Politik Baru AS di Irak | Fokus | DW | 21.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Politik Baru AS di Irak

Masih belum dapat dipastikan, apakah AS akan menambah jumlah pasukannya di Irak dan memperpanjang masa tugasnya atau menarik mereka pulang.

Simbol pasukan AS di Irak

Simbol pasukan AS di Irak

Saat ini AS mengerahkan 150.000 serdadunya di Irak. Menurut informasi harian “Washington Post“ militer AS sedang mengkaji tiga opsi, yang menunjukan tiga haluan utamanya, yakni go big, go long atau go home. Yang jika diterjemahkan bebas adalah, menambah jumlah pasukan pendudukan, terus bertugas di Irak dalam jangka panjang atau menarik pulang pasukan. Secara senada terdengar, bahwa penarikan mundur serdadu AS pada saat ini, bukan merupakan opsi yang realistis. Karena dampaknya diperkirakan Irak akan sepenuhnya tenggelam ke dalam perang saudara.

Sebaliknya, pihak militer melihat yang realistis adalah kombinasi dari dua opsi lainnya. Setelah dalam jangka pendek, menambah serdadunya sebanyak 30.000 orang lagi, dalam jangka menengah AS akan mengurangi drastis jumlah pasukannya di Irak. Akan tetapi, akan bertugas untuk jangka lebih panjang, sampai pasukan keamanan Irak memiliki kemampuan, menjamin keamanan di negaranya sendiri. Untuk itu, terutama pasukan tempur yang saat ini ditugaskan di Irak akan dikurangi, digantikan dengan satuan pelatihan kemiliteran.

Terlepas dari kelompok kerja militer itu, kelompok lainnya, yang merupakan kelompok kerja sipil di bawah pimpinan mantan Menteri Luar Negeri James Baker, bulan Desember mendatang akan mengajukan usulan politik untuk perubahan strategi Irak.

Sementara ini, diskusi politik di AS mengenai tindakan selanjutnya di Irak terus berlanjut. Senator Partai Republik John McCain, yang akan maju menjadi kandidat presiden dalam pemilu tahun 2008, akhir pekan lalu kembali menegaskan dukungannya bagi pengiriman pasukan tambahan ke Irak.

“Kita memerlukan tambahan pasukan di Irak dan itu harus secepatnya. Kita harus menghancurkan kelompok milisi dan melanjutkan pelatihan pasukan keamanan Irak dan orang-orang kita diintegrasikan dalam satuan polisi. Untuk semua itu, kita memerlukan lebih banyak serdadu. Jika kita terus seperti sekarang, kita akan gagal.“

Sementara ketua terpilih komisi anggaran di parlemen, anggota parlemen dari Partai Demokrat, Charles Range,l mendukung diberlakukannya kembali wajib militer di AS.

“Jika para remaja diwajibkan selama beberapa tahun bertugas bagi AS, hal itu merupakan yang terbaik bagi mereka dan juga bagi negara kita.“

AS menghapuskan wajib militer tahun 1973, setelah perang Vietnam. Di jajaran pengritik politik Irak dari pemerintahan Bush, kini juga tampil mantan Menteri Luar Negeri Henry Kissinger. Dalam wawancara dengan BBC belum lama ini, Kissinger mengatakan, perang Irak tidak dapat dimenangkan dengan cara militer. Padahal bulan Agustus lalu, Kissinger masih menegaskan, penumpasan kelompok perlawanan di Irak merupakan satu-satunya kemungkinan skenario untuk keluar dari Irak.