Reaksi AS Akan Penarikan Pasukan Inggris di Irak | dunia | DW | 22.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Reaksi AS Akan Penarikan Pasukan Inggris di Irak

Presiden Bush telah diperingatkan sebelumnya. Meurut berita yang ada, Tony Blair telah memberitahu gedung putih semenjak hari Selasa mengenai rencana untuk menarik pasukan Inggris dari Irak selatan.

Pasukan Inggris di Basra

Pasukan Inggris di Basra

Gordon Johndroe, juru bicara dewan keamanan nasional dalam pernyataan tertulisnya mengatakan, „Presiden memandang keputusan ini sebagai tanda keberhasilan di Irak. Inggris tetap akan memiliki pasukan kuat di Irak. Kami senang mendengar bahwa situasi di Basra telah membaik dan tentara Inggris dapat mengalihkan tanggung jawab ke warga Irak sendiri.“

Sikap tenang yang demonstratif juga ditunjukkan oleh Wakil Presiden Dick Cheney. Ia tengah berada di Jepang saat ia memberikan komentarnya di salah satu stasiun televisi Amerika. Cheney kembali mengatakan, penarikan pasukan Inggris berarti bahwa situasi di beberapa wilayah Irak telah membaik. Di Berlin, Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice membantah anggapan bahwa koalisi yang ada mulai berbeda arah.

„Koalisi tetap ada. Dari awal sudah jelas bahwa dengan semakin bertambahnya kemampuan warga Irak untuk mengamankan wilayah mereka sendiri, semakin sedikit pasukan koalisi yang diperlukan.“

Namun, tidak semua pihak di Amerika Serikat melihatnya sebagai positif. Senator Ted Kennedy berbicara mewakili Partai Demokrat mengatakan keputusan Blair menarik pasukan adalah penolakan yang jelas akan politik Irak dengan penuh resiko yang dijalankan oleh Presiden Bush. Masih menurut Kennedy, setelah 18 negara lain juga menarik pasukannya, seharusnya gedung putih mulai mengambil sikap. Pakar militer Jon Alterman dari institut penelitian kebijakan luar negeri, memiliki pendapat yang hampir sama.

„Ini semua murni menjadi perang Amerika saja atau lebih tepatnya, Amerika langsung terlibat dalam perang saudara di Irak. Karena itu, Inggris berusaha untuk keluar dari kemelut itu. Mereka tidak melihat kemungkinan untuk memenangkan suatu perang saudara, apalagi sebagai pihak luar. Mereka berpendapat bahwa mereka tidak seharusnya berada disana.“

Kini Presiden Bush masih bertahan dengan politik Iraknya. 21500 tentara tambahan dikirimkan ke Bagdad. Namun, keraguan akan kebenaran langkah tersebut semakin bertambah, begitu juga halnya dengan kekhawatiran akan situasi di Irak selatan. Karena jika setelah penarikan pasukan Inggris keadaan disana kembali memanas, maka ini adalah masalah tambahan bagi Amerika Serikat.
Iklan