1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sepak BolaJerman

Mungkinkah Pengakuan Massal Atlet Sepak Bola Homoseksual?

Andreas Sten-Ziemons
15 Mei 2024

Pada tanggal 17 Mei mendatang, atlet sepak bola homoseksual diajak membuka diri dalam sebuah insiatif "Sports Free" yang dicanangkan di Jerman. Namun pengakuan massal diragukan bakal memberi dampak signifikan.

https://p.dw.com/p/4frxx
Bendera pelangi pro LGBTQ+
Ilustrasi homoseksualitas dalam sepak bola profesionalFoto: Revierfoto/imago images

Apa itu inisiatif Sports Free?

Sports Free mengadvokasi visibilitas dan penerimaan atlet queer dalam olahraga profesional. Pencetus inisiatif ini adalah Diversero, sebuah komunitas global untuk keberagaman dan melawan penindasan. Ketua dan salah satu penggagas kampanye "Sports Free” adalah Marcus Urban.

Siapa Marcus Urban?

Dia adalah mantan pemain sepak bola pertama di Jerman yang mengaku homoseksual secara terbuka pada tahun 2007 silam. Urban lahir pada tahun 1971 di Weimar, di wilayah bekas Jerman Timur, GDR.

Di awal karirnya, Urban dikenal sebagai talenta muda berbakat, yang menarik minat klub FC Rot-Weiss Erfurt di Thüringen. Di sana, dia bermain di liga junior dan sempat pula diundang ke tim nasional GDR.

Pada awal 1990an, dia nyaris menandatangani kontrak profesional, yang ditolaknya karena tidak mampu menghadapi tekanan untuk menyembunyikan identitas seksualnya.

Why soccer is hiding an uncomfortable truth

Apa misinya?

Pada tanggal 17 Mei 2024, bertepatan dengan Hari Internasional Melawan Homofobia, Bifobia, Interfobia, dan Transfobia atau IDAHOBIT, inisiatif ini menyediakan platform di mana atlet profesional dari kalangan LGBTQ+ dapat secara terbuka mengumumkan identitas seksualnya alias coming out.

"Kami mewadahi sebuah acara coming out bersama dan mengajak masyarakat untuk mendalami nilai-nilai inklusi,” demikian tulis Diversero dalam situs webnya. Tanggal mainnya sudah diumumkan pada November 2023 lalu. "Kami sedang membangun semacam dinding galeri digital,” jelas Urban dalam wawancara baru-baru ini dengan majalah Jerman Stern.

"Para pemain, pelatih, wasit atau orang lain dari lingkup sepak bola profesional dapat berbagi cerita di sana.”

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Nantinya, tanggal 17 setiap bulan berikutnya akan diperingati di seluruh dunia sebagai "Sports Free Day" untuk meningkatkan kesadaran akan tantangan yang dihadapi para atlet queer. Namun begitu, perhatian terbesar akan diberikan kepada pesepak bola profesional gay.

"Inisiatif ini adalah sebuah revolusi kecil,” kata Urban kepada DW April lalu. Dia mengaku dirinya berharap inisiatif ini akan memicu "reaksi berantai, serta membantu anak-anak, remaja dan orang dewasa di seluruh dunia, yang kini mempunyai teladan baru.”

Kekhawatiran bagi pesepak bola gay?

Homofobia masih tersebar luas di lingkungan sepak bola pria. Selain banyaknya yel-yel atau nyanyian anti-gay dari kelompok fans,  para pemain sendiri juga sering melontarkan komentar bernada homofobia di lapangan, seperti "Jenis umpan gay apa ini!?" atau "kamu bermain seperti seorang gay!".

Menurut Marcus Urban, atlet homoseksual lebih mengkhawatirkan reaksi kolega di lapangan dan di ruang ganti dibandingkan nyanyian para fans di atas tribun.

"Banyak pemain yang yakin, mereka tidak lagi diinginkan di dalam industri sepak bola jika mengaku diri homoseksual,” jelas Urban. Sebab itu mereka bersembunyi, menjalani kehidupan ganda, dengan pasangan perempuan dalam ikatan resmi tapi tetap menjalani kehidupan homoseksual secara rahasia.

Siapa atlet yang telah membuka diri?

Selain Urban, mantan pemain nasional Jerman Thomas Hitzlsperger termasuk yang paling dikenal di Jerman sebagai pesepakbola gay. Namun, Hitzlsperger baru membuka diri pada tahun 2014, setelah gantung sepatu. Belum pernah ada pesepak bola di Jerman yang mengakui homoseksualitas selama menjalani karir profesional.

Germany's Hitzlsperger hailed for coming out

Lagipula, tidak banyak atlet di seluruh dunia yang secara terbuka mengumumkan identitas seksualnya. Salah seorang yang paling pertama membuka diri adalah atlet Inggris Justin Fashanu pada tahun 1990 yang berakhir tragis. Fashanu menghadapi kebencian dan penolakan. Dia akhirnya bunuh diri pada tahun 1998 setelah seorang anak berusia 17 tahun menuduhnya melakukan pemerkosaan.

Setelah kasus tersebut, dibutuhkan waktu lama sampai akhirnya seorang atlet Amerika Serikat, Collin Martin, mengumumkan dirinya gay pada tahun 2018. Pengakuannya diteladani oleh Josh Cavallo dari Australia pada Oktober 2021, Jake Daniels di Inggris pada Mei 2022 dan Jakub Jankto dari Republik Ceko pada Februari 2023.

Di negara lain, ada juga beberapa pemain aktif di level semi-profesional, atau level amatir papan atas yang sudah membuka diri.

Apa kata kritik?

Inisiatif yang dicetuskan Urban ini dikhawatirkan tidak akan berjangka panjang, melainkan cuma menjaring perhatian sesaat tanpa benar-benar mengurangi homofobia di penjuru dunia.

"Ininisatif ini adalah pengalihan perhatian karena memberi orang perasaan bahwa masalah telah diatasi dan sudah ada perubahan, meskipun kenyataannya tidak demikian,” keluh peneliti homofobia asal Australia Erik Denison di stasiun radio Jerman Deutschlandfunk, DLF.

Kritik juga dilayangkan Asosiasi Sepak Bola Jerman, DFB, yang tidak dilibatkan. "Apa yang saya kira kurang dari kampanye ini adalah sebuah aliansi yang lebih luas sebagai pendukung,” kata Christian Rudolph kepada radio DLF. Dia mengepalai bagian keragaman gender dan seksual di DFB.

Dari 36 klub profesional dari Bundesliga 1 dan 2, sejauh ini hanya delapan klub yang bergabung dalam inisiatif Sports Free, yakni VfB Stuttgart, Hannover 96, VfL Osnabrück, SC Freiburg, Borussia Dortmund, TSG Hoffenheim, Union Berlin dan FC St. Pauli.

Hari keterbukaan pada 17 Mei?

Keraguan meluas bahwa hari keterbukaan bagi minoritas seksual di sepak bola akan menggerakkan atlet LGBTQ+ untuk mengumumkan identitas seksualnya. Pun, Marcus Urban enggan meluapkan harapan yang berlebihan.

"Pesepak bola aktif pasti akan menahan diri," kata dia kepada majalah Stern, dan mengakui dirinya kesulitan menjalin kontak dengan atlet gay lain. "Memang ada jejaring, tapi sifatnya rahasia," kata dia.

Urban sendiri harus berkomunikasi "secara susah payah" melalui orang ketiga. "Para atlet ini sangat berhati-hati. Tidak ada yang berani keluar dari persembunyian," pungkas dia.

Masih harus dilihat, apakah kampanye pro LGBTQ+ dalam sepak bola profesional hanya akan menarik perhatian media atau benar-benar memperbaiki situasi atlet homoseksual.

rzn/as