1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

PBB: Hampir 8.000 Migran Tewas atau Hilang Sepanjang 2025

27 Februari 2026

Organisasi PBB bidang migrasi menyebut ribuan orang tewas atau hilang di rute migrasi global pada tahun 2025. Di Laut Mediterania, angka kematian melonjak pada awal tahun 2026.

https://p.dw.com/p/59UYJ
Para migran menggunakan perahu kecil berwarna putih biru tiba di pelabuhan La Restinga di pulau Canary El Hierro, Minggu (04/02/2024)
Migran, seperti yang menyeberang dari Afrika Utara ke Kepulauan Canary ini, menghadapi risiko besarFoto: Europa Press/AP Photo/picture alliance

Berdasarkan laporan International Organization for Migration (IOM) atau Organisasi PBB untuk Migrasi, setidaknya 7.667 orang dilaporkan hilang atau tewas di rute migrasi di seluruh dunia pada tahun 2024.

IOM menyerukan agar adanya peningkatan dukungan pendanaan bagi organisasi penyelamat, serta pembongkaran jaringan penyelundupan yang membahayakan nyawa.

Detik-detik Kapal Migran Terbalik di Spanyol, Beberapa Orang Tewas

Data mungkin lebih tinggi

Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan 2024. Saat itu, ada 9.200 kematian yang tercatat, tertinggi sejak pencatatan data dimulai pada 2014.

Namun, IOM menyebut angka 2025 kemungkinan jauh lebih tinggi, karena banyak kasus tidak lagi dapat didokumentasikan setelah pendanaan bagi organisasi tersebut menurun tajam.

Sementara itu, lonjakan kematian sudah terlihat pada 2026. Sejak awal tahun ini, 606 kematian telah tercatat di kawasan Mediterania, jumlah tertinggi pada periode yang sama bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sepanjang Januari hingga Februari 2025, tercatat ada 285 kematian. Selain itu, ratusan orang lainnya dilaporkan masih hilang.

Perahu pembawa jenazah hanyut dari Afrika ke Brasil

Menurut IOM, hampir 2.200 orang dipastikan tewas atau hilang di kawasan Mediterania pada 2025, sementara sekitar 1.200 orang meninggal atau hilang di rute dari Afrika Barat menuju Kepulauan Canary. Di kedua rute tersebut, angkanya lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Di antara banyaknya insiden, ada tiga perahu yang membawa jenazah 42 migran yang ditemukan di lepas pantai Brasil dan Kepulauan Karibia. Perahu-perahu itu diduga berangkat dari Afrika menuju Kepulauan Canary sebelum akhirnya hanyut melintasi Samudra Atlantik.

Menurut IOM, lebih sedikit orang mencoba rute migrasi berbahaya di Amerika Utara dan Selatan pada 2025. Tercatat ada 409 kematian, angka terendah sejak pencatatan data dimulai pada 2014.

Sementara itu, untuk tahun ketiga berturut-turut, jumlah kematian tertinggi terjadi di Asia serta di jalur antara Tanduk Afrika, Yaman, dan negara-negara Teluk. Hampir 4.000 orang meninggal di kawasan tersebut. Lonjakan ini sebagian besar dipicu meningkatnya jumlah warga Afganistan yang melarikan diri dari negaranya.

Bagaimana cara menghentikan jatuhnya korban?

IOM menyatakan perlu segera meningkatkan operasi pencarian dan penyelamatan secara terkoordinasi untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa, sekaligus memperkuat kerja sama internasional dalam membongkar jaringan kriminal penyelundupan migran.

"Angka kematian yang terus bertambah di rute migrasi merupakan kegagalan global yang tidak bisa kita anggap sebagai hal biasa," kata Direktur Jenderal IOM Amy Pope.

"Kematian ini bukan sesuatu yang tak terhindarkan. Ketika jalur yang aman tidak tersedia, orang-orang terpaksa menempuh perjalanan berbahaya dan bergantung pada jaringan penyelundupan serta perdagangan manusia. Kita perlu memperluas jalur migrasi yang aman dan teratur, serta memastikan mereka yang membutuhkan dapat dijangkau dan dilindungi, tanpa memandang statusnya," pungkasnya.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Pratama Indra

Editor: Muhammad Hanafi

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait