Nikmatnya Bersepeda di Jerman, Sampai Berurusan Dengan Birokrasinya Yang Ruwet | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 28.06.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Blog

Nikmatnya Bersepeda di Jerman, Sampai Berurusan Dengan Birokrasinya Yang Ruwet

Nasib buruk bisa terjadi pada siapa pun di mana saja dan kapan saja. Setidaknya hal itu lah yang terjadi pada saya sekitar tujuh bulan yang lalu. Saat itu saya mengalami kecelakaan saat bersepeda. Oleh Yusuf Pamuncak.

Saya, yang merupakan Warga Negara Indonesia yang terbilang baru tinggal di Jerman, memiliki kebiasaan anyar semenjak tinggal di Kota Bonn, yaitu bersepeda. Saya bersepeda ke mana pun dan kapan pun. Selain karena kota-kota di Jerman cukup ramah terhadap para pesepeda, kegiatan ini mampu memberikan saya kesehatan sekaligus kesenangan. Bagaimana tidak, bersepeda bagi saya hal murah yang dapat memberikan pengalaman tersendiri khususnya di Jerman ini. Saat cuaca baik dan Anda bersepeda, Anda dapat rasakan pengalaman seperti bersepeda di tengah bangunan-bangunan tua khas Eropa, padang rumput hingga suasana perkotaan. Belum lagi budaya berkendara di Jerman yang sangat manusiawi. Bisa saya simpulkan bersepeda di sini merupakan hal yang adiktif bagi saya.

Sebagai mahasiswa dan pekerja lepas saya memilih membeli sepeda bekas yang terbilang murah di situs eBay Kleinanzeigen. Dengan merogoh kocek sebesar 60 Euro saya dapat memboyong sepeda gunung amatir yang masih cukup terawat. Begitu sayangnya saya terhadap sepeda berwarna merah yang dapat membawa saya ke berbagai tujuan dengan berbagai kepraktisannya. Pergi ke tempat kerja, ke stasiun kereta untuk melanjutkan perjalanan ke kota Köln di mana kampus saya berada, berbelanja kebutuhan sehari-hari, hingga bermain dengan teman-teman saya lakukan dengan menunggangi sepeda tersebut. Sampai suatu ketika nasib malang yang saya sebutkan di awal kisah ini terjadi pada saya.

Pada pagi hari saat masih gelap gulita di musim dingin yang basah, saya mengalami kecelakaan tunggal. Hari itu hujan turun semalaman. Seperti biasa saya pamit kepada istri dan mencium kening bayi perempuan saya sebelum menggowes sepeda merah andalan ke tempat bekerja. Jaraknya sungguh tidak terlalu jauh. Namun jalanan basah dan licin membawa saya justru ke tempat tujuan lain. Rumah sakit.

Naas di musim hujan

Tempat saya bekerja sebenarnya bisa dibilang tidak terlalu jauh. Sekitar 15 menit hingga 20 menit dapat ditempuh dengan menggunakan sepeda. Banyak rute menuju tempat tersebut dan saya memilih rute yang menurut Google Maps paling singkat. Kerutinan dengan bersepeda ke tempat kerja sangat saya gemari, dengan waktu berangkat yang selalu sama, durasi tempuh yang sama, kecepatan normal yang sama dan rute yang sama. Yang membedakan saat kejadian nahas tersebut terjadi hanya lah jalanan yang basah dan nasib buruk tentunya.  Memang bersepeda saat hujan bukan kali pertama saya alami. Namun saat itu hujan berlangsung lama dan membuat jalanan sangat basah.

Roda sepeda saya masuk ke jalur tram dan membuat saya membanting badan jatuh dari sepeda. Sialnya saya mendarat tepat di sikut tangan kanan saya. Saat saya jatuh saya tidak merasakan sakit luar biasa pada bagian mana pun di tubuh saya. Supir bus yang melihat kejadian tersebut dari seberang jalan menanyakan kondisi saya dan menawarkan apakah saya membutuhkan ambulans dari jendela bagian setir bus. Namun hitungan detik setelah saya terkapar jatuh, saya dapat berdiri tegak, membawa sepeda saya ke pinggir jalan sambil menjawab supir bus tersebut, "alles gut!” (semua baik-baik saja!). Satu hal yang saya rasakan yaitu saya tidak bisa membolak-balikkan tangan kanan saya. Saat kejadian tanggal 24 Desember 2018 tersebut, sebagian orang sudah libur Natal sehingga kondisi jalan yang biasa dilalui banyak kendaraan itu tergolong sepi.

Singkat cerita kecelakaan tersebut membawa saya ke rumah sakit Sankt Petrus dengan mengantongi izin untuk tidak bekerja pada hari itu. Beberapa hal awal yang ditanyakan suster penerima pasien kepada saya adalah "Ke mana tujuan Anda bersepeda?”. Begitu banyak pertanyaan yang dilemparkan suster tersebut hingga memakan waktu sekitar 10 menit. Menurut saya pertanyaannya pun terdengar sedikit menginvestigasi, seperti jam berapa tepatnya kejadian, di mana lokasi tepatnya kejadian, apakah ada saksi mata, apakah ada pihak lain yang terlibat kecelakaan dan lain sebagainya. Ternyata hal tersebut dilakukan guna memutuskan asuransi apakah yang akan membiayai pengobatan selama saya dirawat di rumah sakit, apakah asuransi kesehatan yang normalnya diwajibkan kepada setiap individu di Jerman atau asuransi kecelakaan kerja yang belakangan baru saya ketahui keberadaannya.

Bonn | Blogfotos zu Fahrradunfall und Krankenhausaufenthalt in Bonn (DW/Y. Pamuntjak)

Ditemani istri di rumah sakit di Bonn

Berurusan dengan asuransi

Karena saya bersepeda dalam tujuan untuk bekerja, rumah sakit memutuskan asuransi kecelakaan kerja yang akan membiayai kebutuhan saya dalam perawatan medis. Die Verwaltungs-Berufsgenossenschaft (VBG) merupakan asuransi kecelakaan kerja yang diikuti perusahaan tempat saya bekerja. Beberapa formulir yang tidak sedikit juga harus saya isi. Dengan kondisi tangan kanan saya yang tidak bisa bergerak tentu istri saya membantu saya mengemban tugas tersebut. Birokrasi Jerman yang terkenal rumit dan berbelit ternyata dapat ditemukan dimana-mana, bahkan dalam kondisi yang termasuk darurat sekali pun.

Siang itu di hari yang sama saya mendapatkan operasi patah tulang. Tulang siku saya patah dan memerlukan beberapa metal untuk menyambungnya kembali. Hasil konsultasi dengan dokter, patah tulang yang saya alami cukup rumit akibat lokasinya yang berada dekat dengan sendi. Alhasil penyembuhannya pun akan memakan waktu yang cukup lama.

Beberapa hari setelah operasi serta perawatan lalu saya diizinkan pulang. Namun ternyata  surat pun berdatangan ke rumah dari asuransi kecelakaan kerja VBG yang terpilih sebagai pembiaya perawatan medis saya. Formulir sebanyak lebih kurang 50 halaman harus saya isi untuk kebutuhan data kecelakaan. Dengan keadaan tangan kanan saya dibungkus gips, lagi-lagi saya beserta istri harus bekerja sama mengisi formulir yang pertanyaannya sangat menyelidik. Pertanyaan yang menyelidik itu contohnya, "mengapa Anda mengambil jalur tersebut saat bersepeda? Berapa kecepatan Anda bersepeda? Berapa jarak serta waktu tempuh yang Anda butuhkan untuk sampai ke tempat tujuan?” dan masih banyak lagi pertanyaan dan penjelasan berpuluh lembar yang sangat sukar saya ingat. Yang paling unik adalah permintaan perusahaan tersebut untuk menggambarkan peta di atas kertas selembar tentang lokasi rumah saya, tempat saya bekerja dan tempat saya mengalami kecelakaan.

Bonn | Blogfotos zu Fahrradunfall und Krankenhausaufenthalt in Bonn (DW/Y. Pamuntjak)

Naik sepeda di Jerman cukup nyaman, tapi hati-hati ketika hujan atau musim salju..

Berbulan-bulan setelah kejadian kecelakaan tersebut, saya masih mendapatkan perawatan dan terus dikontrol oleh dokter. Saat ini saya sedang menjalani fisioterapi untuk mengembalikan struktur tulang, otot dan sendi ke kondisi semula. Surat, formulir, serta pertanyaan birokratif seputar perkembangan medis masih kerap saya dapatkan. Sampai saat ini pula saya belum pernah mengeluarkan uang sepersen pun untuk perawatan medis, semua ditanggung oleh asuransi secara sangat profesional. Benar ternyata birokrasi Jerman yang sudah tersohor dimana-mana itu. Saya teringat ucapan salah satu kolega di kantor. "Menghadapi birokrasi Jerman itu bagaikan membuka kotak hadiah yang memiliki gembok bertingkat-tingkat. Saat sudah mendapatkan hadiahnya semua akan terbayar” katanya. Saya berharap tangan kanan saya akan segera pulih seperti sedia kala dengan segala profesionalitas dan tanggung jawab tenaga medis serta penyedia asuransi. Mungkin itu hadiah yang pantas saya dapatkan setelah khatam menghadapi birokrasi Jerman dalam keadaan darurat.

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri.