Netanyahu: Kami Ingin Memiliki Hubungan Luar Biasa dengan Indonesia | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 15.10.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Diplomasi

Netanyahu: Kami Ingin Memiliki Hubungan Luar Biasa dengan Indonesia

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel ingin memiliki hubungan yang luar biasa dengan Indonesia. Bagi Israel, banyaknya turis Indonesia - Islam dan Kristen - menjadi daya tarik.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu pada hari Minggu (14/10) menyebutkan ingin membuka dan meningkatkan hubungan diplomatik dengan Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar dunia.

"Indonesia sangat, sangat penting bagi kami. Satu dari sedikit negara di dunia yang tidak memiliki hubungan yang terbuka dan kuat dengan Israel...," ungkapnya dalam sebuah konferensi internasional untuk jurnalis Kristen di Yerusalem,

"Penduduk Indonesia lebih 200 juta orang. Ada Muslim. Ada puluhan juta umat Kristen. Kami ingin melihat mereka datang ke sini. Kami ingin memiliki hubungan yang luar biasa dengan mereka," kata Netanyahu ketika menjawab pertanyaan jurnalis Indonesia, Monique Rijkers dalam sebuah konferensi.

Pendiri Haddasah of Indonesia itu mengajukan pertanyaan kepada Netanyahu sambil meminta agar Israel membuka pintu perbatasan negaranya bagi warga Indonesia agar bebas mengunjungi Israel. Monique Rijkers merujuk pada moratorium yang sempat melarang turis asal Indonesia memasuki Israel

"Saya akan mengusahakan visa tersebut, dan akan melihat apa yang bisa saya lakukan," ujar Netanyahu menutup penjelasannya seperti dikutip dari The Times of Israel.

Meski Indonesia dan Israel secara resmi tidak memiliki hubungan diplomasi, namun ada hubungan dagang dan wisata antara kedua negara. Juni lalu, akibat ada larangan dari Israel, ribuan wisatawan religi dari Indonesia harus membatalkan rencana perjalananya ke Israel.

Kenapa Indonesia penting bagi Israel?

Pernyataan Netanyahu ini menurut pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk menjadi mediator dalam konflik Palestina dan Israel.

"Pertama, Indonesia memang penting bagi Israel, sebagai negara Muslim terbesar dan moderat, dibanding negara-negara Arab," ujar Faisal seperti dikutip dari Detik News. "Tidak harus membuka hubungan diplomatik karena bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945. Tapi setidaknya mau berbicara dengan Israel kalau perlu menjadi tuan rumah untuk perundingan antara Palestina dan Israel," ungkap jurnalis sekaligus pendiri situs albalad.co tersebut.

Berbagai cara membuka jalan

Awal Oktober, Israel menyebutkan telah mengirimkan bantuan ke Indonesia sebagai reaksi atas bencana yang menewaskan lebih dari 2000 orang akibat gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah. Namun, karena hubungan diplomatik yang sensitif antara Indonesia dan Israel,  Kementerian Luar Negeri dan kantor Perdana Menteri Israel menolak berkomentar.

Netanyahu pada pertemuan yang sama juga menyinggung kemungkinan membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim di Afrika, sambil menyebutkan bahwa banyak negara di dunia yang tertarik bekerja sama dengan Israel untuk memerangi teroris.

Fakta ini, ungkapnya "membuka jalan agar semakin banyak negara mau mengakui Israel, dan saya pikir Anda akan mendengarnya segera."

ts/hp (Times of Israel, detik.com, abc)