1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Acara pernikahan di Medan
Acara pernikahan di MedanFoto: Sarinta Tausend

Pertama Kali Melihat Acara Pernikahan di Indonesia

Sarina Tausend
26 Juni 2021

Pagi-pagi kami sudah siap dan berangkat bareng ke tempat acara. Lalu saya diajak untuk masuk bersama pasangan pengantin dan keluarga. Momen itu tidak akan saya lupakan. Oleh Sarina Tausend.

https://www.dw.com/id/pertama-kali-melihat-acara-pernikahan-di-indonesia/a-58053862

Pernikahan pertama yang saya hadiri di Indonesia adalah pernikahan kakak angkat saya di Medan. Saya tiba di Medan bulan Agustus dan kakak saya menikah bulan september. Beberapa hari setelah tiba di tempat keluarga, saya diajak untuk pergi ke tempat jahit baju. Ukuran saya diambil, kain-kain cantik sudah dipilih Mami supaya saya juga pakai baju seragam keluarga.

Saat itu saya sudah bingung. "Wow, mewah banget yah, sampai dijahitkan baju sesuai ukuran saya." Soalnya di Jerman tidak begitu. Kalau ada teman atau anggota keluarga yang menikah, pakaiannya gaun biasa. Cantik, tapi tetap biasa. Dari tempat jahit, saya lalu juga ikut untuk mencoba makanan di tempat perayaan di hotel dan juga ikut ke tempat acaranya untuk memeriksa dekorasi.

Sarina Tausend
Sarina Tausend (kiri)Foto: Sarina Tausend

Saya kaget lagi. Gedungnya besar sekali dan dekorasinya juga cantik pake banget. Di mana-mana ada bunga-bunga dan hiasan bagus. Semua sesuai konsep warna tertentu dan semuanya disiapkan dengan baik.

Di rumah, semua orang juga sibuk untuk menyiapkan akad nikah. Jadi rumah kita dijadikan istana kecil, hehe bercanda. Tapi benar-benar dinding dihias dengan kain, lantai diberi karpet, dan disiapkan meja kecil untuk akadnya. Di depan rumah dibangun panggung kecil untuk dangdutan dan satu jalan benar-benar ditutup, jadi mobil tidak bisa lewat. Sekarang saya tahu, bahwa itu adalah hal biasa di Indonesia. Tapi kalau saya pikir, kita menutup satu jalan di Jerman untuk acara pernikahan orang, yang adalah acara pribadi… itu tidak mungkin. Jadi, waktu itu saya kaget, lagi-lagi kaget.

Satu hari sebelumnya, keluarga calon suami kakak saya datang ke rumah untuk silaturahmi dan memberi seserahan, dan juga untuk salat. Tangan saya dan kakak saya dilukis dengan hena dan saya terkesan dengan semua yang terjadi.

Besoknya kami sekeluarga sudah bangun pagi dan tiba-tiba saya disuruh masuk ruangan untuk didandan. Saya sebelumnya tidak pernah didandan, jadi setelah didandan dan pakai kebaya cantik, level PD (red: Percaya diri) saya naik sekali. Tidak pernah saya merasa secantik itu.

Sayangnya, saya tidak sempat melihat acara akadnya karena masih didandan, tapi saya melihat tamunya banyak sekali. Di Jerman jumlah tamu yang datang ke acara pernikahan tidak sebanyak di Indonesia. Kalau 200 orang, itu sudah termasuk pernikahan besar di Jerman. Di Indonesia bisa saja ada ribuan tamu.

Acara ijab kabul
Acara ijab kabulFoto: Sarinta Tausend

Setelah akad, acara dilanjutkan dengan ritual tradisional. Itu juga sangat menarik untuk saya karena di Jerman juga ada beberapa ritual pernikahan. Setelah itu semua, acara santai dimulai. Orang-orang yang berani boleh ikut berkaraoke, dan tamu-tamu bersalaman dengan pasangan pengantin, dilanjutkan dengan acara makan dengan menu makanan yang luar biasa.

Seperti saya sudah cerita di awal, saya waktu itu baru beberapa minggu di Indonesia. Jadi belum sempat mencoba semua makanan, dan belum terbiasa juga dengan makanannya. Jadi hari itu adalah saat yang baik untuk mencoba makanan terbaik. Acaranya berlangsung sampai malam dan saya kaget lagi ketika diberi tahu, bahwa besok dilanjutkan dengan acara resepsi di hotel.

Saya kagum sekali, karena berarti saya dikasih baju cantik lagi, didandan lagi dan foto-foto lagi. Pagi-pagi kami sudah siap dan berangkat bareng ke tempat acaranya. Dan saya diajak untuk masuk bersama pasangan pengantin dan keluarga. Momen itu tidak akan saya lupakan, karena intinya adalah mereka sudah ikhlas untuk menerima saya sebagai bagian dari keluarga. Dan saat itu saya bangga sekali.

Berfoto bersama mempelai di acara pernikahan
Berfoto bersama mempelaiFoto: Sarinta Tausend

Setelah masuk dan pasangan pengantin sudah berada di atas panggung, saya dan kakak kedua bisa mengikuti acaranya dan bisa relaks. Kami bertemu beberapa teman dan makan-makan dan, tentu saja, foto-foto. Dan saya tidak menyangka jumlah tamunya bisa sebanyak itu.

Yang membuat saya paling heran adalah cara perayaannya di Indonesia. Di Jerman, tamu yang datang di acara pernikahan akan bersama pasangan pengantin sampai malem atau sampai acara pernikahan selesai. Di Indonesia berbeda sekali. Tamunya datang, salaman dan foto, makan, paling ngobrol sebentar dan pergi lagi. Lalu datang tamu-tamu yang lain. Awalnya jujur saja, saya bingung dengan konsep ini, karena masih membandingkannya dengan acara pernikahan orang Jerman. Setelah hadir di beberapa acara pernikahan di Indonesia, saya sekarang sudah terbiasa.

Tapi pernikahan kakak saya ini adalah salah satu momen terindah yang saya selalu ingat dengan perasaan bersyukur dan senang.

*Sarina Tausend pernah tinggal di Indonesia satu tahun dalam program petukaran pelajar, dan sekarang tinggal di Saarbrücken, Jerman

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan satu foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri. (hp)