Menkes Jerman Tolak Penutupan Perbatasan Guna Batasi Infeksi COVID-19 | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 02.03.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

COVID-19

Menkes Jerman Tolak Penutupan Perbatasan Guna Batasi Infeksi COVID-19

Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn menegaskan bahwa penutupan perbatasan bukan langkah tepat untuk membatasi penyebaran virus corona jenis baru.

Selain menolak penutupan perbatasan, dalam konferensi pers pada Senin (02/03) dengan sejumlah jajaran terkait, Menteri Kesehatan Jens Spahn juga menentang penghentian penerbangan langsung antara Cina dan Jerman. Langkah itu, menurut Spahn, bisa mengakibatkan sekitar 30.000 orang Jerman harus diterbangkan keluar dari Cina.

Sedangkan untuk acara-acara besar seperti pameran, Spahn mengatakan alih-alih membatalkan, ketentuan khusus bisa diberlakukan bagi masing-masing acara. Otoritas kesehatan setempat dapat membuat keputusan terkait hal ini. Ia juga berpendapat bahwa kegiatan karnaval di Jerman belum seluruhnya dibatalkan karena jumlah infeksi yang rendah dan rantai infeksi yang masih bisa dilacak.

"Pada daerah-daerah tertentu di Jerman, aktivitas kehidupan sehari-hari harus sedikit dibatasi," ujar Spahn merujuk kepada penutupan beberapa sekolah di negara bagian Baden-Württemberg. Langkah ini penting untuk memperlambat dan mengurangi penyebaran virus. Dia juga menyarankan bahwa lebih baik tinggal di rumah jika ada kecurigaan infeksi hingga kecurigaan itu tidak lagi beralasan.

Untuk memberikan informasi, pemerintah Jerman mengatakan akan memperkuat saluran informasi. "Kami membuka semua hotline," ujar Spahn.

Level risiko kesehatan naik menjadi 'sedang'

Jumlah pasien yang dikonfirmasi menderita COVID-19 di Jerman telah mencapai 150 pada hari Senin, meningkat dari 129 pada hari Minggu (01/03), menurut lembaga pemerintah federal yang bertanggung jawab untuk pengendalian dan pencegahan penyakit menular Robert Koch-Institut, RKI.

RKI juga meningkatkan penilaian risiko untuk kesehatan masyarakat menjadi 'sedang' yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai 'rendah hingga sedang'.

Menurut data RKI, sebanyak 86 kasus, terjadi di negara bagian Nordrhein-Westfalen yang merupakan negara bagian terpadat di Jerman. Sebanyak 25 kasus dikonfirmasi terjadi di negara bagian Bayern, 19 kasus di Baden-Württemberg, dan 10 kasus di Hessen, 2 kasus di Rheinland-Pfalz, 2 di Schleswig-Holstein, dan masing-masing satu kasus di Hamburg, Berlin, Bremen dan Niedersachsen.

RKI juga mengatakan bahwa banyak orang terinfeksi saat musim karnaval. Sebanyak 140 dari 150 kasus di Jerman dapat diklasifikasikan telah tertular virus dengan cara ini, ujar Lothar H. Wieler, Presiden RKI dalam konferensi pers yang sama.

Hingga kini, virus telah menginfeksi lebih dari 89.000 orang dan menyebar ke lebih dari 60 negara. Sementara angka kematian di seluruh dunia pada Senin telah melampaui 3.000 kasus.

Pembelian makanan secara massal

Pada Jumat (28/02), juru bicara salah satu kelompok supermarket terbesar di Jerman, REWE, mengatakan kepada DW bahwa meskipun mereka tidak melihat adanya kepanikan di awal pekan, situasinya ternyata berubah dengan cepat.

"Kami melihat ada kenaikan pembelian bahan makanan dan makanan kaleng di seluruh negara, sehingga kami secara cepat harus melakukan penyesuaian," kata Kristina Schütz dari REWE Group, yang berkantor pusat di Cologne. REWE Group juga mengelola rantai pasar swalayan seperti Penny, REWE, dan Nahkauf di Jerman.

Sama seperti REWE, rantai pasar swalayan yang lain bernama Lidl, juga mencatat lonjakan serupa dalam hal pembelian bahan makanan, demikian menurut seorang bicara Lidl yang mengakui bahwa mereka "melihat peningkatan penjualan di wilayah dan toko tertentu". Menurutnya, warga Jerman kebanyakan menimbun makanan-makanan kaleng yang tahan lama, pasta, tisu toilet, dan disinfektan.

Apa rekomendasi pemerintah?

Empat tahun lalu, Kantor Federal Perlindungan Sipil dan Bantuan Bencana (BBK) yang berbasis di Bonn, Jerman menerbitkan daftar makanan tahan lama yang direkomendasikan untuk disimpan dalam keadaan darurat.

BBK, yang dikelola oleh sekitar 300 PNS, bertugas mendidik masyarakat tentang bagaimana menyiapkan diri untuk menghadapi krisis. Mereka menyarankan warga Jerman agar menyimpan stok makanan selama kurang lebih 10 hari.

Lebih spesifik, daftar makanan tersebut menyatakan bahwa satu orang membutuhkan 14 liter cairan selama seminggu, sehingga merekomendasikan warga untuk dapat menambah persediaan air mineral dan jus buah. Meski begitu, BBK memperingatkan agar warga tidak membeli persediaan makanan secara berlebihan karena rasa takut yang luar biasa alias panic buying. Mereka menyarankan agar warga menimbun makanan dan minuman "yang akan dikonsumsi oleh individu dan keluarga saja."

Tidak hanya itu, BKK juga menyarankan agar warga menyimpan bahan makanan yang tahan lama tanpa perlu proses pendinginan atau dimasukkan ke lemari es. Warga Jerman juga disarankan untuk menyimpan bahan makanan yang masih cenderung baru di bagian belakang lemari, agar bahan makanan yang sudah lama dapat dikonsumsi terlebih dahulu. 

gtp/rap/ae (dpa, reuters, zeit.de, AP, AFP)

Laporan Pilihan