Pentingnya Bidang Studi Antaragama di Perguruan Tinggi | KOLOM: Bersama berdialog untuk mencapai pemahaman | DW | 28.12.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

kolom

Pentingnya Bidang Studi Antaragama di Perguruan Tinggi

Apa persamaan dan perbedaan antara studi agama, studi perbandingan agama dan studi antaragama? Mengapa studi antaragama dirasa sangat penting? Ikuti opini Sumanto al Qurtuby.

Studi antaragama (Interreligious Studies) merupakan bidang dan kajian yang sangat penting dan fundamental, khususnya di perguruan tinggi, tetapi saya perhatikan belum banyak kampus-kampus di Indonesia dan negara manapun, termasuk di negara-negara Barat, yang mengembangkan bidang studi ini.

Kampus-kampus di Amerika Utara atau Eropa meskipun banyak yang memiliki Departemen Agama (Department of Religion) atau Fakultas Teologi (Faculty atau School of Theology), tetapi tidak banyak yang mengembangkan Interreligious Studies. Yang umum dikembangkan adalah Comparative Religion (Perbandingan Agama) atau Religious Studies (Studi Agama) secara umum.

Tentu saja ini bukan berarti bahwa kampus-kampus di dunia barat tidak memiliki kegiatan akademik (maupun non-akademik) yang berkaitan dengan relasi antaragama (interreligous relations). Ada banyak kegiatan akademik seperti konferensi, seminar, dan workshop maupun non-akademik seperti "field trip” yang bertema atau berkaitan dengan dialog antaragama atau antariman (interfaith dialogue and engagement) misalnya. Tetapi, mereka tidak mengembangkan lebih dalam, spesifik, dan jangka panjang tentang fenomena relasi antaragama itu dalam bentuk, misalnya, program akademik "Studi Antaragama.” Hanya ada segelintir kampus di Barat yang mempunyai program Studi Antaragama seperti Elton University (Amerika Serikat), McGill University (Kanada) atau University of Oslo (Norwegia). 

Jika di kampus-kampus di negara-negara Barat saja susah dijumpai bidang studi antaragama, apalagi di kampus-kampus di Timur Tengah.

Jangankan program akademik studi antaragama, studi agama saja susah ditemui. Nyaris tidak ada universitas di Timur Tengah yang memiliki departemen atau fakultas agama. Berdasarkan riset yang saya lakukan, hanya ada sekelumit kampus yang memiliki progam studi agama atau perbandingan agama (bukan studi antaragama).

Misalnya, University of Tehran memiliki Departemen Perbandingan Agama dan Mistisisme. Kemudian Hebrew University mempunyai Departemen Perbandingan Agama. Lebanese American University memiliki program minor di bidang religious studies.

Sementara American University in Cairo mempunyai jurusan minor di bidang studi perbandingan agama.

Sependek yang saya tahu, satu-satunya kampus di Timur Tengah yang memiliki program studi antaragama adalah Bethlehem University.

Pada umumnya, kampus-kampus di Timur Tengah fokus di bidang studi "ilmu-ilmu sekuler” atau yang banyak "permintaan pasar” kerja (bisnis, ekonomi, kedokteran, farmasi, teknik, eksakta, dlsb).

Bahkan studi Islam juga mengalami kemerosotan khususnya di kampus-kampus di kawasan Arab Teluk. Di Indonesia, kampus-kampus berbasis agama khususnya seperti institut atau universitas Kristen maupun Islam lebih banyak mengembangkan program studi kekristenan atau keislaman atau studi agama secara umum, bukan studi antaragama, selain bidang-bidang ilmu sekuler tentunya. 

Sumanto al Qurtuby (DW/A. Purwaningsih)

Penulis: Sumanto al Qurtuby

Persamaan dan Perbedaan

Apa persamaan dan perbedaan antara studi agama, studi perbandingan agama dan studi antaragama. Studi agama bersifat sangat umum, sementara studi perbandingan agama fokus pada kata "perbandingan” tersebut.

Adapun studi antaragama, seperti pernah ditulis oleh Oddbjorn Leirvik dalam Interreligious Studies: A Relational Approach to Religious Activism and the Study of Religion, menitikberatkan pada pendekatan relasional (relational approach) antaragama. Fokus studi antaragama adalah mengkaji secara mendalam dan ilmiah tentang sejarah dan perkembangan kontemporer mengenai hubungan, perjumpaan, dan interaksi antaragama dan antarkomunitas agama. Lebih lanjut, bidang studi ini bertujuan untuk menganalisis karakter perjumpaan antaragama, berfikir secara kritis dialog antaragama, dan memiliki fungsi yang lebih efektif dan strategis dalam menyelesaikan problem hubungan antarkelompok agama dalam kultur masyarakat yang kompleks. 

Jadi dengan demikian, Studi Antaragama tidak semata-mata "dialog antaragama” meskipun meriset, mempelajari, dan mengkaji secara mendalam sejarah, proses, dan efektivitas dialog antaragama tersebut. Saya memandang studi antaragama ini merupakan perspektif baru dalam dunia akademik khususnya di bidang studi agama atau sebagai cabang (branch atau subfield) dari studi agama yang mengfokuskan pada pengembangan teori dan pendekatan relasional dalam melihat dan menganalisis aneka ragam kelompok agama di masyarakat.

Urgensi dan Signifikansi 

Ada sejumlah alasan mendasar kenapa Studi Antaragama itu urgen dan signifikan.

Pertama, minimnya riset, kajian, metodologi, teori, dan literatur yang membahas dan menganalisis secara mendalam tentang hubungan antaragama dalam bentangan sejarah manusia, meskipun relasi antarkelompok agama sudah berlangsung sejak zaman dahulu kala. Baik studi agama maupun studi perbandingan agama selama ini belum memadai dan menjamah secara serius masalah relasi antargama ini.

Kedua, relasi antaragama di masyarakat bersifat fluktuatif dan dinamis yang tidak jarang terjadi ketegangan, konflik dan kekerasan yang menyebabkan banyak korban (harta dan nyawa) tak terhingga. Ada banyak data tentang konflik, kekerasan, dan perang antaragama yang memilukan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Ketiga, banyaknya ketidakpahaman dan kesalahpahaman antarkelompok agama mengenai tradisi, ajaran, dan kebudayaan agama lain. Ketidakpahaman dan kesalahpahaman ini bisa menjadi akar konflik dan ketegangan yang serius jika tidak segera dibenahi.

Keempat, sebagian masyarakat yang semakin xenophobic (intoleran, rasis, etnosentris, chauvinistic, dlsb) serta anti terhadap diskursus agama umat lain.

Di tengah minimnya scholarship tentang relasi antaragama serta masyarakat yang cenderung konfliktual, salahpaham, dan antipati terhadap umat agama lain inilah, maka studi antaragama mendapatkan momentum signifikan yang perlu ditindaklanjuti secara serius oleh berbagai pihak, khususnya komunitas akademik dan pemerintah.

Pengembangan studi antaragama ini semakin penting dan darurat, apalagi Indonesia kini sedang "dibombardir” berbagai isu sentimen agama, praktik intoleran, dan wacana anti non-Islam yang dipropagandakan oleh kalangan Islamis-konservatif sehingga menyebabkan fondasi relasi antarumat beragama semakin ringkih dan rentan terhadap konflik di masa depan. Ambon, Poso, Tobelo, dlsb pernah mengalami tragedi kekerasan antaragama yang memilukan. Di berbagai daerah lain di Indonesia juga tak jarang terjadi ketegangan antarkelompok agama, baik sesama agama mainstream maupun antara kelompok agama mainstream dengan para pengikut agama dan kepercayaan lokal.

Oleh karena itu, jika tidak ada upaya serius, taktis, dan strategis yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan akademia, bukan hal yang mustahil jika relasi antarumat agama di Indonesia di masa depan akan semakin rapuh atau keropos sehingga Bhinneka Tunggal Ika yang dijadikan sebagai simbol "kesatuan dalam keragaman beragama” hanya menjadi slogan atau "pepesan kosong” saja tidak "bunyi” di masyarakat. Salah satu upaya solutif guna mengatasi problem ketegangan sosial antarkelompok agama sekaligus menciptakan relasi antarumat agama yang lebih baik, toleran, dan sehat di masa depan adalah dengan memperbanyak ruang kajian dan pertemuan antarkelompok agama seperti pendirian bidang studi antaragama di perguruan tinggi.

Inilah antara lain sejumlah poin yang saya sampaikan dalam sebuah konferensi internasioal tentang studi Kristen dan antaragama (International Conference on Christian and Religious Studies) yang diadakan oleh Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado bekerja sama dengan Kementerian Agama RI belum lama ini. Semoga bermanfaat dan gagasan ini segera menjadi kenyataan.

Sumanto Al Qurtuby adalah anggota dewan pendiri Nusantara Kita Foundation dan Presiden Nusantara Institute. Ia juga Dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Arab Saudi. Ia pernah menjadi fellow dan senior scholar di berbagai universitas seperti National University of Singapore, Kyoto University, University of Notre Dame, dan University of Oxdord. Ia memperoleh gelar doktor (PhD) dari Boston University, Amerika Serikat, di bidang Antropologi Budaya, khususnya Antropologi Politik dan Agama. Ia telah menulis lebih dari 20 buku, ratusan artikel ilmiah, dan ribuan esai popular, baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia yang terbit di berbagai media di dalam dan luar negeri. Bukunya yang berjudul Religious Violence and Conciliation in Indonesia diterbitkan oleh Routledge (London & New York) pada 2016. Manuskrip bukunya yang lain, berjudul Saudi Arabia and Indonesian Networks: Migration, Education and Islam, akan diterbitkan oleh I.B. Tauris (London & New York) bekerja sama dengan Muhammad Alagil Arabia-Asia Chair, Asia Research Institute, National University of Singapore.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

*Tulis komentar Anda di  kolom di bawah ini.