Muslimah Berhijab Pertama Duduk di Perlemen Israel | Mukalama | DW | 08.03.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

pemilu israel

Muslimah Berhijab Pertama Duduk di Perlemen Israel

Seorang muslimah anggota parlemen dari minoritas Arab di Israel akan menjadi yang pertama duduk di parlemen mengenakan jilbab.

Iman Yassin Khatib, yang berusia 55 tahun, memenangkan kursi di daftar koalisi Daftar Gabungan yang terdiri dari 15 kursi dari total 120 anggota Knesset. Ini terjadi setelah partai-partai Arab mengantongi jumlah terbesar pada pemilu minggu ini di Israel.

Dilansir dari Reuters, partai ini mengambil sebagian besar suaranya dari 21% minoritas Arab Israel - yang merupakan keturunan Palestina berkewarganegaraan Israel.

Ibu empat anak itu tadinya menjabat sebagai manajer di sebuah pusat komunitas di desa Yafat an-Nasreh di Galilea di pinggiran Nazareth, kota tempat Yesus dibesarkan, sebelum terjun ke dunia politik nasional.

"Tidak mungkin (jilbab) tidak akan menarik perhatian orang. Tetapi yang lebih penting adalah apa yang ada di dalamnya: kemampuan dan potensi untuk memajukan komunitas kami," kata Khatib ketika  menerima ucapan selamat dan berfoto di sebuah jalan di Nazareth.

Lihat di balik kerudung

Khatib mengatakan dia merasa jilbabnya terkadang membangkitkan sentimen anti-Islam di Israel, yang sembilan juta penduduknya sebagian besar adalah orang Yahudi.

"Setiap tantangan yang saya hadapi dalam hidup saya menjadi lebih sulit karena saya mengenakan jilbab," katanya. Tapi dia mendesak orang untuk "melihat sosok di balik kerudungnya".

Kelompok minoritas Arab-Israel sebagian besar adalah keturunan Palestina yang tinggal di bawah pemerintahan Utsmaniyah (Ottoman) dan kemudian kolonial Inggris sebelum bermukim di Israel. Kelompok ini didominasi kaum muslim, tetapi juga menjadi rumah bagi kaum Kristen dan Druze.

Banyak orang Arab di Israel mengeluhkan diskriminasi di bidang-bidang seperti kesehatan, pendidikan dan perumahan. Selain itu, para pemimpin Arab-Israel menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghasut mereka selama pemilihan umum baru-baru ini.

Partai Likud Netanyahu membantah dengan menyebutkan pemerintah menyiapkan rencana investasi sebesar 4,34 miliar dollar AS  untuk sektor Arab, jumlah investasi terbesar yang pernah dilakukan oleh pemerintah Israel.

Jumlah pemilih Arab melonjak menjadi 64,7% dalam pemilu kali ini, tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Situasi itu memberi koalisi Daftar Gabungan tambahan dua kursi lebih banyak di parlemen dibanding pemungutan suara September lalu.

Melonjaknya pemilih Arab di Israel

Ini adalah koalisi partai terbesar ketiga di Knesset setelah Partai Likud dan aliansi Biru dan Putih. Tetapi pengaruhnya kemungkinan akan terbatas karena tidak ada partai Arab yang pernah bergabung dengan pemerintah Israel.

Kaum analis menilai kemarahan terhadap Netanyahu dan sekutunya Donald Trump, sebagai salah satu alasan melonjaknya pemilih Arab dalam pemilu kali ini. Pemilu ini merupakan yang ketiga dalam setahun terakhir.

Khatib adalah satu dari empat anggota parlemen perempuan di antara anggota Knesset yang masuk dalam Daftar Gabungan. Dia termasuk faksi lslamisnya, Ra'am, mengkampanyekan lebih banyak pelayanan dan hak bagi orang Arab di Israel, dan mendukung pembentukan negara Palestina.

"Ada kesadaran yang tumbuh di kalangan perempuan Arab bahwa kita bisa menjadi peserta aktif di masa depan," ujar Khatib. "Pesan saya kepada remaja perempuan: selalu ada kemungkinan. Ada jalan. Jangan batasi harapan dan impianmu," pungkasnya. 

ap/vlz (rtr)