Bagaimana Pandangan Dewan Islam di Jerman Atas Studi Persepsi Warga Jerman Tentang Islam? | NRS-Import | DW | 12.07.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Riset

Bagaimana Pandangan Dewan Islam di Jerman Atas Studi Persepsi Warga Jerman Tentang Islam?

Menurut studi Yayasan Bertelsmann yang memoniitor masalah agama, 50 persen masyarakat Jerman memiliki persepsi negatif tentang Islam.

Dalam wawancara DW, Aiman Mazyek dari Dewan Pusat Muslim di Jerman terkejut secara positif dengan hasil studi iYayasan Bertelsmann bahwa 50 persen masyarakat Jerman memiliki persepsi negatif tentang Islam. Simak wawancaranya.

Deutsche Welle: Menurut Yayasan Bertelsmann, Jerman, skeptisisme atas Islam tersebar luas di Jerman. Disebutkan dalam studi mereka, bahwa Islam dianggap bukan sebagai agama, tetapi sebagai ideologi politik. Menurut Anda, dari mana anggapan itu muncul?

Aiman Mazyek:  Hal ini sebagian merupakan hasil wacana panjang atas Islam selama satu hingga dua dekade.  Hal ini juga menyangkut terminologi: misalnya, istilah Islamisme hampir mengundang kita untuk membentuk pandangan ini.

Tetapi propaganda ekstremis sayap kanan dan populis sayap kanan juga berkontribusi terhadap anggapan ini, ketika mereka mengatakan bahwa Islam bukan agama, melainkan ideologi.

Wacana-wacana ini secara alami memperkuat pandangan kalangan tertentu. Apa yang sering diabaikan adalah bahwa - sebagaimana yang kita ketahui- 99,9 persen umat muslim di seluruh dunia menjalankan agama Islam dengan wajar. Tetapi ada minoritas kecil yang terus-menerus mendominasi berita utama dalam wacana ini.

Sejauh mana organisasi teroris seperti ISIS berkontribusi hingga mewujudkan citra semacam itu?

Sayangnya, mereka adalah pemberi pengaruh besar pada urusan ini. Kesalahan yang terus dilakukan di sini adalah bahwa tidak ada yang memberikan perbedaan signifikan antara ekstremisme dan agama dalam wacana ini. Banyak sekali tumpang tindih yang dilakukan.

Apakah maksud Anda media dan politik?

Bukan hanya media atau politik. Ini adalah wacana umum. Saya akan membela dunia ilmiah  - kecuali jika hal itu hanya brosur pseudo-ilmiah belaka. Tetapi sebagai suatu sistem, sains itu hal yang  sangat berbeda dari agama. Itu sebabnya hal  ini bukan hanya sentilan terhadap media yang tersembunyi, tetapi kritik terhadap wacana umum.

Namun menurut Anda, peran apa yang dimainkan media dalam konteks ini? Bagaimana Anda melihat misalnjya perdebatan dalam cakupan migrasi dan pengungsi?

Ada fokus yang konstan tentang Islam. Dan ada kecenderungan untuk menjadikanIslam sebagai alasan atas berbagai ketimoangan sosial yang muncul. Islam sering dijadikan kambing hitam. Imbauan saya adalah untuk tidak menyingkirkan  Islam sebagai agama dari semua bidang. Tapi kitan juga tidak bisa mengatakan, semua hal itu  tidak ada hubungannya dengan Islam.

Argumen saya adalah: Dalam paradigma pembenaran dari suatu masalah atau perkembangan yang tidak diinginkan, agama mungkin sebagian besar memainkan peran, tetapi bukan hanya Islam saja. Aspek-aspek budaya, sosiologis, ekonomi dan lainnya memainkan peran dalam menghadirkan masalah-masalah tertentu. Hal ini biasanya tidak dilakukan dalam konteks migrasi, pengungsi, orang terlantar, Islam atau muslim. Semua ini pada akhirnya mengarah pada penyempitan wacana.

Studi Bertelsmann Stiftung mengidentifikasi kurangnya  toleransi beragama di jerman. Islam khususnya mengalami kesulitan dan dianggap negatif oleh sekitar 50 persen populasi. Tetapi tidak oleh 50 persen lainnya. Seberapa pentingnya studi ini?

Saya pikir Anda juga dapat melihat banyak hal positif di dalamnya. Saya tidak ingin terdengar sinis kalau menyatakan: Saya cukup terkejut bahwa meskipun ada wacana-wacana miring tentang Islam, ternyata 50 persen masyarakat tidak melihat Islam secara negatif. Dari sini saya menyimpulkan bahwa hubungan sosial atau hubungan interpersonal masih berfungsi sampai batas tertentu. Saya justru tadinya memperkirakan angkanya lebih buruk dari itu.

Karena di sini kita berbicara tentang wacana yang nyata dan telah lama ada. Dan 50 persen pandangan positif adalah hasil yang bagus. Tentu saja, saya berharap untuk hasil yang lebih baik, tetapi jujur ​​saja, saya tidak akan terkejut seandainya hasilnya lebih buruk.

50 persen dari populasi di Jerman skeptis tentang muslim. Apakah umat muslim sendiri merasakan efek dari suasana ini di masyarakat?

Ada banyak efek. Yang harus Anda lakukan adalah melihat angka-angkanya: Untuk pertama kalinya sejak tahun 2017 kami menghitung serangan Islamofobia terhadap umat Islam dan institusi. Jumlahnya lebih dari 1000 kejadian pada tahun 2017. Tahun lalu jumlah serangan lebih sedikit. Di sisi lain, serangan fisik telah meningkat. Kualitasnya menjadi lebih parah dan jumlah kasus yang tidak dilaporkan jauh lebih tinggi, karena polisi dan pengadilan belum peka dan dilatih untuk masalah ini. Dan banyak juga umat muslim yang tidak mengajukan tuntutan pidana.

Ini adalah bukti bahwa Islamofobia atau sentimen anti-muslim telah meningkat pesat. Kami mendapat keluhan hampir setiap minggu tentang adanya serangan terhadap masjid atau penodaan agama. Dan tingkat reaksi emosional di masyarakat masih terbatas - yang tentunya juga ada hubungannya dengan wacana ini.

Bagaimana organisasi Islam bisa lebih terlibat untuk memperbaiki citra umat Islam?

Kita dapat melakukan lebih baik dari apa yang telah kita lakukan - misalnya proyek seperti open house masjid, atau proyek yang mengundang umat beragama lain untuk berdiskusi di masjid-masjid atau juga lewat kampanye, seperti yang telah kami lakukan selama bertahun-tahun sebagai Dewan Pusat Islam. Bahkan dalam aksi unjuk rasa membela keberagaman dan pelestarian demokrasi: Kita harus terus meningkatkan semua prakarsa yang sudah kita lakukan. Saya berharap bahwa kita semua - termasuk  kami sendiri - akan mengembangkan lebih banyak komitmen, bahkan lebih banyak tampil  serta lebih banyak inisiatif.

Bagaimana menurut Anda jika mendengar berulang kali umat Islam dituntut harus menjauhkan diri dari serangan terorisme?

Kami selalu berada dalam hubungan yang terasa tegang. Kami tahu bahwa jika kami memosisikan dan menjelaskan diri kami sendiri dan mengutuk tindakan-tindakan ini, kami akan menjangkau orang-orang yang belum pernah benar-benar mendengar, bahwa Islam atau muslim memiliki posisi yang sangat jelas menentang terorisme, serangan bunuh diri dan ekstremisme.

Namun, bahayanya adalah bahwa kami juga akan selalu dipaksa untuk menegaskan posisi diri kami lagi, meskipun hal ini telah lama terjadi. Ini juga ada hubungannya dengan wacana yang saya sebut di atas. Sederhananya, memang masih ada kekurangtajaman dalam pemilahan antara agama dan ekstremisme. Dan hal itu memperbesar rasa saling tidak percaya. (ed: yp/ap/hp)

Aiman ​​Mazyek adalah ketua Dewan Muslim di Jerman.

Wawancara dilakukan oleh Diana Hodali (yp/ap/hp)

 

 

Laporan Pilihan