1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Batik Pakualaman
Salah satu serat di naskah Asthabrata. Serat ini dihiasi wedana renggan atau gambar ornamental yang menjadi rangka sebuah teks dalam naskah kunoFoto: K. Ayuningtyas/DW

Batik Pakualaman, Naskah Kuno Mewujud dalam Keindahan Batik

17 Desember 2021

Istana Pakualaman Yogyakarta melestarikan koleksi manuskrip kuno dan mengabadikannya dalam bentuk motif batik. Kain-kain ini diproduksi terbatas, menjadi incaran kolektor.

https://www.dw.com/id/motif-manuskrip-kuno-pada-batik-pakualaman/a-60154159

Batik-batik dari Pura Pakualaman, Yogyakarta, ini bernuansa sogan, putih, hitam dan biru. Ini bukan batik sembarangan, kata Suratmi, desainer batik Naskah Pakualaman. Suratmi atau Ami mengatakan batik-batik itu adalah interpretasi dari naskah dan serat-serat kuno peninggalan raja-raja Pakualaman.

Desain motifnya memang berbeda dengan motif batik kerajaan warisan masa lalu, lebih rumit dengan banyak detail, tetapi tetap indah. Setiap kain dilengkapi keterangan tentang nama motif batik tersebut, makna dan asal-muasal motifnya.

Salah satu motif yakni Asthabrata yang diambil dari tiga buah kitab kuno. Ada pula batik Bayu Krestala, Yama Linapsuh, dan Indra Widagda yang diambil dari dua naskah yaitu naskah Sestra Ageng Adidarma dan Sestradisuhul.

Setiap coretan motif batik ini memang terpilih lewat proses yang panjang dan melibatkan filolog atau peneliti naskah kuno. Kemudian, setelah naskah ditemukan akan dilakukan transliterasi dan dicari simbol-simbol yang nantinya bisa mewakili naskah yang ditransliterasikan.

"Ada kata-kata dan juga unsur-unsur yang menjadi kunci dari setiap naskah yang akan diwujudkan dalam bentuk motif batik," terang Dr. Sri Ratna Saktimulya, peneliti naskah kuno dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang mentransliterasikan naskah-naskah koleksi Kepustakaan Pakualaman.

Selanjutnya, adalah tugas desainer atau juru gambar untuk menginterpretasikan simbol-simbol, kata-kata kunci, serta gambar dekoratif di naskah tersebut. Desainer lalu akan merangkainya menjadi motif batik indah dipandang mata dan sarat akan makna dan filosofi.

Proses pembuatan antara 3 - 6 bulan

Pelestarian naskah dalam bentuk motif batik ini tidak lepas dari ide Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam atau Permaisuri Paku Alam X. Tujuannya yakni untuk melestarikan dan memasyarakatkan pesan serta ajaran leluhur dalam naskah-naskah kuno milik Istana Pakualaman Yogyakarta, dari Paku Alam II sampai Paku Alam X.

Sejak kali pertama ide ini digagas dan direalisasikan di tahun 2010 hingga saat ini, telah tercipta lebih kurang 95 motif batik Naskah Pakualaman. Setiap motif diproduksi terbatas dan melalui proses yang cukup panjang, yaitu antara 3 sampai 6 bulan.

Pameran Batik Keraton di Yogyakarta tahun 2018
Batik Naskah Pakualaman dipajang di sebuah Pameran Batik Keraton di Taman Pintar Yogyakarta di tahun 2018. Saat ini ada 95 motif Batik Naskah Pakualaman yang terinspirasi dari naskah dan serat kuno. Foto: K. Ayuningtyas/DW

Suratmi perancang motif batik Naskah Pakualaman mengatakan proses pembuatan batik Naskah Pakualaman sama dengan pembuatan batik-batik Keraton Yogyakarta lainnya.. 

Setelah motif batik selesai didesain, gambar akan diaplikasikan terlebih dahulu pada kain. Di sini, menurut Ami, kain yang digunakan adalah primisima kencana kualitas super. Proses ini memakan waktu sekitar 5 hari. Kemudian proses melukis batik menggunakan lilin khusus untuk membatik atau nyanting memakan waktu 3 sampai 6 bulan.

Setelah proses nyanting selesai, akan ada proses pencucian, kemudian perebusan. Setelah direbus, kain batik kembali menjalani proses nyanting untuk menebalkan dan mewarnai bagian motif tertentu yang biasanya berwarna soga, putih dan biru, serta untuk melapisi bagian kain yang berwarna putih supaya tidak terkena warna lain saat proses pewarnaan.

Untuk peristiwa khusus seperti pernikahan anggota keluarga kerajaan atau Dhaup Ageng, Ami mengatakan permaisuri pernah secara khusus meminta untuk memproduksi salah satu motif dalam jumlah ratusan sekaligus. Karena jumlah pembatik halus yang trampil sangat terbatas, akhirnya kain batik tersebut mesti diproduksi dengan menggunakan cap.

"Pembatik itu jumlahnya tidak banyak, apalagi pembatik yang batikannya halus. Padahal pembatikan sekalipun pembatiknya ahli dan hasilnya halus, prosesnya lama," terang Ami.

Karya eksklusif diburu para kolektor

Motif-motif batik Naskah Pakualaman dipatenkan pada tahun 2020, kata Ami. Sebelumnya, pihak istana merasa kecolongan ketika melihat motif batik mereka ditiru dalam bentuk printing dan dijual sebagai daster di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Tetapi karena saat itu proses pendaftaran hak paten belum selesai, pihak Istana Pakualaman tidak bisa mengambil tindakan apa pun.

"Kalau sekarang, kami bisa menuntut pihak-pihak yang menirukan motif-motif batik Naskah Pakualaman sekalipun itu diubah di sana-sini, akan tetap bisa kami kenali," ujar Ami kepada DW Indonesia.

Kain batik Naskah Pakualaman umumnya memiliki panjang sekitar 250 centimeter x 106 centimeter. Kain ini tidak dijual bebas di pasaran dan tidak boleh ditiru begitu saja, ujar Ami. Setiap lembarnya dihargai bervariasi tergantung tingkat kerumitannya, mulai dari Rp 1 juta hingga kisaran Rp 45 Juta. 

"Satu batik dengan dengan motif yang sama tidak bisa sama persis, karena ini murni batik tulis," ujar Ami.

Menurut Ami, ada kalanya beberapa kolektor mengincar satu batik yang sama dan mereka tidak mau jika harus menunggu dibuatkan ulang. Bukan karena harus menunggu lama, tetapi karena khawatir tidak akan bisa sama persis dengan apa yang mereka lihat tersebut. Ami mengakui bahwa meski dibuat ulang oleh pembatik yang sama dengan proses yang sama persis, hasil akhir batik tersebut tidak akan bisa sama dengan yang dibuat sebelumnya.

Kolektor sekaligus pengusaha batik, Afif Syakur, yang telah lama mengikuti perkembangan Batik Pura Pakualaman mengatakan bahwa batik ini punya unsur budaya yang merupakan bagian dari hidup manusia, unsur komoditas ekonomi, dan yang terpenting adalah memiliki unsur diplomasi.

"Batik ini mendokumentasikan serat-serat kuno yang merupakan pemikiran raja-raja jaman dahulu… Batiknya tematik dan menggambarkan perjalanan Pura Pakualaman dan ini menjadi bobotnya yang kemudian membuat para kolektor ingin memilikinya," terang Afif. (ae)