Mengganti Mobil dengan Sepeda di Kota yang Padat Penduduk | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 13.11.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Polusi Udara

Mengganti Mobil dengan Sepeda di Kota yang Padat Penduduk

Kairo adalah salah satu kota terbesar di dunia, di mana kemacetan sering terjadi. Di sana aktivis menggalakkan agar warga bersepeda untuk mengurangi polusi dan kemacetan.

Gambar menunjukkan sejumlah besar orang dan mobil di jalanan.

Suasana macet di kota Kairo, Mesir

Di hari kerja biasa, Heba Attia Mousa pergi ke kantor dengan mengendarai sepeda. Di Kairo, jarang tampak orang pergi pulang dengan bersepeda. Apalagi perempuan.

Tapi sebagai ahli tata kota yang bekerja untuk menjadikan Kairo kota yang ramah pesepeda, Heba Mousa merasa normal untuk bersepeda setiap hari. Walaupun kadang perlu sedikit keberanian!

Ia bisa melihat sendiri, bagaimana Kairo perlu banyak perbaikan. “Saya biasanya bersepeda di sisi kanan jalanan. Itulah tempat di mana banyak debu, sampah, dan lubang kanalisasi. Selain itu, jalanan sering rusak.“ Begitu tutur Heba yang bekerja sebagai perencana kawasan perkotaan. “Orang yang naik mobil, tidak menduga akan bertemu pesepeda, dan jika mobil terlalu dekat, itu bisa berbahaya.”

Jalan-jalan di Kairo penuh rintangan bagi pesepeda. Daerah metropolitan Kairo adalah yang terbesar di Afrika. Penduduknya lebih dari 21 juta.

Tonton video 04:05

Bersepeda Solusi bagi Kemacetan dan Polusi di Mesir

Upaya pemerintah atasi kemacetan kurang efektif

Baik pesepeda maupun pejalan kaki, semua perlu tempat. Pemerintah Mesir sudah berusaha keras membuat jembatan dan memperlebar jalan bebas hambatan. Belakangan ini, mereka sudah membuat jaringan jalan sepanjang 7.000 km di seluruh negeri.

Sejak pandemi corona melanda, jumlah pesepeda di ibu kota Mesir itu sudah bertambah sedikit. Mohamed Yousry yang punya toko sepeda mengatakan, sekarang lebih banyak orang berminat beli sepeda.

“Transportasi umum selalu penuh. Dan di masa pandemi, orang ada yang takut bisa terkena virus jika naik transportasi umum,” demikian dijelakan Mohamed Yousry, dan menambahkan, “Jadi mereka lebih suka naik sepeda. Selain itu, penuhnya lalu lintas dan kemacetan di kota membuat orang sadar, sebetulnya dengan bersepeda, perjalanan bisa lancar.”

Grup pesepeda mulai bermunculan

55% perjalanan di Kairo dilakukan orang dengan transportasi umum. Sementara bersepeda dan berjalan kaki hanya 13%. Tapi sekarang, grup pesepeda bermunculan di banyak bagian kota.

Misalnya GOBIKE, yang didirikan pesepeda getol Mohamed Samy. Ide ini didapatnya ketika tinggal di Eropa, di mana dia melihat, banyak orang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama.

Ia mengungkap, “Kami menggerakkan warga untuk mulai bersepeda, karena kami ingin mengurangi jumlah mobil, taksi dan bus di jalanan.”

Untuk seseorang yang melakukan perjalanan 5-6 km, misalnya untuk belanja atau mengunjungi teman, bisa naik sepeda. “Itu lebih baik. Itu juga akan mengurangi kemacetan,” kata aktivis pesepeda itu.

Grup GOBIKE bertemu tiap hari Jumat pagi di sebuah wilayah Kairo. Yang tidak punya sepeda bisa meminjam. Siapa saja boleh bergabung.

Kadang yang bergabung sekitar 30 orang. Mereka bersepeda bersama-sama lebih dari 12 km di jalan-jalan kota Kairo. Sebagian besar perempuan. Ini membuka mata banyak orang di Kairo, bahwa bersepeda bisa jadi aktivitas bagi siapa saja.

Sepeda bukan hanya untuk pria

“Kalau kita punya infrasturktur tepat, dan jalan sepeda yang melindungi kita dari mobil juga rintangan lain, tentu lebih baik lagi. Itu akan sangat membantu saya mengendarai sepeda ke kantor.“ Demikian dikemukakan perencana kawasan perkotaan, Heba Attia Mousa.

Ia mengatakan pula, ia ingin orang terbiasa melihat pesepeda, juga perempuan yang bersepeda. Karena sepeda tidak hanya untuk pria. Perubahan memang sudah dimulai. Tapi jelas jalannya masih panjang. (ml/ts)