Negosiator Nuklir Utama Korea Utara Adakan Pertemuan di AS | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 18.01.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Konflik Nuklir

Negosiator Nuklir Utama Korea Utara Adakan Pertemuan di AS

Negosiator utama dan mantan Pemimpin Badan intelijen Korea Utara, Kim Yong Chol, direncanakan akan bertemu Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan, mungkin, Presiden Trump. Gedung Putih ingin mengadakan KTT kedua.

Negosiator utama Korea Utara, Kim Yong Chol tiba di ibukota AS, Washington Kamis sore, sejalan dengan upaya Washington dan Pyongyang untuk memulai persiapan putaran perundingan tingkat tinggi berikutnya antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

Kim Yong Chol, yang dulunya pemimpin dinas rahasia, direncanakan akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo hari ini, bahkan mungkin juga dengan Trump. Kim Yong Chol dilaporkan membawa surat dari Kim Jong Un yang ditujukan bagi Presiden Trump.

Kunjungan Kim Yong Chol ke AS jadi isyarat adanya upaya-upaya baru untuk mengurangi sikap bermusuhan antar kedua negara, yang terhenti dalam beberapa bulan terakhir.

Setelah kedua pemimpin negara bertemu dalam perundingan bersejarah, Juni 2018 di Singapura, Donald Trump telah menyatakan awal baru dalam hubungan antar kedua negara. Namun demikian, setelahnya tampak jelas terjadi salah pengertian antar kedua belah pihak tentang janji yang diberikan dalam perundingan. Dan desakan yang dilancarkan terhadap Korea Utara untuk melucuti senjata nuklirnya tidak berhasil.

Walaupun selama ini kemajuan tersendat-sendat, Gedung Putih ingin mengadakan KTT berikutnya. Selain itu Pyongyang tampaknya menginginkan pernyataan lebih jelas dari pemerintahan AS di bawah Trump, apa yang akan diperoleh Korea Utara sebagai ganti penghentian program peluru kendalinya.

Vietnam, yang selama ini punya hubungan baik dengan Amerika Serikat dan Korea Utara, kemungkinan akan jadi lokasi KTT kedua.

Ed.: ml/na (AP, Reuters)

 

Laporan Pilihan