Parasite: Ketika Film Berbahasa Asing Menguak Cakrawala Oscar | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 12.02.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia Film

Parasite: Ketika Film Berbahasa Asing Menguak Cakrawala Oscar

Kemenangan “Parasite” arahan sutradara Bong Joon-ho dalam empat kategori, antara lain sebagai film terbaik, menandai perubahan besar di ajang bergengsi Piala Oscar.

Pada waktu sutradara Parasite, Bong Joon-ho, menerima penghargaan Oscar untuk kategori film terbaik pada Academy Awards ke-92 di Los Angeles, yang lebih dikenal sebagai ajang Piala Oscar, dunia film Korea Selatan tiba-tiba jadi sorotan media.

Bagi para penggemar film Asia, kemenangan Parasite sebenarnya bukan kejutan lagi. Sebelumnya, film yang aslinya berbahasa Korea itu sudah menang di berbagai festival film bergengsi, seperti Festival Film Cannes di Prancis.

Patrick Brzeski yang menulis untuk The Hollywood Reporter menggambarkan kemenangan Parasite sebagai "tonggak baru” dalam banyak hal.

"Sebelum ini, tidak ada film Korea yang pernah dinominasikan untuk kategori apa pun di Oscar," katanya kepada DW. "Para kritikus dan pecinta film sudah lama menganggap ini sebagai skandal, mengingat industri film Korea terus-menerus menghasilkan film inovatif selama lebih dari 20 tahun terakhir."

Bong Joon-ho, film, Parasite, BAFTA, Inggris

Bong Joon-ho dengan film Parasite sebelum Oscar juga sudah meraih penghargaan di ajang BAFTA di London, Inggris

Momen simbolis yang kuat di ajang Oscar

Penghargaan Oscar untuk Parasite mengoreksi situasi "yang memalukan" ini, kata Patrick Brzeski. Pilihan Hollywood kali ini membuka cakrawala baru.

"Mengingat adanya protes terus-menerus tentang kurangnya keragaman dan representasi di Hollywood dan di Oscar, fakta bahwa Parasite, sebuah film yang sepenuhnya berbahasa Korea dan dibintangi oleh para pemain Korea, adalah momen simbolis yang kuat."

Pada tahun-tahun sebelumnya, beberapa film berbahasa asing memang berhasil masuk nominasi untuk kategori film terbaik. Tapi Parasite akhirnya yang membuktikan bahwa sebuah film "dari mana pun, dalam bahasa apa pun, sekarang mampu memenangkan penghormatan tertinggi Hollywood," kata Patrick Brzeski.

Parasite jadi kebanggaan nasional

David Tizzard, komentator sosial dan asisten profesor di Seoul Women's University mengatakan, kemenangan Parasite telah "memicu curahan euforia nasional" di Korea Selatan.

"Seperti di negara-negara Barat ketika tim nasional bermain di turnamen seperti Piala Dunia sepak bola, warga Korea Selatan memiliki kegembiraan kolektif dan semangat kebersamaan dalam ajang-ajang budaya seperti ini, sehingga seluruh negara bersatu di belakang Parasite," katanya kepada DW. "Mereka mungkin berbeda pendapat tentang pemerintah, tentang keadaan ekonomi, tetapi sama sekali tidak ada perbedaan tentang ini."

Distributor film Korea Selatan juga kemungkinan akan mendapat curahan keuntungan dari kemenangan Parasite. Dengan anggaran hanya 13 miliar won Korea Selatan atau sekitar 11 juta dolar AS, Parasite telah menghasilkan lebih dari 170 juta dolar secara global.

Parasite memang bukan film pertama dari Korea Selatan yang menembus pasar internasional. Tahun 2003, film Oldboy karya sutradara Park Chan-wook, mendapat sambutan besar dan kemudian diproduksi ulang oleh sutradara kondang Spike Lee. Namun keberhasilan Parasite di ajang Oscar tentu saja sangat berarti untuk melambungkan lebih banyak film-film Korea ke layar perak dunia. (hp/ae)