1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KesehatanKorea Selatan

‘Resign Massal‘ Ribuan Dokter di Korsel Terancam Ditangkap

29 Februari 2024

Pemerintah Korea Selatan meminta ribuan dokter yang melakukan aksi pengunduran diri massal untuk kembali bekerja demi pasien. Pemerintah memberikan tenggat waktu hingga Kamis (29/02).

https://p.dw.com/p/4d0Gi
Dokter di Korea Selatan melakukan aksi unjuk rasa menentang rencana reformasi pemerintah di bidang kesehatan, Kamis (22/02/24).
Dokter di Korea Selatan berunjuk rasa menentang rencana reformasi pemerintah di bidang kesehatan, Kamis (22/02/24).Foto: Ahn Young-joon/AP Photo/picture alliance

Hampir 10.000 dokter muda atau sekitar 80% dokter residen di Korea Selatan menyerahkan pemberitahuan pengunduran diri dan meninggalkan pekerjaan mereka pekan lalu.

Hal itu mereka lakukan untuk memprotes rencana pemerintah yang ingin meningkatkan penerimaan sekolah kedokteran secara drastis guna mengatasi kekurangan tenaga kerja di tengah masyarakat yang semakin menua.

Korea Selatan memang merupakan salah satu negara dengan rasio dokter-pasien terendah di antara negara-negara maju, dan pemerintahnya saat ini berusaha keras untuk menerima 2.000 mahasiswa/i lagi di sekolah kedokteran setiap tahunnya mulai tahun depan.

Menurut para dokter, rencana pemerintah tersebut akan merusak kualitas layanan kesehatan di Korea Selatan.

Sementara, para pendukung rencana tersebut mengatakan para dokter sangat khawatir bahwa reformasi tersebut dapat mengikis gaji dan status sosial mereka.

Aksi pengunduran diri massal oleh para dokter muda di Korea Selatan ini telah membuat banyak operasi, kemoterapi, dan operasi caesar batal dan tertunda, membuat pemerintah terpaksa meningkatkan status waspada kesehatan masyarakat ke level tertinggi.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru! 

Ancaman penangkapan dan pembekuan izin praktik

Berdasarkan Undang-undang di Korea Selatan, dokter dilarang melakukan aksi mogok kerja, dan pemerintah telah mengancam akan melakukan penangkapan dan penangguhan izin praktik bagi para dokter yang menolak kembali bekerja hingga batas akhir pada Kamis (29/02).

"Jika para dokter muda kembali bekerja hari ini, kami tidak akan meminta pertanggungjawaban mereka,” kata Menteri Kesehatan Korea Selatan Cho Kyoo-hong, dalam wawancara dengan radio lokal SBS pada Kamis (29/02) pagi waktu setempat.

Menurut Cho, beberapa dokter residen yang mengikuti aksi mogok kerja itu telah kembali bekerja di rumah sakit mereka masing-masing. Namun, ia mengakui bahwa para dokter yang kembali bekerja "belum terwujud dalam skala penuh.”

 "Karena hari ini adalah batas terakhir bagi para dokter untuk kembali bekerja, saya memohon kepada mereka kembali lah untuk para pasien,” kata Cho.

Sebelumnya pada Selasa (27/02), Kementerian Kesehatan Korea Selatan telah meminta agar polisi meluncurkan penyelidikan terhadap orang-orang yang terkait dengan aksi mogok kerja tersebut, termasuk lima orang yang terkait dengan Asosiasi Medis Korea (KMA).

Didukung mayoritas masyarakat Korea Selatan

Cho mengatakan pemerintah Korea Selatan tetap berkomitmen terhadap rencana reformasinya di bidang kesehatan, di mana penerimaan sekolah kedokteran akan ditingkatkan sebesar 65%, dengan alasan kelangkaaan tenaga medis profesional dan krisis demografi.

"Jika kita mengurangi cakupan (peningkatan penerimaan dokter) … hal ini akan menunda penyediaan tenaga medis yang dibutuhkan,” ujarnya.

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa 75% masyarakat Korea Selatan mendukung rencana reformasi tersebut. Presiden Yoon Suk Yeol, yang telah mengambil tindakan keras terhadap para dokter yang melakukan mogok kerja, mendapatkan peningkatan terhadap angka persetujuan terhadap dirinya menjelang pemilihan legislatif pada April mendatang.

gtp/pkp (AFP)