Partai Konservatif Menang Pemilu Austria, Peluang Partai Hijau Masuk Pemerintahan? | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 30.09.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Austria

Partai Konservatif Menang Pemilu Austria, Peluang Partai Hijau Masuk Pemerintahan?

Partai konservatif Austria ÖVP pimpinan Kanselir Sebastian Kurz memenangkan pemilihan parlemen hari Minggu (29/9). Terbuka peluang pembentukan koalisi Konservatif dan Partai Hijau yang pertama di Austria.

Partai Rakyat Austria ÖVP pimpinan Kanselir Sebastian Kurz memenangkan pemilihan parlemen Austria yang dilangsungkan hari Minggu (29/9). Partai konservatif itu memenangkan 38,4 persen suara, naik sekitar 6,4 poin dibandingkan dengan pemilu 2017.

Sedangkan bekas mitra koalisinya, partai ultra kanan FPÖ terjun bebas hampir 9 poin dan hanya mampu mengumpulkan sekitar 17,3% suara. Reputasi FPO tercoreng awal tahun ini setelah majalah berita Jerman "Der Spiegel" tentang pertemuan ketua FPÖ dengan seorang perempuan muda yang memperkenalkan diri sebagai keponakan orang kaya Rusia. Peristiwa itu dikenal dengan sebutan "Skandal Ibiza".

Partai Sosialdemokrat SPÖ anjlok hampir lima poin menjadi sekitar 21,5%. Inilah hasil pemilu terburuk SPÖ sejak Perang Dunia II. Sementara Partai Hijau mencatat kenaikan sensasional sampai 8,4 poin dan merebut 12,4% suara. Partai pro-bisnis Neo merebut 7,4% suara, naik 2,1 poin dibanding pemilu lalu, dan menjadi kekuatan kelima di parlemen Austria. Partai-partai lain tidak berhasil menembus ambang batas 4 persen.

Dengan konstelasi itu, ÖVP pimpinan Sebastian kurz bisa membentuk koalisi dengan Partai Hijau atau dengan SPÖ.

Pemilu, Austria

Pendukung partai konservatif merayakan kemenangan kandidat utamanya Sebastian Kurz

Kemungkinan koalisi: Partai Hijau calon terkuat

"Hari ini, warga telah memilih kami untuk kembali ke tampuk kekuasaan," kata Sebastian Kurz kepada para pendukungnya setelah pemungutan suara. Namun Kurz tidak mengatakan, dengan partai mana dia akan melakukan pembicaraan pembentukan pemerintahan koalisi.

Ketua FPÖ Norbert Hofer mengatakan, partainya akan memilih untuk duduk di bangku oposisi. Sosialdemokrat SPÖ ikut pemerintahan, namun Ketua SPÖ Pamela Rendi-Wagner mengatakan: "Bukan itu yang kami harapkan. Bukan itu yang kami perjuangkan."

Ketua Partai Hijau Austria Werner Kogler mengakui bahwa partainya diuntungkan dari meningkatnya fokus pada isu perubahan iklim, khususnya di kalangan pemilih muda. Dia mengatakan masih terlalu dini untuk membicarakan kemungkinan koalisi, namun untuk itu ÖVP harus "berubah secara radikal" pada isu iklim dan kemiskinan.

Tonton video 02:40

Austrian election: Will Sebastian Kurz change direction?

Skandal Ibiza

Pemungutan suara hari Minggu adalah pemilu yang dipercepat, menyusul bubarnya koalisi ÖVP-FPÖ pada Mei lalu, setelah Ketua FPÖ saat itu, Heinz-Christian Strache, terpaksa mengundurkan diri karena "Skandal Ibiza".

Majalah berita Jerman "Der Spiegel" ketika itu mendapat rekaman video dari tempat berlibur Strache di Ibiza, Spanyol. Video yang direkam secara diam-diam itu menunjukkan Strache yang agak mabuk sedang menjanjikan proyek-proyek pemerintah kepada "perempuan keponakan orang kaya Rusia", sebagai imbalan kalau dia dan partainya mendapat dukungan dalam kampanye dan berhasil memenangkan pemilu. Perempuan Rusia itu ternyata palsu dan video rekaman tersebut hanya jebakan media buat sang politisi.

Sejak Perang Dunia II sampai 2017, Austria selalu diperintah oleh ÖVP atau SPÖ, atau koalisi kedua partai. Tahun 2017, ÖVP berkoalisi dengan ultra kanan FPÖ namun tersandung Skandal Ibiza. Hasil pemilu kali ini membuka peluang bagi pembentukan pemerintahan koalisi ÖVP dan Partai Hijau untuk pertama kalinya di Austria.

hp/vlz (dpa, afp, rtr)

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait