Orange Day: Warisan Saudari Mirabal untuk Gerakan Perempuan
25 November 2025
Pada 25 November 1960, tiga saudari, Patria, Minerva, dan Maria Teresa Mirabal, ditemukan tewas di dasar jurang dekat La Cumbre, sebuah jalan pegunungan di Republik Dominika.
Jeep yang mereka tumpangi jatuh 150 meter menjadi tumpukan yang hancur. Tampak seperti kecelakaan, kecuali tubuh mereka, dan juga sopir mereka, menunjukkan tanda-tanda pemukulan dan strangulasi.
Republik Dominika saat itu berada di bawah pemerintahan Rafael Leonidas Trujillo Molina, seorang diktator yang rezimnya selama lebih dari 30 tahun ditandai dengan sensor, pengawasan, dan represi brutal. Para pembangkang sering dibungkam tanpa hukuman.
Saudari Mirabal termasuk di antara mereka. Lahir dalam keluarga yang cukup berada, kesadaran politik mereka muncul sejak dini karena penyalahgunaan kekuasaan rezim, yang juga dirasakan secara pribadi.
Minerva, perempuan pertama yang meraih gelar hukum di negara itu, pernah menolak pendekatan seksual Trujillo. Ia dilecehkan, dilarang memperoleh lisensi praktik, dan ditempatkan di bawah pengawasan terus-menerus.
Sejarawan Nancy P. Robinson menulis pada 2006: "Kebencian Trujillo terhadap saudari-saudari ini bukan hanya politis, tetapi juga pribadi: Dia sangat marah kepada Minerva karena menolak pendekatannya, menganggap ini sebagai penghinaan terhadap machismo yang menjadi kekuatan kepemimpinannya yang otoriter."
Bangkitnya 'The Butterflies'
Bersama saudari dan suami mereka, Minerva membantu membentuk "Gerakan 14 Juni", jaringan rahasia yang mendistribusikan pamflet, mengorganisir sel perlawanan, dan mengekspos kejahatan rezim.
Nama kode saudari itu adalah "Las Mariposas," atau "The Butterflies." Minerva dan Maria Teresa beberapa kali ditangkap dan dibebaskan karena aktivitas perlawanan mereka.
Pada hari mereka meninggal, saudari-saudari itu dalam perjalanan pulang dari mengunjungi suami mereka yang dipenjara. Mobil mereka dicegat oleh polisi rahasia Trujillo, yang mencekik dan memukuli mereka sampai tewas. Tubuh mereka kemudian dimasukkan ke dalam jeep, yang didorong dari tebing untuk menutupi pembunuhan itu sebagai kecelakaan.
Meskipun Trujillo menampilkan diri sebagai pendukung hak-hak Perempuan, ia memberikan hak pilih kepada perempuan pada 1942 dan mengirim salah satu delegasi perempuan pertama ke PBB, kenyataannya, perempuan dalam jabatan politik dalam pemerintahannya tidak memiliki kekuasaan atau legitimasi nyata karena kediktatorannya memperkuat idealisme ketidakmampuan perempuan, domestisitas, dan kepatuhan kepada laki-laki. Ilusi tentang kemajuan ini hancur setelah "Las Mariposas" dibunuh dengan impunitas oleh rezimnya.
Trujillo dibunuh enam bulan kemudian, dengan pembunuhan saudari-saudari itu secara luas dipandang sebagai titik balik dalam kejatuhan rezimnya.
Dari tragedi lokal menjadi pemicu global
Minerva Mirabal sering berkata dengan penuh firasat: "Jika mereka membunuh saya, saya akan menjangkau tangan dari kubur dan saya akan lebih kuat."
Pada 1981, kaum feminis Amerika Latin berkumpul di Bogotá dan mengusulkan 25 November sebagai hari untuk menghormati korban kekerasan berbasis gender, sehingga lahirlah Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan. Tujuan mereka tidak hanya untuk memperingati saudari Mirabal, tetapi juga menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya masalah pribadi: ini terkait dengan sistem kekuasaan dan penindasan yang lebih luas.
Sepuluh tahun kemudian, Women's Global Leadership Institute meluncurkan kampanye 16 hari untuk menyoroti kebutuhan menghapus kekerasan berbasis gender, yang kini berlangsung setiap tahun dari 25 November hingga 10 Desember, yang menandai Hari Hak Asasi Manusia. Upaya ini meletakkan dasar untuk kampanye berikutnya, termasuk inisiatif UN Women "Orange the World" yang diluncurkan pada 2014.
Warna oranye dipilih untuk melambangkan harapan dan masa depan bebas dari kekerasan. Ini telah menjadi simbol visual, baik melalui spanduk, media sosial, atau bangunan terkenal yang diterangi cahaya oranye.
Pola penindasan global
Feminis Mirabal bukanlah tragedi yang terisolasi, ini bagian dari kontinu panjang kekerasan terhadap perempuan, dan perlawanan terhadapnya.
Pada 2006, aktivis AS Tarana Burke menciptakan istilah "Me Too" untuk mendukung penyintas kekerasan seksual, terutama perempuan muda dari komunitas kulit berwarna. Lebih dari satu dekade kemudian, tagar #MeToo meledak secara global setelah terungkapnya berbagai tuduhan pelecehan seksual terhadap produser film Harvey Weinstein. Jutaan orang berbagi pengalaman mereka dan menuntut akuntabilitas pelaku.
Pada 2022, Jina Mahsa Amini, seorang perempuan Kurdi Iran berusia 22 tahun, meninggal saat berada di tahanan polisi setelah ditangkap karena diduga melanggar aturan hijab Iran.
Kematian ini memicu protes anti-rezim terbesar dalam sejarah Republik Islam. Dipimpin oleh perempuan, gerakan ini mengadopsi slogan "Woman, Life, Freedom", sebuah frasa yang berakar pada gerakan kebebasan Kurdi.
Baik Amini maupun gerakan tersebut dianugerahi Penghargaan Sakharov 2023 untuk Kebebasan Berpikir oleh Parlemen Eropa.
Disinformasi gender secara daring
Saat saudari Mirabal hidup, era media sosial belum ada, tetapi mereka tahu apa artinya diawasi, diancam, dan dihukum karena bersuara. Demikian juga generasi perempuan dan anak perempuan yang menghadapi kekerasan, baik di rumah, di tempat kerja, di jalanan kota damai, maupun di zona konflik.
Kini, mereka juga menghadapi kekerasan digital, fokus dari Orange Days 2025.
Kekerasan berbasis gender yang difasilitasi teknologi semakin dimanfaatkan untuk melecehkan, membungkam, dan menyakiti perempuan. Deepfake yang dihasilkan AI, penguntitan daring, penyebaran data pribadi secara daring (doxxing), dan ancaman daring merembet ke kehidupan nyata, menimbulkan ketakutan dan membahayakan nyawa.
Ahli kesetaraan gender UN Women, Lucina Di Meco, menjelaskan bahwa disinformasi gender daring adalah "penyebaran informasi dan gambar yang menyesatkan atau tidak akurat terhadap pemimpin politik perempuan, jurnalis, dan figur publik perempuan" yang memanfaatkan misogini dan stereotip sosial, "menggambarkan mereka sebagai tidak dapat dipercaya, bodoh, emosional, atau seksual."
Masih relevan 65 tahun kemudian
Di Filipina, jurnalis Maria Ressa menghadapi serangan digital berkelanjutan melalui bot, akun palsu, dan kampanye kebencian karena mengungkap korupsi di bawah Presiden Rodrigo Duterte.
Rekan sejawatnya di Brasil, jurnalis investigatif Patricia Campos Mello, dilecehkan daring setelah meliput kampanye presiden Jair Bolsonaro, menerima hinaan seksual, ancaman pemerkosaan, dan video fitnah yang menuduhnya sebagai pelacur.
Lebih baru lagi, pada September 2025, femisida dua perempuan muda dan seorang remaja perempuan di Argentina disiarkan langsung melalui grup media sosial pribadi kepada sekitar 45 orang, setelah perselisihan dengan geng narkoba. Video ini dilaporkan dimaksudkan sebagai "peringatan" terhadap pencurian narkoba.
Insiden ini mengejutkan dunia, menyoroti bagaimana contoh ini dan lainnya, melintasi batas negara dan platform, mencerminkan kelangsungan kekerasan berbasis gender. Enam puluh lima tahun setelah pembunuhan saudari Mirabal, 25 November terus menjadi momen global untuk menghadapi kenyataan ini.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid