1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Coronavirus Indonesien Jakarta Shopping Center
Foto: picture-alliance/AP Photo/T. Syuflana
EkonomiAsia

Pulihkan Resesi, Kelas Menengah Diminta Jangan Pelit Belanja

Detik News
9 November 2020

Warga kelas menengah ke atas diminta tidak terlalu pelit belanja guna membantu pertumbuhan ekonomi RI. Dalam situasi resesi, bila kelas menengah terlalu berhemat, ekonomi akan jatuh ke dalam depresi.

https://www.dw.com/id/pulihkan-resesi-kelas-menengah-diminta-jangan-pelit-belanja/a-55539169

Selama pandemi COVID-19, jumlah tabungan masyarakat kelas menengah ke atas di perbankan tumbuh pesat sedangkan jumlah kredit turun. Jumlah tabungan mereka, menurut Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (Komite PC-PEN), Raden Pardede, hampir Rp 300 triliun.

"Itu karena mereka tidak berbelanja barang konsumsi maupun berinvestasi. Mereka sepertinya menunggu sampai pandemi bisa diatasi," kata Raden Pardede, Jumat (6/11/2020).

Tapi melihat kecenderungannya ke depan, mereka akan mulai berani ke luar rumah dan membelanjakan uangnya. Apalagi bila vaksin corona sudah benar-benar teruji keamanan dan khasiatnya. Mantan konsultan Bank Dunia dan Asia Development Bank itu lantas merujuk ekonom Inggris, John Maynard Keynes, bahwa dalam situasi resesi kalau kelas menengah terlalu berhemat perekonomian nasional akan jatuh pada depresi.

"Jadi, kami imbau kelompok kelas menengah atas ini jangan terlalu berhemat, bahaya. Bersikap lah rasional dan dengan mematuhi protokol kesehatan aktivitas belanja dan wisata bisa dilakukan kok," kata Raden Pardede.

Di sisi lain, dia memastikan pemerintah akan melanjutkan berbagai program perlindungan sosial agar di kuartal IV pertumbuhan ekonomi bisa lebih baik dari kuartal III yang minus 3,49%. Khusus untuk UMKM, selain sudah ada bantuan sosial produktif, juga ada Kredit Usaha Rakyat, dan program lainnya.

"Sampai akhir Oktober serapan anggaran Covid sudah 86-87 persen, dan serapan belanja pemerintah bisa 100 persen pada akhir 2020," kata Raden Pardede.

Pada bagian lain, mantan Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset dan Ketua Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Indonesia itu juga menyampaikan pandangan terkait pilpres di AS, rencana vaksinasi, hingga kaitan UU Cipta Kerja dan pertumbuhan UMKM di tanah air. 

Benarkah ekonomi RI masih lebih baik dari negara-negara lain?

Ekonomi Indonesia masuk resesi setelah pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 kembali terkontraksi -3,49%. Meski begitu, pemerintah selalu menekankan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara lain. Benarkah itu?

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Tauhid mengatakan, torehan pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 sejatinya lebih tinggi dari perkiraan pemerintah. Pemerintah sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi III-2020 terkoreksi -3%.

"Ini jadi pertanyaan bahwa apa yang diperkirakan, yang disampaikan kenyataannya jauh lebih buruk. Itu jadi pertanda banyak sikap optimisme yang saya kira harus melihat lebih realistis lagi," ucapnya dalam acara konferensi pers online INDEF, Minggu (8/11/2020).

Ahmad kemudian menelusuri apakah benar kondisi ekonomi Indonesia yang saat ini resesi masih lebih baik daripada negara lain. Jika dilihat dari data pemulihan ekonomi RI dibandingkan dengan negara-negara mitra dagang Indonesia ternyata masih kalah jauh.

Indonesia dari torehan ekonomi di kuartal II-2020 -5,32% ke 3,49% di kuartal III-2020, perubahan dari pertumbuhannya 34,4%.

Jika dilihat dari Cina dalam periode yang sama perbaikannya mencapai 53,1%. Tercatat ekonomi Cinadi kuartal II-2020 tumbuh 3,2%, lalu di kuartal III-2020 positif 4,9%.

Kemudian dengan mitra dagang Amerika Serikat (AS) juga kalah jauh yang perbaikannya mencapai 67,8% meski masih dalam teritori negatif. Pada kuartal II-2020 ekonomi AS -9%, sementara di kuartal III-2020 -2,9%.

Lalu jika dilihat dengan negara mitra dagang lainnya juga perbaikan ekonomi RI yang saat ini resmi mengalami resesi masih kalah jauh. Singapura 47,4%, Korea Selatan 51,9%, Hong Kong 62,2%, Uni Eropa 71,9%.

"Jadi kalau kemarin BPS menyampaikan ada satu yang kurang bahwa ternyata perbaikan ekonomi kita itu jauh lebih lambat dibandingkan negara mitra dagang kita. Ini menjadi catatan bahwa kita tidak pernah belajar dari negara-negara mitra dagang kita untuk memperbaiki kondisi ekonomi kita," ucapnya. (pkp/ae)

Baca selengkapnya di: detiknews

Pulihkan Resesi, Kelas Menengah Jangan Pelit Belanja

Meski Resesi, Benarkah Ekonomi RI Lebih Baik dari Negara Lainnya?