Perekonomian Asia Anjlok untuk Pertama Kalinya dalam 60 Tahun | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 18.09.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Ekonomi

Perekonomian Asia Anjlok untuk Pertama Kalinya dalam 60 Tahun

Bank Pembangunan Asia melaporkan ekonomi berkembang di Asia terhempas ke dalam jurang resesi akibat pandemi COVID-19 yang berkepanjangan. Hal ini merupakan resesi regional pertama kalinya sejak enam dekade terakhir.

Pelabuhan di Cina Qingdao (picture-alliance/Costfoto/Z. Jingang)

Ilustrasi sektor ekonomi Asia

Berdasarkan laporan baru dari Asian Development Bank (ADB) yang dirilis pada Selasa (15/09), ekonomi di negara-negara Asia akan terjun ke jurang resesi untuk pertama kalinya sejak enam dekade terakhir.

Bank yang berbasis di Filipina ini memperkirakan ekonomi negara berkembang Asia akan menyusut ke 0,7% di tahun 2020.

Karena perkembangan yang tidak terduga, bank merevisi proyeksi sebelumnya terkait pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kawasan itu sebesar 0,1% pada tahun ini.

Tidak mengherankan, penyebab utama di balik anjloknya ekonomi di kawasan Asia dan Pasifik itu terjadi akibat pandemi virus corona dan pemberlakuan penutupan wilayah. Selain merugikan bisnis, merosotnya laju ekonomi secara tak terduga membuat banyak orang jatuh miskin.

Namun, bank melihat tahun 2020 sebagai anomali. Ekonomi di kawasan Asia diprediksi akan kembali pulih pada tahun 2021 dengan pertumbuhan 6,8%.

Dari Taipei ke Timor Leste

Negara-negara Asia berkembang mencakup 46 negara, seperti Cina, Mongolia, Korea Selatan dan Singapura hingga Papua Nugini, Fiji dan bahkan Armenia, Azerbaijan dan Tajikistan.

ADB berasumsi bahwa kehadiran vaksin virus corona sangat penting dan diharapkan bisa tersedia paling cepat tahun depan.

"Segalanya tidak akan kembali seperti sebelum COVID, kecuali vaksin telah diluncurkan dan diproduksi," kata Yasuyuki Sawada, Kepala Ekonom ADB, kepada DW.

Secara keseluruhan, laporan tersebut memperkirakan sekitar tiga perempat ekonomi Asia mencatat pertumbuhan negatif tahun ini. Di sisi lain, Cina menjadi salah satu dari 12 negara yang diprediksi akan berakhir “hitam”, meski berada di episentrum wabah COVID-19. Bank memproyeksikan ekonomi Cina tumbuh 1,8%. Namun perekonomian Cina akan mulai pulih mencapai level 7,7% di tahun depan.

Asia Tenggara kemungkinan akan mengalami penurunan hingga 3,8%. Sementara Asia Selatan akan menjadi kawasan yang terkena dampak paling parah, contohnya India yang terkontraksi 9% di tahun ini. Negara yang paling parah terkena dampak adalah Maladewa, yang diperkirakan menyusut lebih dari 20%, diikuti oleh Fiji dengan penurunan 19,8%.

Saat ini, pengendalian dan penanggulangan pandemi menjadi prioritas nomor 1 di semua negara. "Pandemi yang berkepanjangan adalah risiko penurunan utama untuk sektor ekonomi. Wabah yang berkepanjangan berpotensi menggagalkan upaya pemulihan ekonomi dan memicu gejolak keuangan," laporan itu menyimpulkan. "Pemulihan bergantung pada langkah-langkah untuk mengatasi krisis kesehatan dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan." (ha/vlz)

Laporan Pilihan