Ruhana Kuddus, Jurnalis Perempuan Pertama yang Jadi Pahlawan Nasional | KOLOM: Bersama berdialog untuk mencapai pemahaman | DW | 07.03.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

kolom

Ruhana Kuddus, Jurnalis Perempuan Pertama yang Jadi Pahlawan Nasional

Ruhana Kuddus adalah salah satu tokoh pers perempuan pertama Indonesia yang juga berpengaruh dalam usaha kemajuan perempuan Indonesia. Simak kisahnya dalam opini Rahadian Rundjan.

Rohana Kudus

Ruhana Kuddus , pahlawan nasional

Penganugerahan gelar pahlawan nasional terhadap tokoh-tokoh yang dianggap berjasa besar dalam sejarah Indonesia dewasa ini sebenarnya mulai terasa klise dan cenderung bernuansa seremonial, atau bahkan proyek tahunan, semata.

Namun setidaknya nama-nama baru yang telah terpilih layak untuk diapresiasi publik. Melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 120/TK Tahun 2019 tanggal 7 November 2019, Presiden Jokowi kembali menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh yang dianggap berjasa bagi bangsa dan negara.

Nama-nama tersebut adalah Abdul Kahar Mudzakkir, Alexander Andries (AA) Maramis, K.H. Masykur, Prof. Dr. M. Sardjito, Sultan Himayatuddin, dan Ruhana Kuddus (Rohana Kudus). Nama terakhir cukup menarik untuk diperhatikan karena Ruhana Kuddus adalah salah satu tokoh pers perempuan pertama Indonesia yang juga berpengaruh dalam usaha kemajuan perempuan Indonesia, khususnya di Sumatra Barat, pada masa Politik Etis.

Ruhana berjuang melawan pakem zamannya kala itu; yakni dominasi laki-laki dalam dunia profesi jurnalistik, pendidikan modern, dan komunitas masyarakat yang konservatif.

Pada esensinya, Ruhana tidak terlahir dari keluarga yang kekurangan. Ruhana, lahir di Kota Gadang pada 20 Desember 1884, sudah memiliki privilese berupa modal sosial-ekonomi yang cukup mapan. Ayahnya, Mohamad Rasjad, adalah seorang jaksa dan walau ia tidak menyekolahkan anaknya secara formal, Ruhana lekas terpapar dengan hal-hal modern akibat terpengaruh ayahnya. Ruhana sudah ahli membaca dan menyulam sejak kecil.

Namun, sebagaimana sejarah kemudian memperlihatkan, bakat Ruhana dalam merajut kata-kata agaknya lebih hebat dari sekadar merajut benang.

Rahadian Rundjan

Penulis: Rahadian Rundjan

Soenting Melajoe dan Wadah Ekspresi Perempuan

Selain kegemaran menjahit kostum untuk acara-acara teater di desanya, Ruhana tercatat juga gemar mengajari kawan-kawan sebayanya untuk membaca dan menulis. Ruhana menikah dengan seorang notaris publik bernama Abdul Kuddus pada 1908 di usia 24 tahun. Pernikahan justru tidak menyurutkan ambisinya untuk memajukan perempuan.

Pada tahun 1911 ia mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia di Kota Gadang dan ikut membantu dalam pendirian Vereenigingen Studiefonds, semacam lembaga penyandang dana untuk membantu anak-anak Kota Gadang bersekolah.

Ruhana dan murid-muridnya membuat kerajinan-kerajinan khas Minangkabau seperti sarung, selendang, dan syal, dan dikabarkan bahwa orang-orang Eropa kerap datang ke Kota Gadang hanya untuk membeli produk-produk kerajinan Ruhana.

Produk-produk Ruhana bahkan sampai diekspor ke Eropa dan dapat ditemukan di Bon Marche, salah satu pasar swalayan modern ternama di Paris, Prancis. Asisten Residen Belanda, L.C. Westenenk, bahkan sempat memintanya berpartisipasi dalam pameran perempuan di Brussels, Belgia; walau Ruhana tidak jadi berangkat karena mertuanya tidak mengizinkan.

Pada saat itu Hindia Belanda telah cukup kokoh berdiri sebagai sebuah kesatuan unit politik dan memungkinkan terjadi pertukaran gagasan lintas budaya. Tren koran-koran dan terbitan-terbitan yang ditujukan untuk orang-orang pribumi sebagaimana yang ramai di Jawa juga merambah Sumatra dan membangkitkan satu generasi muda tercerahkan baru yang kemudian menjadi bibit-bibit pergerakan Indonesia, dan Ruhana adalah salah satunya.

Mungkin satu hal yang masih amat jarang di kalangan perempuan saat itu adalah kuatnya minat seorang Ruhana terhadap dunia jurnalistik. Sebagai seorang perempuan Minangkabau, Ruhana juga terekspos dengan budaya rantau dan meski ia tidak bepergian jauh, namun pikirannya sudah melanglang buana; ia amat tertarik untuk menyerap dan mengekspresikan gagasan-gagasannya kepada orang lain.

Dalam banyak kesempatan Ruhana kerap dibanding-bandingkan dengan Kartini, tokoh emansipasi perempuan Jawa yang surat-suratnya kemudian dipublikasikan oleh Belanda sebagai contoh kemajuan perempuan di tanah jajahan. Namun Ruhana menjadi berbeda karena ia menggunakan terbitannya, Soenting Melajoe, sebagai corong yang lebih independen dan partisipatif terhadap opini-opini perempuan pribumi lain, berbeda dengan Kartini yang lebih banyak hanya berinteraksi dengan kawan-kawan Eropanya.

Persentuhan pertama Ruhana dengan dunia jurnalistik agaknya terjadi kala ia menjadi kontributor untuk Poetri Hindia, koran perempuan yang diterbitkan oleh Tirto Adhi Soerjo di Batavia. Ketika koran tersebut harus tutup akibat dibredel pemerintah kolonial, Ruhana memutuskan untuk menjalankan terbitannya sendiri. Ia kemudian bertemu dengan Datuk Sutan Maharaja, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe yang juga tokoh perintis pers Melayu. Ruhana, bersama anak Sutan Maharaja, Zubaidah Ratna Juita, dipercaya untuk mengelola Soenting Melajoe sebagai terbitan yang lahir, dikelola, dan dipersembahkan untuk pembaca perempuan.

Kelahiran Soenting Melajoe pada 1912 menandakan babakan baru pergerakan dan akselerasi kemajuan perempuan Indonesia. Terbit seminggu sekali, Soenting Melajoe memuat tulisan-tulisan mengenai isu-isu kemajuan perempuan, biografi-biografi perempuan berpengaruh, dan berita-berita dari luar negeri. Sirkulasinya hampir di seluruh Sumatra dan Jawa, dan juga berhasil menarik simpati kaum laki-laki terhadap gerakan perempuan. Soenting Melajoe terbit selama sembilan tahun, hingga tahun 1921.

Seperti  halnya Poetri Hindia di Jawa, para koresponden dan kontributor Soenting Melajoe kebanyakan adalah istri-istri pejabat pemerintahan atau aristokrat. Bedanya, Soenting Melajoe juga menerima tulisan-tulisan dari siswi-siswi sekolah di sekitar Sumatra Barat seperti Payakumbuh dan Pariaman. Mereka kerap mengkritik budaya patriarki yang saat itu begitu kental di Sumatra Barat, seperti nikah paksa di bawah umur, poligami, dan pengekangan perempuan terhadap akses-akses ekonomi.

Salah satunya adalah Marni yang pada terbitan 3 April 1913 menulis bagaimana saudara laki-lakinya melarang dirinya untuk bekerja sebagai juru tulis di Padang padahal ia sudah diterima bekerja, dan kemudian meminta dukungan kepada pembaca untuk bersimpati terhadapnya. Di bawah asuhan Ruhana, Soenting Melajoe menjadi semacam corong pengetahuan dan emosional kaum perempuan yang selama ini begitu kesulitan menyampaikan pendapatnya akibat terkungkung dominasi laki-laki, baik di ranah privat maupun publik.

Ruhana sendiri memang terpikat dengan kemajuan perempuan-perempuan Eropa. Sejarawan Rudolf Mrazek menulis bahwa Ruhana pernah menulis daftar sepuluh perempuan paling cantik dalam sejarah untuk Soenting Melajoe yang isinya tidak hanya melihat perempuan sekadar dari kecantikan namun juga peran besarnya di zamannya masing-masing, seperti Cleopatra, Elizabeth dari Inggris, Madame de Pompadour, dan lain-lain. Hal ini juga menunjukkan bahwa baginya sejarah menunjukkan bahwa perempuan pantas untuk dipandang setara dan mampu menjalankan peran yang tak kalah dengan laki-laki.

Kemajuan Sebagai Kunci

Selepas meninggalkan Soenting Melajoe, pengaruh Ruhana masih begitu terasa dalam dunia pers. Ketika pada 1920 ia pindah ke Medan, Ruhana mengelola koran Perempuan Bergerak bersama jurnalis tersohor setempat, Pardede Harahap. Dan sekembalinya ke Padang ia mengelola Radio dan Cahaya Sumatra. Sepak terjang Ruhana memberi jalan kepada generasi-generasi jurnalis perempuan selanjutnya seperti SK Trimurti, Herawati Diah, Toety Azis, Gadis Rasyid, dan lain-lain. Dalam beberapa kesempatan, ia dinobatkan sebagai jurnalis perempuan atau wartawati pertama Indonesia; titel yang memang layak untuk disematkan.

Jika ada satu hal yang dapat dipelajari dari sepak terjang seorang Ruhana untuk masa kini, maka itu adalah pentingnya jurnalisme sebagai wadah ekspresi dari penindasan. Pemerintah seharusnya memberikan akses sebesar-besarnya bagi orang-orang yang bekerja di dunia jurnalistik, mulai dari kebebasan mendapatkan informasi sampai jaminan penghasilan yang memadai, khususnya bagi jurnalis-jurnalis perempuan.

Ini juga membuktikan bahwa meski baru sebentar mengenal pendidikan modern, perempuan-perempuan Minangkabau sudah mampu mengekspresikan ide-ide progresifnya. Fenomena Soenting Melajoe adalah gejala dari pergulatan gagasan lebih besar yang tengah melanda Sumatra Barat kala itu, ketika kaum adat-tradisionalis berseteru dengan kaum muda-progresif dalam menemukan bentuk wajah masyarakat Minangkabau di tengah-tengah pengaruh modernisasi Eropa. Ruhana selaku pemimpin redaksinya menjadi tokoh kunci kubu muda-progresif juga pejuang-perintis feminisme, jurnalisme, bahkan profesionalisme perempuan dalam sejarah Indonesia.

@RahadianRundjan adalah esais, kolumnis, penulis dan peneliti sejarah

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia menjadi tanggung jawab penulis

*Silakan berbagi komentar pada kolom di bawah ini. Terima kasih.