Inilah Tiga Kiat Sederhana Kurangi Konsumsi Plastik | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 28.03.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

Inilah Tiga Kiat Sederhana Kurangi Konsumsi Plastik

Akademisi Jerman, Roger Franz, menyulap sampah plastik menjadi tas belanja ramah lingkungan. Kepada DW pria yang menetap di Bali itu membagi tips untuk mengurangi konsumsi plastik dengan mudah dan cepat.

Tonton video 01:06

Dengan Tasini Selamatkan Bumi

Indonesia dan kantung plastik adalah asmara buta yang tidak berkesudahan. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, setiap menit satu juta kantung plastik berpindah ke tangan konsumen di Indonesia. Jarang ada negara lain yang punya catatan serupa. Tidak heran jika Indonesia dianggap sebagai sumber sampah plastik di laut terbesar kedua di dunia.

"Sesuatu yang hanya digunakan selama 5 menit, tidak seharusnya mengotori samudera Bumi selama 500 tahun," tulis Roger Spranz dalam situs penggalangan dana Indiegogo. Pakar plastik asal Jerman itu sedang mencari donor untuk gagasannya menyulap sampah plastik menjadi kantung belanja yang ramah lingkungan, Tasini.

Berpusat di Bali, Tasini dikembangkan untuk membangun kesadaran lingkungan dan membantu penduduk menghentikan kebiasaan meminta kantung plastik ketika berbelanja di pasar atau supermarket. Sebab itu Tasini dibuat sederhana dan dikemas dalam bentuk gantungan kunci. 

"Konsep kantung belanja yang ramah lingkungan sebenarnya sudah ada sejak lama," kata Spranz. "Tapi yang penting adalah orang mau menggunakannya." Sebagai gantungan kunci, tasini diharapkan bisa menjadi aksesoris permanen yang selalu dibawa kemana-mana.

Saat ini Spranz masih menunggu uluran tangan investor agar bisa memasarkan Tasini. Ia berharap dalam beberapa bulan ke depan, produk hijau buatannya itu bisa menjadi alternatif terhadap kantung plastik yang merajalela.

Ikuti kutipan wawancara Deutsche Welle dengan Roger Spranz berikut ini.

MOPF Pressebild

Roger Spranz (ka.)

DW: Anda berambisi ingin mengurangi penggunaan kantung plastik di Indonesia. Apakah anda takut terhadap kantung plastik?

Roger Spranz: Ya bisa dikatakan seperti itu. Setidaknya kita harus khawatir. Kantung plastik adalah ancaman besar, tidak hanya buat satwa tetapi juga buat manusia sendiri, baik dari segi kesehatan, sosial dan juga ekonomi. Terutama buat negara seperti Indonesia yang banyak bergantung pada sektor pariwisata dan perikanan, kantung plastik menciptakan dampak yang sangat negatif.

Bagaimana anda mendapat inspirasi buat memproduksi tas belanja dari sampah plastik?

Idenya sebenarnya dikembangkan baru-baru ini, setidaknya yang berkaitan dengan desain tasnya. Yang menarik dari Tasini adalah bentuknya didesain menyerupai berbagai satwa laut dan dikemas sebagai gantungan kunci. Yang penting dalam hal kantung belanja ramah lingkungan adalah bahwa orang menggunakannya setiap hari. Kami berusaha kreatif supaya bisa meyakinkan konsumen. Dan Tasini juga berfungsi sebagai duta lingkungan, jadi di satu sisi sebagai solusi untuk tidak lagi menggunakan kantung plastik, di sisi lain kami ingin memberikan sumbangsih untuk meningkatkan kesadaran lingkungan.

Bagaimana reaksi konsumen atas Tasini?

Kami saat ini belum memulai penjualan secara besar-besaran karena masih dalam fase produksi. Tapi dalam sebuah kampanye baru-baru ini kami mendapat reaksi yang sangat baik dari publik Indonesia. Mudah-mudahan dalam waktu dua hingga tiga bulan ke depan kami sudah bisa memasarkan Tasini.

Jika menilik masalah sampah di laut, apakah bijak jika pemerintah menerapkan larangan plastik?

Gantungan kunci Tasini yang bisa diubah menjadi tas belanja

Gantungan kunci Tasini yang bisa diubah menjadi tas belanja

Ini memang sudah menjadi isu besar. Pada dasarnya jenis plastik yang sangat mungkin untuk dilarang adalah plastik sekali pakai, misalnya kantung plastik, sedotan atau gelas plastik. Dalam hal ini sangat mudah untuk menggunakan alternatifnya yang membuat penggunaan plastik menjadi tidak perlu. Ihwal larangan kantung plastik, ada banyak negara lain yang sudah menerapkannya, Kenya misalnya baru-baru ini mulai mencoba dan Ruanda sudah melarang kantung plastik sejak lama. Karena diterapkan secara ketat, kebijakan ini menciptakan kondisi di mana kantung plastik tidak lagi digunakan dan sebabnya polusi sampah kantung plastik berkurang secara drastis.

Bagaimana plastik bisa berbahaya buat manusia, apakah kita sudah harus mulai mengkhawatirkan dampak plastik mikro?

Soal ini kita masih membutuhkan banyak studi buat mengukur sebesar apa dampak polusi plastik terhadap kesehatan manusia. Saat ini efeknya belum diketahui seratus persen. Tapi yang jelas senyawa beracun bisa menempel pada plastik mikro dan ini sangat berbahaya buat manusia.

Apa tips anda buat mengurangi konsumsi plastik secara berkelanjutan?

Saya kira cara paling baik untuk memulai adalah dengan tidak lagi menggunakan kantung plastik, juga sedotan. Untuk sedotan sudah banyak alternatif, antara lain yang terbuat dari kaca, metal atau misalnya di Indonesia ada banyak yang dibuat dengan bahan dasar bambu. Kita juga bisa menggunakan botol yang bisa dipakai berulangkali. Jika kita bisa menerapkan tiga hal ini, maka saya kira dampaknya akan sangat luar biasa.

Wawancara oleh Rizki Nugraha (yf)

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait