Serangan AS di Somalia Munculkan Kecemasan | dunia | DW | 10.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Serangan AS di Somalia Munculkan Kecemasan

Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap desa Badel. Operasi langsung itu mengejutkan banyak kalangan. Tidak cukupkah kekuatan Ethiopia?

Kapal Induk Amerika untuk serangan di Somalia

Kapal Induk Amerika untuk serangan di Somalia

Di Mogadishu setiap malam masih terdengar suara tembakan. Upaya melucuti kaum milisi dan mengumpulkan senjata yang tersebar dalam masyarakat gagal, walaupun de fakto kelompok milisi Islam sudah dihalau pemerintah Somalia yang didukung Ethiopia. Banyak kaum milisi yang berusaha menyelundup ke negara tetangga Kenya atau bersembunyi di Selatan Somalia. Pesawat intai Amerika Serikat melaporkan, desa Badel merupakan salah satu lokasi persembunyian.

Dapat Memicu Aksi Anti Barat

Walaupun Amerika Serikat secara aktif turut mengupayakan stabilitas di wilayah Tanduk Afrika, operasi langsung itu mengejutkan banyak kalangan. Kepada Deutsche Welle, analis Amerika Serikat untuk masalah teror, Nancy Dahdouh mengatakan:

"Bila kelompok ekstrim merasa bahwa AS terlibat secara langsung, hal itu bisa memcu kekerasan dan mereka akan merusaha menyerang segala hal yang dinilai mendukung kepentingan Barat.“

Sebagai mitra terdekat Amerika Serikat di Afrika, Ethiopia juga mampu melakukan serangan itu. Saat ini Ethiopia memiliki 12.000 tentara di Somalia, termasuk pesawat perang, panser dan artileri berat. Sementara kepada media luar negeri, Menteri Informasi Somalia, Ali Jama mengatakan:

"Ini bukan serangan terhadap Somalia, melainkan terhadap teroris yang menetap secara ilegal di negara kami, teroris yang mengancam seluruh wilayah ini.“

Rangkul Kaum Moderat

Apakah teroris Al Qaida, kaum milisi atau warga sipil yang tewas, masih belum diketahui. Yang pasti ada desakan agar pemerintahan transisi Somalia merangkul kelompok-kelompok Islam yang moderat, kepala-kepala suku dan panglima perang yang bersedia menolak kekerasan dan bekerjasama. Menurut Nancy Dahdouh:

"Saya kira wilayah ini, dibawah IGAD, yaitu Otoritas Pemerintah Internasional untuk Pembangunan, perlu menyiapkan transisi menuju pemerintahan yang lebih terbuka. Tentunya tanpa keikut sertaan kelompok ekstrimis Islam, tapi dengan mengikut sertakan kaum moderat dan kepala suku yang moderat.“

Pembentukan Pasukan Perdamaian Gabungan

Akhir pekan lalu, Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat mengirim pejabat urusan Afrika, Jendayi Frazer, ke Afrika. Tanpa mengunjungi Somalia, Frazer berusaha meyakinkan pemerintahan negara-negara di Afrika, pentingnya pasukan perdamaian gabungan dari negara-negara Afrika. Sampai sekarang baru Uganda yang menjanjikan 1.500 pasukan.

Senin (08/01) lalu, Presiden Transisi Somalia, Abdullahi Yusuf, untuk pertama kalinya menginjak Mogadishu, ibukota Somalia yang selama dua tahun diduduki kelompok milisi Islam. Mogadishu yang saat ini masih dijaga oleh pasukan Ethiopia. Masih belum diketahui apakah nantinya ibukota ini bisa diamankan tentara perdamaian Afrika.
Iklan