.

Usai diangkat pada 2016 silam, Akhundzada menerima baiat kesetiaan dari pemimpin Al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri yang menjulukinya sebagai "Amir al-Mu'minin." Pengakuan oleh gembong Al-Qaeda itu diyakini menempatkannya dalam posisi elit dalam gerakan jihad dan di antara sekutu-sekutu lama Taliban.

Tonton video 02:25

Putri India, Keturunan Terakhir Kerajaan Afganistan

Sang mullah dianggap berhasil menyatukan kembali gerakan militan yang sempat cerai berai oleh serangan Amerika Serikat dan militer Afganistan itu.

Tokoh lain Taliban yang termasuk paling berpengaruh adalah Sirajuddin Haqqani yang memimpin kelompok teror, Jaringan Haqqani, yang ditakuti. Dia saat ini berstatus wakil pemimpin Taliban dan diakui sebagai salah satu komandan perang paling disegani di Afganistan.

Kelompok Haqqani rajin melancarkan serangan bom bunuh diri, termasuk terhadap sejumlah tokoh kunci di Kabul. Kelompok ini pula yang memimpin serangan Taliban terhadap ibu kota dan menduduki istana negara. Tidak sedikit yang menulis, Haqqani merupakan pasukan elit Taliban.

Namun, ketika Haqqani diyakini akan lebih banyak beroperasi dalam sunyi di dalam negeri, Baradar antara lain bertugas mencari pengakuan internasional. Saat ini Pakistan dan Cina disebut-sebut sebagai dua negara paling dekat dengan Taliban.

"Sekarang adalah ujian sesungguhnya. Sekarang kita harus menunjukkan bahwa kita mampu mengabdi kepada negeri dan menjamin keamanan serta kenyamanan hidup," kata Baradar dalam sebuah pernyataan yang diunggah di media sosial.

rzn/ha (afp, rtr)

Laporan Pilihan