Panglima Militer AS di Jakarta | Fokus | DW | 13.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Panglima Militer AS di Jakarta

Kerja sama bilateral dan situasi Irak menjadi agenda utama dalam pertemuan panglima militer AS Peter Pace dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa.

default

Ditemukan bukti mengenai pasokan bahan peledak dari Iran kepada para pelaku serangan maut di Irak. Sejumlah warga Iran tertangkap pula dalam berbagai operasi penyergapan. Namun panglima angkatan bersenjata Amerika Serikat, Jenderal Peter Pace mengatakan, itu tidak berarti pemerintah Iran terlibat langsung dalam berbagai kekerasan yang dilancarkan milisi Shiah di Irak.

Jenderal Peter Pace mengemukakan hal itu di Jakarta, usai pertemuan dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Disebutkan orang nomor satu militer Amerika itu, di luar ketegangan hubungan dengan Iran, militer Amerika akan melanjutkan upaya perburuan terhadap siapapun yang menjadikan tentaranya sebagai sasaran pembunuhan di Irak.

Kekacauan dan spiral kekerasan di Irak merupakan salah satu topik pembicaraan yang paling banyak dibahas. Presiden Susilo Bambang Yudhono pun mengajukan usulan Indonesia untuk memulihkan situasi di negeri seribu satu malam itu. Diungkapkan Jenderal Pace kepada wartawan:

Mengenai Irak, terdapat sebuah kebenaran fundamental: bahwa tindakan militer semata tidak akan menyelesaikan masalah. Ada tiga yang harus diwujudkan. Pertama terciptanya keamanan. Kedua, tata pemerintahan yang baik. Ketiga harus terbentuk peluang ekonomi, kesempatan kerja. Dan presiden Yudhoyono mengajukan sebuah gagasan yang sangat bagus mengenai bagaimana memperkuat pemerintahan sekaligus menyediakan lapangan kerja, sehingga perdamaian dan keamanan bisa terwujud di Irak.

Jenderal Peter Pace mengunjungi Jakarta, usai lawatannya di Australia. Selain bertemu presiden SBY, jenderal Pace juga melakukan pembicaraan dengan para perwira militer Indonesia. Situasi internasional lain yang dibahas adalah kemajuan perundingan penghentian bom nuklir Korea Utara, sengketa nuklir Iran, dan perkembangan teknologi militer Cina. Terutama berkaitan ujicoba peluru anti satelit negeri tirai bambu itu. Namun disebutkan Peter Pace, Amerika tidak menganggap Cina sebagai ancaman. Karena Cina tidak menunjukan perilaku militer yang agresif. Namun Peter Pace tidak menyinggung ancaman militer Cina terhadap Taiwan.

Khusus mengenai Indonesia, Jenderal Peter Pace mengungkapkan, 10 tahun lalu memang terdapat masalah mengenai militer Indonesia. Yang dimaksud terutama adalah peristiwa Santa Cruz, Dili, 1991 dan berbagai operasi militer Indonesia lain. Karenanya Amerika waktu itu memberlakukan embargo persenjatan. Namun dikatakan ia lega periode itu sudah berlalu. Dan belakangan hubungan militer Amerika dan Indonesia pulih. Sekarang, melalui kunjungan ini, kata Peter Pace:

"Saya ingin mengetahui bagaimana militer Amerika Serikat dan Indonesia bisa melanjutkan kerja sama dan memperkuat ikatan persahabatan antara kedua bangsa. Apa saja latihan kemiliteran dan hal-hal lain yang bisa dilakukan bersama di masa depan, yang baik bagi Indonesia dan Amerika Serikat. Saya menyimak pandangan presiden Yudhoyono mengenai kawasan ini.

Salah satu yang dijajaki kemungkinannya, adalah kerja sama Amerika Serikat dan Indonesia dalam menjaga perairan Sumatera, khususnya Selat Malaka, yang merupakan salah satu perairan yang paling rawan perompakan bajak laut. ***