1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialAsia

Narasi Jalur Rempah Nusantara

Rahadian Rundjan, indonesischer Schriftsteller
Rahadian Rundjan
29 Januari 2022

Andai jalur rempah diterima UNESCO, lantas apa langkah Indonesia selanjutnya, terutama dalam konteks global? Ikuti opini rahadian Rundjan.

https://www.dw.com/id/narasi-jalur-rempah-nusantara/a-59620510
Rempah kayu manis
Rempah kayu manisFoto: Colourbox/Haivoronska_Y

Buku-buku sejarah kita kerap menyebutkan bahwa kedatangan orang-orang Eropa ke nusantara dilandasi atas semboyan "Gold, Glory, and Gospel”, yang ingin menyampaikan bahwa tujuan mereka adalah mendapatkan kekayaan besar, lantas membangun kejayaan supremasi politiknya, sembari menyebarkan agama Kristen agar penduduk yang mereka taklukkan dapat lebih mudah diatur. Narasi militeristik seperti ini terlanjur awam. Namun, saya kira narasi ini keliru karena menglorifikasi orang-orang Eropa sebagai pemain yang lebih superior dalam dinamika pelayaran dan perdagangan nusantara saat itu.

Armada kapal-kapal Eropa yang dipimpin Afonso de Albuquerque, Sebastian del Cano, Cornelis de Houtman, dan Francis Drake mungkin tidak benar-benar berpikir soal semboyan tersebut ketika mencari arah pelayaran ke nusantara. Ada sesuatu yang jauh lebih penting nilainya bagi mereka dan peradaban Eropa saat itu: rempah-rempah. Orang-orang Eropa tidak puas dengan rempah-rempah di negeri-negeri mereka yang mahal dan langka, karena ia adalah komoditi yang asalnya jauh dan telah berpindah tangan berkali-kali. Maka, berusahalah mereka untuk mencarinya sendiri ke nusantara.

Perairan nusantara saat itu terkenal sebagai jalur rempah, tempat rempah-rempah diperdagangkan secara damai, juga sebuah jalur kebudayaan maritim tempat sekian banyak macam orang bertemu dan bertukar gagasan. Orang-orang luar nusantara, seperti dari Arab, India, dan Cina, tidak keberatan untuk berdagang dengan adil. Terkecuali orang-orang Eropa tadi, yang justru menjadi penggangu (disruptor), dan dengan kekerasan mencoba untuk menjadi dominan. Benar, perdagangan rempah-rempah mungkin menjadi intens berkat pedagang-pedagang Eropa, namun itu berlanjut dengan penindasan yang perlahan-perlahan berubah menjadi penguasaan, atau kolonialisme.

Manfaat Ideologis Rempah-rempah

Mengembalikan dan mengeksplorasi ulang memori bersama kejayaan jalur rempah, khususnya sebagai jalur persahabatan dan pertukaran kebudayaan tersebut, kini menjadi program unggulan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Di Indonesia, ia bertujuan menguatkan jejaring sejarah dan kebudayaan daerah-daerah yang memiliki budaya rempah dengan jalur rempah sebagai narasi besarnya. Sedangkan tujuan lainnya, dan lebih besar, yakni untuk memanfaatkan narasi dan hasil-hasil kerja tersebut untuk menguatkan posisi Indonesia dalam usahanya mendaftarkan jalur rempah sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Kini setidaknya ada dua contoh situs serupa yang telah terdaftar, yakni Jalur Jalan Qhapaq Nan yang dulu merupakan sistem jalan raya transportasi, komunikasi, dan pertahanan Kekaisaran Inka di Amerika Selatan, dan Jalur Sutra Koridor Chang'an-Tiangshan di Cina dan Asia Tengah. Dengan program jalur rempah ini, Indonesia agaknya ingin mengulang keberhasilan diterimanya kedua jalur historis tersebut. Terlebih, ketika situs-situs budaya dan sejarah yang ada di sepanjang kedua jalur tersebut juga diakui nilai pentingnya, dan meningkatkan pariwisata negara-negara yang terlibat dalam pengajuannya.

@RahadianRundjan adalah esais, kolumnis, penulis dan peneliti sejarah
Penulis: Rahadian RundjanFoto: Rahadian Rundjan

Jalur rempah adalah fenomena maritim; dahulu laut dikenal sebagai penghubung antar wilayah, bukan pemisah seperti bagaimana ia kerap digambarkan di masa modern. Menekankan jalur rempah sebagai bagian dari karakter bangsa Indonesia menjadi penting, terlebih ketika pemerintahan Joko Widodo telah berikrar untuk menjadikan Indonesia poros maritim dunia. Tentu agar hal tersebut tidak sekedar berhenti di jargon semata, program jalur rempah ini dicanangkan sebagai salah satu solusinya. Jika pembangunan tol laut antar pulau adalah proyek infrastruktur, maka jalur rempah adalah proyek kultural-historis.

Artinya, narasi jalur rempah mustahil dibangun pemerintah saja. Sepanjang yang saya lihat, dari sudut pandang sejarawan, inisiasi jalur rempah ini cukup baik dalam mendorong sejarawan-sejarawan di berbagai daerah untuk menulis sejarah rempah-rempah di daerahnya sendiri, sehingga makin memperkaya historiografi Indonesia. Kita dapat mengetahui lebih jauh bagaimana pala dan cengkeh Maluku atau lada Banten dan Aceh membentuk karakter masyarakatnya, seperti kuliner, cerita-cerita rakyat, pengetahuan, sehingga kemudian muncul kesadaran bahwa rempah-rempah sesungguhnya membuat sistem kemasyarakatan mereka terhubung satu sama lain.

Namun dalam menuliskan sejarah-sejarah tersebut, ada baiknya kita juga dapat bersikap jujur. Kekayaan di jalur rempah tidak melulu menjadikan raja-raja lokal sebagai tokoh yang selalu bijak dan bersahaja. Di Aceh misalnya, Sultan Iskandar Muda terkenal kejam dalam membangun kekuatan politiknya. Pada awal abad ke-17, kebijakan konsolidasinya di Aceh dan wilayah kekuasaannya di Sumatera dan Semenanjung Malaya menggunakan cara-cara militeristik, bukan hanya terhadap pelaut-pelaut asing namun juga sesamanya, menjadikan Aceh sentra perdagangan lada yang disegani dan utama di nusantara.

Saya juga melihat jalur rempah akan bermanfaat dalam mempromosikan potensi Indonesia bagian timur yang sampai saat ini masih belum maksimal dieksplorasi. Perairan Kepulauan Maluku dahulu adalah garis akhir bagi para pencari rempah-rempah dari berbagai sudut dunia dan peristiwa-peristiwa paling menentukan dalam sejarah rempah-rempah terjadi di sana, seperti konflik Ternate-Portugis melawan Tidore-Spanyol, pendirian markas dagang pertama VOC di Ambon, konflik antara Inggris-Belanda dalam menguasai Banda, juga kesepakatan keduanya untuk menukar Pulau Run di Banda dengan New Amsterdam di Amerika.

Harapannya, situs-situs terkait sejarah rempah-rempah tersebut dapat menjadi daya tarik lokal dan mancanegara, khususnya bagi orang-orang Indonesia lainnya. Timur Indonesia menawarkan pengalaman alam dan budaya yang tidak kalah menarik dari luar negeri. Namun, akses transportasi ke sana yang mahal, misalnya biaya ke luar negeri yang cenderung lebih murah daripada ke Indonesia bagian timur, sering kali menjadi kendala. Program jalur rempah ini sebaiknya juga bisa bermanfaat dalam mempercepat usaha-usaha pembangunan, baik infrastruktur maupun manusia, di Indonesia bagian timur yang selama ini masih tertinggal.

Andai jalur rempah diterima UNESCO, lantas apa langkah Indonesia selanjutnya, terutama dalam konteks global? Cina sudah memanfaatkan prestise jalur sutranya untuk mendorong kebijakan "One Belt One Road” (OBOR), yang mereplikasi jalur sutra berabad-abad lalu untuk kepentingan diplomasi dan ekonomi modernnya. Indonesia bisa mengambil model Cina tersebut namun dalam konteks maritim, sekaligus untuk menghalau ambisi maritim Cina di perairan Asia-Pasifik. Paling tidak, dikenalnya jalur rempah kemudian akan menguatkan kedaulatan maritim Indonesia, dan menjadi modal ideologis dalam menghadapi sengketa Laut Cina Selatan.

Masa Lalu Untuk Masa Depan

Narasi jalur rempah sebagai bagian dari karakteristik bangsa Indonesia adalah hal yang perlu dipelajari. Kisah-kisah perdagangan, pertukaran kebudayaan, gagasan, dan pengetahuan di masa lalu melalui jalur rempah ini mengajarkan kita untuk tetap merasa terhubung dalam persaudaraan, dan tidak merasa superior, terhadap satu sama lainnya. Misalnya saja, sentimen Jawa-sentrisme yang masih mengakar dalam berbagai sektor kehidupan bisa perlahan-lahan dihilangkan berkat pemahaman jalur rempah: bahwa Indonesia bukanlah sebuah bentuk kolonialisme Jakarta terhadap daerah-daerah lain, namun transformasi modern dari semangat jalur rempah dahulu.

Saya percaya bahwa sejarah adalah cara untuk melihat masa depan. Sekarang rempah-rempah mungkin tak sepamor seperti dahulu, namun eksistensinya merajut satu kesadaran bersama yang perlahan-lahan berkembang menjadi nasionalisme Indonesia. Tak salah kalau warisan rempah-rempah, baik berupa ekonomi, sosial, dan budaya yang tercipta akibatnya, harus dirayakan demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Terdaftarnya jalur rempah di UNESCO adalah kesuksesan, namun kemenangan yang lebih besar adalah apabila jalur rempah tersebut menjadi penguat alasan bagi bangsa Indonesia untuk terus merasa bersatu.

@RahadianRundjan adalah esais, kolumnis, penulis dan peneliti sejarah


*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia menjadi tanggung jawab penulis