Pasar Beri Reaksi Positif Terhadap Hasil Hitung Cepat Pemilu 2019 | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 18.04.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Ekonomi

Pasar Beri Reaksi Positif Terhadap Hasil Hitung Cepat Pemilu 2019

Pasar saham Indonesia menunjukkan reaksi positif terkait dengan hasil sementara hitung cepat pemilihan presiden dan calon presiden yang menunjukkan pasangan Jokowi-Ma'ruf lebih unggul dibandingkan Prabowo-Sandi.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari Kamis (18/04) ditutup di level 6.507,221 atau naik sebesar 0,40 persen. 

Sementara nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat hingga berita ini diturunkan berada pada titik Rp 14.042,5 per Dolar AS.

Ekonom Bank DBS Masyita Crystallin seperti dikutip dari Detik Finance menjelaskan usai Pemilu biasanya pasar merasa lebih optimis.

"Ini sesuatu yang wajar dan expected, bisa jadi sebagian dari upside terhadap Rupiah ini sudah price in sebelumnya," kata dia. 

Investor bernapas lega

Para investor asing juga bisa menarik napas lega dengan prediksi kemenangan Joko Widodo pada pemilu presiden Rabu (17/04).

Daftar area yang kemungkinan akan dia tangani selama masa kerjanya adalah penurunan investasi asing, sistem pendidikan yang bermasalah serta aturan terkait ketenagakerjaan yang dinilai sangat membatasi.

"Kalau kemenangan presiden berkisar 52-55 persen itu akan menjadi hal yang baik," kata seorang pejabat senior pemerintahan Jokowi seperti dikutip dari Reuters."Itu akan memicu dia (Joko Widodo) untuk melanjutkan dan bahkan mungkin mempercepat reformasi ekonomi."

Jokowi tampaknya akan segera bisa mewujudkan program-program kerjanya mengingat hasil sejumlah lembaga survei yang kredibel yang mendukung kemenangannya. Para investor sebelumnya bersikap menunggu jika saja Prabowo keluar menjadi pemenang pemilu, mengingat kebijakannya selama kampanye yang cenderung berhaluan ekonomi nasionalis.

Meski demikian, sejumlah analis mengatakan masih ragu jika Jokowi akan benar-benar melakukan agenda reformasinya, mengingat lawannya dari kalangan konservatif yang tetap kuat serta sentimen tarhadap modal asing, khususnya dari Cina.

Banyaknya kesimpangsiuran dalam peraturan berinvestasi di Indonesia tampaknya masih akan menjadi ganjalan jika tidak segera dibenahi.

Selama memimpin di periode 2014-2019, Jokowi dikenal dengan kebijakan infrastrukturnya yang tergolong ambisius. Proyek infrastruktur di bawah pemerintahanya termasuk pembangunan jalan, jalan tol dan bandar udara di sejumlah wilayah di Indonesia. 

ae/ts (idx.co.id, detikfinance, reuters, AFP)

Laporan Pilihan