Saingan Karzai Sebut Hasil Pemilu Ilegal | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 09.09.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Saingan Karzai Sebut Hasil Pemilu Ilegal

Komisi Independen Pemilu Afghanistan mengumumkan Hamid Karzai memenangkan pemilihan presiden dengan lebih dari 50% suara. Rival terkuat Karzai, menyebut hasil itu ilegal. PBB menuntut penghitungan ulang di 600 TPS.

Poster Presiden Hamid Karzai di Kabul.

Poster Presiden Hamid Karzai di Kabul.

Mantan Menlu Abdullah Abdullah, saingan utama Karzai, menyebut hasil itu sebagai ilegal. Ia mengatakan, kecurangan dalam skala besar akan menyebabkan kerusakan abadi bagi Afghanistan.

Abdullah menduduki tempat kedua dalam hasil penghitungan 90% lebih TPS yang diumumkan Komisi Independen Pemilu, IEC, Selasa kemarin (09/09). Ia mengantongi 28% suara. Sementara Hamid Karzai unggul dengan 54% suara.

Namun pada hari yang sama, Komisi Pengawas Pemilu, EEC, mengumumkan telah menemukan bukti kecurangan yang jelas dan meyakinkan. Karenanya badan yang didukung PBB itu menuntut agar suara dari lebih 600 TPS tidak dihitung dahulu.

Grant Kippen, ketua Komisi Pengawas mengatakan, "Keputusan ini kami ambil berdasarkan sejumlah penyelidikan dimana kami menemukan bukti jelas adanya ketidakberesan yang terjadi di TPS dan kotak suara."

PBB menuntut agar dilakukan penghitungan ulang di daerah-daerah pemilihan yang diperselisihkan.

Alim Seddiqi, juru bicara PBB di Afghanistan mengatakan, "Integritas hasil pemilu ini merupakan sepenuhnya kepentingan Afghanistan dan mitra-mitra internasionalnya."

Juru bicara Komisi Independen Pemilu, IEC, Noor Mohammad Noor mengatakan, penghitungan sisa 10% suara akan dilanjutkan. Hasilnya diumumkan Sabtu pekan ini. Setelah itu barulah IEC akan memeriksa TPS-TPS yang oleh komisi pengawas pemilu dicurigai terdapat kecurangan.

Hasil akhir tidak akan diumumkan sebelum pemeriksaan selesai. Namun IEC sudah menjadwalkan tanggal 17 September untuk mengumumkan hasil akhir pemilihan presiden.

AS mengatakan, butuh waktu berbulan-bulan untuk menetapkan hasil pemilu Afghanistan yang dinodai tuduhan kecurangan. Juru bicara Departemen Luar Negeri Ian Kelly mengatakan, boleh saja orang berpendapat semuanya bisa diselesaikan September ini, tetapi yang lebih penting, pihak berwenang di Afghanistan harus melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menjamin bahwa semua tuduhan serius ditanggapi dengan semestinya.

Hamid Karzai menyambut pengumuman IEC. Ia memuji para staf atas semangat tidak memihak yang mereka tunjukkan dalam menjalankan tugas. Ia juga memuji rakyat Afghanistan yang berani atas partisipasi luas dan tak kenal takut dalam pemilihan presiden dan pemilu daerah.

Keamanan akan tetap merupakan tugas terbesar presiden Hamid Karzai dalam masa jabatannya yang kedua. banyak pihak mengkritik Kabul dan pasukan internasional ISAF tidak serius menanggapi menguatnya kembali Taliban dan Al Kaeda.

Rabu ini (09/09) pasukan NATO membebaskan seorang reporter harian New York Times yang ditawan Taliban. Stephen Farrel, berkewarganegaraan ganda Inggris-Irlandia, dan penerjemahnya dari Afghanistan Sultan Munadi, diculik Sabtu lalu saat meliput buntut serangan udara NATO terhadap truk tangki yang menewaskan puluhan orang.

Tembak menembak terjadi antara NATO dan Taliban. Seorang tentara Inggris dilpaorkan tewas dalam operasi pembebasan. Munadi juga tewas terkena peluru Taliban sementara Farrel selamat. Mereka adalah tim kedua dari New York Times yang diculik di Afghanistan dalam kurun waktu kurang dari setahun.

Penculikan mereka mengggaris-bawahi meningkatnya ketidakamanan di wilayah utara Afganistan, berada di bawah pengawasan militer Jerman, yang dulu dikenal relatif tenang.

RP/HP/afp/dpa/rtr