1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Presiden Jerman Serukan “Perdamaian yang Adil” untuk Ukraina

26 Desember 2022

Dalam pidato Natal, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menyerukan perdamaian untuk Ukraina setelah “penderitaan yang mengerikan” selama 10 bulan.

https://p.dw.com/p/4LQRf
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier saat merekam pidato Natal tahunannya di Berlin pada 22 Desember 2022
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier membahas perang di Ukraina dalam pidato Natal yang disiarkan secara nasionalFoto: Tobias Schwarz/AP Photo/picture alliance

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier dalam pidato yang disiarkan secara nasional pada hari Minggu (25/12), menyesalkan kurangnya perdamaian di Ukraina selama 10 bulan terakhir sejak Rusia meluncurkan invasinya.

"Harapan kami yang paling kuat tentunya agar perdamaian kembali berkuasa,” ujar Steinmeier dalam pidato Natal.

Presiden Jerman mencatat bagaimana perang brutal Rusia yang dimulai 24 Februari lalu telah menyebabkan "penderitaan mengerikan” bagi rakyat Ukraina serta "ketakutan bahwa permusuhan akan menyebar.”

Pengungsi Ukraina hidup aman di Jerman

Steinmeier juga menceritakan pertemuannya baru-baru ini dengan 50 pengungsi anak dari Ukraina saat berkunjung ke Kota  Freiberg. Anak-anak muda itu melarikan diri dari perang dengan ibu mereka dan sekarang mereka tinggal di negara bagian Saxony, Jerman bagian Timur.

Dia mencatat bahwa banyak diantara mereka yang telah "mengalami hal-hal mengerikan” yang membuat mereka "sangat ketakutan hingga pintu yang ditutup dengan keras sudah membuat mereka gemetar.”

"Anak-anak sekolah dasar di Freiberg dan keluarga mereka di Ukraina merindukan perdamaian lebih daripada kita. Namun, perdamaian belum tercapai,” ujarnya.

Steinmeier mengatakan bahwa ketika waktunya tiba, "harus ada perdamaian yang adil, yang tidak memberikan penghargaan terhadap perampasan tanah dan tidak meninggalkan orang-orang di Ukraina dari tindakan sewenang-wenang dan kekejaman oleh pihak yang menjajah mereka.”

"Ini adalah kewajiban kemanusiaan, kita mendukung mereka yang diserang, diancam, dan ditindas,” tambahnya. Dalam pidato juga disebutkan ucapan terima kasih kepada warga Jerman yang telah ikut membantu di sepanjang tahun ini.

Menurut Kiel Institute for the World Economy (IfW Kiel), institusi pelacak dukungan Ukraina, Jerman telah menerima sekitar satu juta pengungsi Ukraina, dan pemerintah telah membuat komitmen bantuan kemanusiaan ke Ukraina senilai hampir 2 miliar euro. 

Tahun yang sulit secara ekonomi

Steinmeier mengakui bahwa perang juga berdampak ke dalam negeri terutama secara ekonomi. Namun, dia mencatat bagaimana pemerintah telah mengurangi "beban yang terberat” – merujuk pada program subsidi yang diperkenalkan untuk mengimbangi lonjakan biaya energi.

"Ya, masa-masa yang sulit. Kita menghadapi angin kencang,” katanya.

"Meskipun demikian, Natal adalah waktu yang tepat untuk melihat hal-hal yang memberi kita harapan. Harapan itu ada,” ujarnya. "Kita tidak panik, kita juga tidak akan membiarkan diri kita terpecah belah.”

Steinmeier mengakhiri pidatonya dengan mencatat bagaimana warga memiliki lebih banyak pencapaian pada tahun ini daripada yang diperkirakan banyak orang terlepas dari hambatan yang ada.

"Kita bertindak dengan penyelesaian masalah ketika bantuan dibutuhkan. Kita berdiri untuk satu sama lain. Saya bangga dengan negara kita," ujarnya.

(yas/ha)

Nik Martin Penulis berita aktual dan berita bisnis, kerap menjadi reporter radio saat bepergian keliling Eropa.