Rusia Ancam Serang Pangkalan Anti Rudal AS | Fokus | DW | 23.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Rusia Ancam Serang Pangkalan Anti Rudal AS

Akhir-akhir ini Eropa dibuat ketar-ketir atas rencana Amerika Serikat yang ingin membangun sistem anti rudal di Polandia dan Ceko. Pasalnya komandan Strategi Angkatan Bersenjata Rusia Nikolai Solovzov mengancam akan mengarahkan rudal jarak menengahnya ke pangkalan anti rudal di Polandia dan Ceko tersebut.

Kegiatan uji coba anti peluru kendali Amerika

Kegiatan uji coba anti peluru kendali Amerika

"Rusia bukan tujuan kami!“ Begitulah tukas Kepala Bidang Urusan Eropa dan Eurasia Kementerian Luar Negeri Daniel Fried dalam sebuah jumpa pers di Washington. Kalimat yang sama tak luput terucap dari mulut Kepala Dinas Anti Rudal Angkatan Bersenjata Jenderal Henry Obering.

Fried dan Obering bukan tidak tahu, ancaman apa yang sedang disiapkan Rusia terhadap rencana Amerika. Kedua petinggi AS itu bukanya tidak punya alasan yang kuat. 54 rudal yang disiapkan Amerika Serikat di beberapa stasiun anti rudalnya itu terlalu kecil untuk menghalau ratusan rudal milik Rusia yang bisa diluncurkan kapan saja.

Sepuluh dari 54 rudal Amerika Serikat itu akan ditempatkan di pangkalan anti rudal di Eropa. Rudal-rudal tersebut memiliki kekuatan besar dalam meledakkan rudal yang tengah melayang tinggi. Lagian rudal yang akan ditempatkan itu tidak menggunakan tenaga nuklir. Itu berarti tidak dapat digunakan untuk menyerang.

Jadi tak heran kalau Daniel Fried kaget mendengar reaksi Rusia, „Kami memiliki hubungan yang rumit dengan Rusia. Kami bekerja sama di beberapa bidang, kami ingin memiliki hubungan yang lebih dekat dan bekerja sama di lebih banyak bidang dengan Rusia tapi kami juga memiliki perbedaan pendapat dengan Rusia. Tapi Amerika Serikat berusaha bekerja sama dengan Rusia semampu kami dan mengatasi perbedaan pendapat yang mungkin terjadi.“

Jenderal Obering mengatakan dirinya selalu memberikan informasi rencana program anti rudal tersebut kepada sekutu Amerika Serikat dan Rusia:

"Saya sendiri yang memberitahukan NATO dan saya sendiri yang menyampaikan informasi mengenai hal tersebut kepada perwakilan Rusia NATO di Brussel, saya berada di Moskow dan bertemu dengan Kepala Staf Jenderal Baluyevski, saya juga bertemu dengan Menteri Pertahanan Ivanov. Kami sudah menjelaskan kepada mereka apa yang kami lakukan. Kami juga telah berbicara empat mata dengan banyak perwakilan negara NATO. Kami bersikap terbuka dan transparan.“

Amerika sendiri beralasan untuk menghalau kemungkinan serangan Iran atau Korea Utara. Menurut Obering, segala kemungkinan harus diantisipasi karena perkiraan tidak dapat diperhitungkan hanya dari apa yang telah terjadi:

"Di tahun 1998 para pakar di seluruh dunia mengatakan Korea Utara tidak akan mampu untuk mengembangkan rudal jarak jauh. Tapi dalam beberapa bulan saja mereka berhasil melakukannya. Korea Utara melakukan uji coba rudal tiga tahap melewati Jepang dan telah mengagetkan banyak pakar.“

Sistem anti rudal Amerika Serikat dianggap sebagai kontribusi Amerika Serikat untuk Eropa. Polandia dan Ceko dipillih sebagai lokasi stasiun anti rudal untuk melingkupi wilayah luas dan menghindari tumpang tindih sistem yang sudah diterapkan Amerika Serikat. Untuk itu pulalah Obering menyatakan sebagian wilayah Rusia dapat dilindungi. Obering udah menyatakan hal tersebut kepada Rusia. Jenderal Obering tidak ingin menjawab bagaimana reaksi Rusia atas tawaran Amerika Serikat tersebut.

Obering juga menanggapi kekhawatiran warga Polandia dan Ceko dengan menyatakan dirinya memiliki kewajiban moral untuk melindungi warga dari segala kemungkinan serangan. Karena jika negara seperti Iran menyerang Amerika Serikat maka kemungkinan besar juga akan menyerang Eropa, baik yang memang diarahkan mau pun yang salah sasaran. Untuk itu Obering mengatakan:

"Kami yakin warga Polandia dan Ceko tak perlu takut terhadap sistem anti rudal kami. Sebaliknya, mereka semestinya senang karena kami yakin cepat atau lambat dalam ancaman Timur Tengah.”

Obering juga menepis kekhawatiran akan adanya ceceran bahan peledak di sekitar stasiun. Rudal tersebut panjangnya sekitar 20 sentimeter dan tidak akan membahayakan manusia. Efeknya tidak sama dengan efek yang ditimbulkan bila rudal itu menembak rudal yang lebih besar. Daya radiasi sistem pelacak rudal juga tidak berbahaya. Saat ini Amerika sedang melakukan pembicaraan dengan Polandia dan Ceko mengenai syarat pembangunan penyimpanan rudal bawah tanah dan radar pelacak rudal.