1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Seorang jurnalis berjalan di reruntuhan bangunan di Byshiv, Ukraina
Zelenskyy mengatakan pasukan Ukraina telah memaksa Rusia untuk mengurangi operasinya di sekitar ibu kota KyivFoto: Rodrigo Abd/AP Photo/picture alliance
KonflikEropa

Negosiasi Positif, Rusia Siap Turunkan Serangan di Ukraina

30 Maret 2022

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan sinyal positif muncul dari pembicaraan damai di Turki pada Selasa (29/03), tetapi dia skeptis terhadap janji Rusia untuk mengurangi serangan di dekat Kyiv dan Chernihiv.

https://p.dw.com/p/49Ck1

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa pembicaraan damai antara delegasi Ukraina dan Rusia memberikan beberapa sinyal positif. Rusia berjanji mengurangi operasi militerya untuk meningkatkan rasa saling percaya dalam pembicaraan damai. Meski begitu, Zelenskyy mengatakan pihaknya tetap waspada karena pasukan Rusia masih berada di tanah Ukraina.

"Musuh masih berada di wilayah kami," kata Zelenskyy dalam postingan videonya, Selasa (29/03) malam waktu setempat.

Setelah pembicaraan damai tatap muka antara Kyiv dan Moskow yang berlangsung di Turki pada Selasa (29/03), Rusia mengatakan akan secara signifikan mengurangi operasi militernya di dekat ibu kota Kyiv dan kota Chernihiv di Ukraina utara.

"Untuk meningkatkan rasa saling percaya dan menciptakan kondisi yang diperlukan untuk negosiasi lebih lanjut dan mencapai tujuan akhir berupa kesepakatan dan penandatanganan persetujuan, dibuat keputusan untuk secara radikal, dalam jumlah besar, mengurangi aktivitas militer yang mengarah ke Kyiv dan Chernihiv," ujar Wakil Menteri Pertahanan Rusia Alexander Fomin di Istanbul.

Zelenskyy mengatakan bahwa "tindakan berani dan efektif" pasukan Ukraina telah memaksa Rusia untuk mengurangi operasinya di sekitar Kyiv dan Chernihiv.

Ia pun mengatakan bahwa pembicaraan damai akan terus berlanjut, seraya menambahkan bahwa Kyiv tidak melihat alasan untuk percaya pada kata-kata dari beberapa perwakilan Rusia. Dia juga mengatakan bahwa negosiator Ukraina tidak akan berkompromi soal "kedaulatan dan integritas teritorial" negara itu.

"Kami dapat mengatakan bahwa sinyal-sinyal itu positif, tetapi sinyal-sinyal itu tidak menenggelamkan ledakan atau peluru Rusia," tukas Zelenskyy.

AS skeptis Rusia akan mengurangi aktivitas militer

Menyusul pengumuman bahwa Rusia akan mengurangi aktivitas militernya di sekitar Kyiv dan Chernihiv, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan dia tidak yakin bahwa janji Rusia untuk mengurangi operasi militernya tersebut akan membawa perubahan signifikan dalam konflik.

"Kami akan melihat apakah mereka menindaklanjutinya," kata Biden kepada wartawan setelah mengadakan panggilan telepon dengan para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia. "Sepertinya ada konsensus bahwa mari kita lihat apa yang mereka tawarkan."

Sementara itu, juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan bahwa pihaknya mencatat sejumlah tentara Rusia telah pergi.

"Apakah ada pergerakan oleh beberapa unit Rusia menjauh dari Kyiv dalam beberapa hari terakhir ini? Ya, kami kira begitu. Jumlahnya kecil," ujar Kirby.

"Namun, kami menganggap bahwa ini adalah reposisi, bukan penarikan mundur nyata, dan bahwa kita semua harus bersiap untuk waspada serangan besar-besaran terhadap wilayah lain di Ukraina. Itu tidak berarti bahwa ancaman terhadap Kyiv telah berakhir," sambungnya.

Kirby menambahkan bahwa angkatan bersenjata AS sedang mengerahkan pesawat dan pasukannya ke Eropa Timur, di antaranya adalah sekitar 200 unit marinir yang telah dikerahkan ke Lituania dari Norwegia. Sebanyak 10 jet tempur F/A-18 Hornet dan beberapa pesawat angkut C-130 Hercules, serta sekitar 200 tentara terkait, juga akan dibawa ke Eropa Timur dari AS. Namun, belum diketahui jelas ke negara mana mereka akan ditempatkan.

Rusia enggan menyebut invasi mereka sebagai perang, tetapi menyebutnya sebagai "operasi militer khusus" untuk demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina. Ukraina dan sebagian besar dunia telah mengutuk istilah itu sebagai dalih palsu untuk invasi ke negara demokratis.

rap/ha (AP, AFP, Reuters, dpa)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait