Perancis Akan Kenakan Pajak pada Kemasan Plastik Bukan Daur Ulang | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 13.08.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

LINGKUNGAN

Perancis Akan Kenakan Pajak pada Kemasan Plastik Bukan Daur Ulang

Bila rencana ini jadi diimplementasikan, harga produk-produk yang dikemas tanpa memakai plastik daur ulang akan lebih mahal 10 persen.

Perancis berencana memperkenalkan sistem hukuman terhadap barang-barang konsumen yang dikemas dengan plastik yang tidak didaur ulang, kata pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dalam wawancara dengan sebuah surat kabar pada Minggu (12/8).

Inisiatif ini adalah bagian dari rangkaian tindakan untuk membuat para pihak di negara ini mendaur ulang semua plastiknya.

Pemerintah Perancis berjanji akan melakukan transisi nasional untuk mendaur ulang 100 persen plastik pada 2025. Langkah ini dilakukan guna mengurangi jumlah sampah plastik yang berakhir dibuang ke laut.

Brune Poirson, Sekretaris Negara untuk Transisi Ekologi, mengatakan kepada surat kabar Journal du Dimanche bahwa pemerintah akan memperkenalkan serangkaian tindakan seperti mengenakan tambahan biaya 10 persen terhadap produk yang tidak menggunakan plastik daur ulang pada 2019.

Selain itu, skema deposit botol plastik juga akan diberlakukan; pajak pembuangan sampah di tempat pembuangan akhir akan dinaikkan sementara pajak operasional pendaurulangan akan dikurangi.

Sejumlah produk plastik yang dianggap tidak perlu dan bisa diganti seperti sedotan, gelas dan piring plastik juga akan dilarang pada 2020.

Hingga saat ini, hanya sekitar 25 persen dari keseluruhan jumlah plastik di Perancis yang didaur ulang. Kantong plastik sekali pakai memang sudah dilarang di supermarket. Namun negara ini berharap untuk terus membuat langkah serius sesuai dengan tujuan Komisi Eropa.

"Menyatakan perang terhadap plastik tidak cukup. Kita juga perlu mengubah ekonomi Perancis," kata Poirson kepada surat kabar itu. 

"Ketika nanti ada pilihan di antara dua botol, yang satu terbuat dari plastik daur ulang sedangkan yang lainnya tidak, yang pertama akan lebih murah," katanya.

Flore Berlingen dari asosiasi Zero Waste France mengatakan: "Kami berharap perusahaan-perusahaan bisa bekerja sama sehingga bukan konsumen yang menanggung akibatnya."

Sedangkan Emmanuel Guichard dari federasi Elipso produsen kemasan plastik memberi tanggapan yang lebih berhati-hati: "Untuk botol, memberi konsumen pilihan adalah mungkin. Tetapi kita tidak bisa melupakan barang-barang lainnya, misalnya saat ini belum tersedia plastik daur ulang untuk kemasan yoghurt."

ae (AFP)