Mengenang Farida Oetoyo dan Pencarian Balet Indonesia | KOLOM: Bersama berdialog untuk mencapai pemahaman | DW | 06.07.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

kolom

Mengenang Farida Oetoyo dan Pencarian Balet Indonesia

Tanggal 7 Juli merupakan ulang tahun Farida Oetoyo. Apa saja kontribusi besar tokoh balet Indonesia yang telah tiada ini? Ikuti opini Ananda Sukarlan.

Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi ballet

Saya memang pemusik, tapi manajer saya, Chendra Panatan adalah juga seorang koreografer, lulusan Master in Choreography dari Middlesex University (London), dan juga Victoria College of the Arts (Melbourne). Kami sering bekerjasama dalam musik saya yang membutuhkan visualisasi, jadi obrolan kami sama jumlahnya di bidang penciptaan artistik maupun pengelolaan seni. Kerjasama komponis-koreografer ini sangatlah umum sejak Tchaikovsky (1840-93) dengan koreografer Marius Petipa yang menghasilkan "Swan Lake", "The Nutcracker" dan "Sleeping Beauty".

Kolaborasi legendaris lainnya di abad 20 antara lain Benjamin Britten dengan John Cranko (Inggris), dan Aaron Copland dengan Agnes de Mille (Amerika). Kerjasama ini bukan hanya membuahkan karya-karya legendaris, tapi ada yang lebih penting: baik sang komponis maupun koreografer sama-sama berkontribusi besar dalam memapankan identitas negaranya di bidang musik dan balet.

Tokoh balet Indonesia

Semasa mudanya Chendra mengenal balet dari tokoh balet Indonesia, Farida Oetoyo (1939-2014) yang kemudian menerimanya menjadi siswa di sekolah baletnya, Sumber Cipta, yang Farida dirikan bersama Yulianti Parani. Sekolah ini awalnya diberi nama Nritya Sundara dan berlokasi di kawasan Megaria – Jakarta Pusat. Di tahun 1976 sekolah ini berganti nama menjadi Sumber Cipta sampai sekarang dan telah menghasilkan banyak penari handal, seperti Ditta Miranda atau Linda Hoemar (yang menjadi penari pertama Indonesia lulusan Alvin Ailey (New York City) dan menjadi penari profesional di Elisa Monte Dance Company, USA) .

Kekuatan artistik Ditta Miranda menarik perhatian koreografer terkemuka Jerman, Pina Bausch yang kemudian mengajaknya bergabung ke Wuppertal Tanztheater. Ditta juga pernah menjadi penari wanita terbaik pilihan para kritikus untuk majalah Ballet International Tanz Aktuell.

Selain itu, Anindya Krisna mengikuti langkah gurunya mendalami balet di Bolshoi (Moskow) dan menjadi ballerina di Manila Ballet.

Yang paling muda, Nudiandra Sarasvati berhasil menyelesaikan pendidikan atas beasiswa untuk studi tari di L'Ecole-Atelier Rudra Bejart, Lausanne.

Penulis DWnesia, Ananda Sukarlan

Penulis Ananda Sukarlan

Mengharumkan nama Indonesia

Tanggal 7 Juli  2019, jika Farida Oetoyo masih hidup beliau akan berulangtahun ke 80. Sudah selayaknya Indonesia menghormatinya sebagai seorang pahlawan, karena sejak muda, kontribusinya sudah banyak dalam membawa nama Indonesia, maupun usahanya dalam menemukan karakter balet Indonesia melalui penyusunan kurikulum untuk memapankan standard balet di negeri ini. Ia jugalah penari Indonesia pertama yang menari di Bolshoi, Moskow, saat akhir kuliahnya (1961-65) yang meraih Cum Laude di institusi balet paling legendaris di dunia itu. Tahun 1973 - 1974 Farida mendapatkan beasiswa Fullbright untuk mempelajari Koreografi dan Teknik Tari Modern dengan Merce Cunningham, Alvin Nicolais dan di Martha Graham School.

Sebetulnya, sejak kecil Farida tinggal di luar negeri bersama orang tuanya yang Duta Besar RI di Singapura, kemudian berpindah-pindah ke berbagai Negara di Asia dan Eropa. Ketika masa kanak-kanak, Farida kecil yang memang sudah menyukai balet belajar pada ‘Ballet Fine Arts of Movement, pimpinan Willy Blok Hansen di Singapura. Kemudian ia pindah ke Royal Academy of Dance di Canberra, Australia.

Farida menghasilkan puluhan koreografi penting. "Rama & Sinta" adalah salah satu karya permulaannyadari tahun 1972. "Perjalanan 20 Detik" adalah semacam dokumentasi atas kisah cintanya, diproduksi tahun 2000 dengan penari Chendra Panatan dan Jonita Sjah. Ia, seperti banyak seniman Indonesia, juga tidak luput dari kritik (waktu itu zaman Orde Baru, jadi masih terbatas pada kritikan dan peringatan) kaum Islam dari MUI atas karyanya "Putih Putih" (1976), terinspirasi justru dari keindahan suasana wanita bersholat menggunakan mukenah putih.

Kontribusinya yang juga sangat penting adalah saat ia menjadi Direktur Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) dari tahun 1987-2001. Selama masa kepemimpinan GKJ itulah masa keemasan gedung tersebut, karena pada masa itulah kita memiliki kebanggaan untuk tampilbahkan hanya menonton di sana. Para penampil harus melalui proses kurasi untuk bisa tampil di sana, sehingga pertunjukan bukan hanya terjamin kualitasnya, tapi juga mendidik penonton dalam menikmati pertunjukan berkelas tinggi. Penonton juga diminta untuk mematuhi peraturan seperti berpakaian rapi & sopan, tidak berisik mengganggu penonton lain dll. Mutu kesenian ibukota terangkat dan "menular" ke seluruh Jakarta.

Tapi nanti dulu, sebetulnya "balet Indonesia” itu apa? Mungkin intinya sama seperti Indonesian classical music: menggunakan teknik "Eropa”, tapi materialnya Indonesia: ceritanya dari Indonesia, musiknya juga sangat Indonesia. Nah soal gerakan penarinya, saya memang bukan ahlinya. Tapi saya ingin mengutip koreografer Amerika Agnes de Mille di program televisi "Eye on Dance” yang berujar: "Saya sangat tertarik dengan gerak tubuh manusia. Gerakan tidak bisa berbohong, itu mengekspresikan kebenaran. Dan Anda bisa tahu semua tentang seseorang dari cara dia menggunakan tangan atau kaki atau kepala atau apa pun.”

Bagi de Mille, gerakan adalah akar dari ekspresi koreografinya dan eksplorasi identitas Amerika. Di antara koreografer abad lalu, Agnes de Mille menonjol karena mengaplikasi (atau mengeksploitasi?) hal-hal, cerita & budaya Amerika yang karakteristik. Walaupun koreografer lainnya (terutama Martha Graham dan Paul Taylor) menciptakan tarian menggunakan ke-Amerika-an sebagai subjek mereka, keberagaman, keberagaman tarian de Mille dan tulisan/risetnya yang mengeksplorasi apa artinya menjadi orang Amerika menempatkannya di garis depan eksplorasi nasionalisme dalam tari. Memang, de Mille awalnya mencapai ketenaran dengan "Rodeo”, sebuah karya bertema "Wild West” tahun 1942 dari musik Aaron Copland, komponis yang juga sangat berjasa dalam "memapankan” musik klasik Amerika, yang merupakan keberhasilan pertama dalam serangkaian "balet Amerika”nya.

Apakah Farida Oetoyo berhasil menemukannya?

Apakah tugasnya sudah selesai? Semoga belum, karena menurut Paul Valery, "Sebuah karya seni itu tidak pernah selesai". Dan pencarian identitas adalah sebuah karya seni yang paling hakiki.

Sekarang adalah tugas para koreografer dan penari muda untuk memasuki pintu yang sudah dicarikan kuncinya dan dibuka lebar oleh Farida: bagaimana bisa memasukkan identitas Indonesia dengan pointe techniques, ballon, pirouette dan sebagainya.

Kalau musik beridentitas Indonesia dengan "classical style” sudah mulai kita mapankan, kapankah lahir sebuah 'masterpiece' Indonesia? Kapan ada "The Firebird”, "The Rites of Spring”, "Swan Lake" Indonesia yang bakal mendunia?

Penulis: @anandasukarlan

Selain sebagai komponis & pianis, A.Sukarlan juga aktif sebagai blogger di Andy Skyblogger's Log, dan membuat vlog di Youtube channelnya Ananda Sukarlan. Twitter & Instagramnya @anandasukarlan bukan hanya mengulas tentang musik, tapi masalah sosial, budaya dan politik pada umumnya. Ia membagi waktunya antara Spanyol (di rumahnya di perbukitan di Cantabria) dan Indonesia (di apartemennya di Jakarta).

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

 

Laporan Pilihan