Nasionalis Skotlandia Berseteru Mencari Suara Mayoritas untuk Wujudkan Kemerdekaan | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 27.04.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Pemilu Skotlandia

Nasionalis Skotlandia Berseteru Mencari Suara Mayoritas untuk Wujudkan Kemerdekaan

Pemilu di Skotlandia pada awal Mei 2021 akan menjadi salah satu faktor penentu apakah negara itu akan memilih berpisah dari Inggris di masa mendatang. Semua mata akan tertuju pada Edinburgh Central.

Edinburgh, Skotlandia

*Bendera Union Jack dan Skotlandia berkibar di atas gedung-gedung di pusat Edinburgh, Skotlandia

Bagi kandidat Angus Robertson, membantu Partai Nasional Skotlandia (SNP) memenangkan mayoritas suara dalam pemilu 6 Mei mendatang akan menjadi mimpi yang menjadi kenyataan. Robertson hanya perlu "mencari inspirasi" untuk mendorong kemerdekaan yang akan mengakhiri 314 tahun persatuan antara Skotlandia dan Inggris.

Pemilu mendatang akan memilih anggota parlemen, 73 dipilih untuk mewakili daerah pemilihan, sementara 56 dipilih oleh sistem anggota tambahan.

Wacana kemerdekaan kembali muncul

Jajak pendapat menunjukkan mayoritas suara memilih untuk memisahkan diri dari Inggris. Robertson berharap mayoritas pemilih akan mendorong Perdana Menteri Inggris Boris Johnson melakukan hal yang sama.

Konservatif Skotlandia mengantongi 610 suara, sedangkan SNP membutuhkan empat kursi lagi untuk memenangkan mayoritas 65 kursi dari total 129 kursi parlemen dan mengklaim atas hak moral dan politik untuk memberikan suara pada kemerdekaan.

"Edinburgh Central adalah tempat yang sangat penting bagi SNP untuk mengamankan suara mayoritas," kata Robertson.

"Fakta bahwa SNP sedang mencalonkan diri untuk memenangkan kursi, melambangkan betapa kuatnya gerakan pro-kemerdekaan.”

Pertarungan berat

Jika kemerdekaan terwujud, Inggris akan kehilangan sekitar sepertiga daratannya, sepersepuluh populasinya, dan inti dari identitasnya.

Kemarahan atas Brexit dan kepercayaan terhadap pemerintah Skotlandia atas penanganan pandemi virus corona telah meningkatkan dukungan untuk mencapai kemerdekaan dan menuntut pemungutan suara kedua.

Namun, beberapa tantangan yang dihadapi Partai SNP memicu penurunan dukungan kemerdekaan menjadi 51%, menyusul perseteruan sengit antara pemimpin SNP dan menteri pertama Skotlandia, Nicola Sturgeon dan pendahulunya, Alex Salmond.

Menurut profesor politik di Universitas Edinburgh, James Mitchell, meski SNP adalah salah satu partai politik paling sukses di Eropa dan diprediksi akan memenangkan masa jabatan keempat, masalah perpecahan anggota telah terjadi selama beberapa dekade terakhir.

Dia mengatakan di antara aktivis ada rasa frustrasi yang meningkat atas strategi Sturgeon untuk memenangkan referendum baru dan kebijakan ekonomi sentrisnya. "Tetapi SNP memiliki tujuan yang lebih besar dan itu adalah kemerdekaan. Tidak banyak kemajuan dalam hal itu dan menimbulkan rasa pengkhianatan," ucapnya.

Perjuangan untuk Edinburgh

Di daerah pemilihan yang berjuang ketat seperti Edinburgh Central, kata Mitchell, ketidakpuasan dengan SNP dapat mengalihkan suara pemilih ke kandidat pro-kemerdekaan lainnya.

Robertson lahir di Inggris dari ayah Skotlandia dan ibu Jerman, dan memulai kariernya sebagai jurnalis di Austria. Dia adalah sekutu Sturgeon dan mantan wakil pemimpin SNP.

Angus Robertson

Kandidat SNP untuk Edinburgh Central, Angus Robertson, di markas kampanyenya di Edinburgh, Skotlandia

Lawan Konservatif Robertson, Scott Douglas, yang bekerja di bidang hubungan masyarakat untuk perguruan tinggi lokal, lahir di Inggris dari orang tua Skotlandia. Douglas percaya kemerdekaan adalah gangguan dari upaya menghidupkan kembali ekonomi pasca-pandemi Skotlandia.

"Kebanyakan orang yang saya ajak bicara tidak melihat perbedaan antara menjadi orang Inggris dan Skotlandia,” katanya kepada Reuters. "Kamu bisa menjadi keduanya.”

Namun, Robertson mengatakan pemerintah Inggris pada akhirnya akan mundur jika SNP memenangkan mayoritas. "Bahaya bagi Boris Johnson dan pemerintah Inggris, dengan menghalangi keinginan sah orang-orang di Skotlandia, adalah bahwa gerakan kemerdekaan berkembang menjadi gerakan demokrasi," kata Robertson.

ha/gtp (Reuters)

Laporan Pilihan