Melihat Upaya Indonesia Redam Ketegangan AS-Iran | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 09.01.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Konflik AS-Iran

Melihat Upaya Indonesia Redam Ketegangan AS-Iran

Selain bertemu dengan Dubes AS dan, Menlu RI juga lakukan komunikasi dengan Menlu Vietnam sebagai Presidensi Dewan Keamanan PBB untuk serukan deeskalasi ketegangan antara AS dan Iran. WNI diminta tetap waspada.

Pemerintah terus berupaya untuk meredam eskalasi dalam hubungan antara Iran dengan Amerika Serikat. Pagi ini, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi pun telah berkomunikasi dengan Vietnam selaku Presidensi Dewan Keamanan PBB.

Pernyataan itu disampaikan Retno dalam laporannya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat pembukaan Rapat Kerja Kepala Perwakilan RI dengan Kemenlu di Istana Negara, Kamis (9/1/2020). 

"Kami ingin laporkan kepada Bapak Presiden bahwa Indonesia sudah mengirim pesan ke semua pihak terkait untuk menahan diri agar eskalasi yang sedang terjadi tidak memburuk," kata Retno. 

"Pagi ini kami juga melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Vietnam selaku Presidensi Dewan Keamanan PBB yang intinya meminta presiden dewan keamanan untuk terus mengupayakan peredaan ketegangan," sambungnya. 

Retno mengatakan, Menlu Vietnam Pham Binh Minh saat ini telah berada di New York. Dia berharap Vietnam terus berupaya agar de-eskalasi antara AS dengan Iran dapat terjadi. 

"Tadi pagi juga saya bicara per telepon. Beliau sudah ada di New York. Intinya adalah kita mengharapkan dengan Presidency Vietnam, Vietnam juga dapat terus mengupayakan agar de-eskalasi dapat terjadi itu satu," kata Retno.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Retno LP Marsudi juga telah bertemu dengan Duta Besar Amerika Serikat dan Iran. Pertemuan digelar secara terpisah.

Pertemuan itu dilakukan pada Senin (06/01). Retno mengatakan pertemuan digelar untuk menyampaikan sikap Indonesia terkait hubungan Iran dan AS usai pembunuhan Mayor Jenderal Qasem Soleimani.

"Met the Ambassador of Iran and Ambassador of the US separately this afternoon (06/01). Indonesia conveyed concerns on the latest development in US - Iran relations," tulis Retno dalam akun Twitter @Menlu_RI seperti dilihat detikcom, Selasa (7/1/2020).

Retno meminta AS dan Iran menahan diri. Dia menyebut eskalasi dalam hubungan antara Iran dan AS tidak akan bermanfaat bagi siapapun malahan bakal memberi dampak pada ekonomi dunia.

Baca jugaJerman Kecam Serangan Rudal Iran, Lufthansa Hentikan Penerbangan ke Teheran

Ma'ruf Amin: Indonesia Harus Optimal Cegah Perang

Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan perseteruan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran harus segera dicarikan solusi perdamaiannya. Dia ingin polemik antarnegara itu tidak berujung pada meletusnya peperangan.

"Ya kita sesuai dengan prinsip luar negeri kita, bahwa kita itu menghendaki perdamaian. Karena itu, maka yang harus diupayakan bagaimana mencari solusi perdamaian supaya tidak terjadi perang," kata Ma'ruf Amin di Istana Wakil Presiden, Jalan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (08/01).

Ma'ruf mendukung upaya Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi yang bertemu dengan pihak Dubes AS dan Iran. Jika polemik kedua negara berujung pada peperangan, menurut Ma'ruf, maka negara yang tidak ikut berperang juga akan merasakan dampaknya.

"Nah, itu saya dukung upaya Menteri Luar Negeri kita yang memanggil Dubes Amerika dan Dubes Iran yang prinsipnya memang untuk menahan diri supaya tidak terjadi perang. Sebab, kalau sampai terjadi perang, itu saya kira tidak ada yang diuntungkan, termasuk yang tidak ikut perang itu akan jadi korban," sambungnya.

Jika kedua negara ini memutuskan berperang, menurut Ma'ruf, dampak negatif akan muncul. Salah satunya kerugian dalam aspek ekonomi.

"Karena itu, andai kata terjadi peperangan, nah ini jadi sesuatu yang sangat merugikan bagi dunia, ekonomi juga akan rusak, politik juga blok-blok ini akan terbangun, itu sangat berbahaya sekali," ucap Ma'ruf.

Ma'ruf mengatakan Indonesia harus optimal mencegah terjadinya perang di antara kedua negara itu. Menurutnya, sejumlah negara Timur Tengah pun berpandangan yang sama dengan Indonesia.

"Karena itu, menurut saya harus seoptimal mungkin kita Indonesia bersama negara-negara termasuk OKI di Timur Tengah dan negara-negara yang cinta damai kita berusaha melalui PBB untuk menahan supaya tidak terjadi perang," tuturnya.

WNI diminta waspada

Menyikapi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi juga meminta warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Irak waspada.

"Tugas kita yang lain adalah yang terkait dengan warga negara Indonesia. Kementerian Luar Negeri sudah mengeluarkan rilis yang intinya meminta semua warga negara Indonesia yang berada di kawasan tersebut untuk terus waspada," ujar Retno di kantornya, Jalan Taman Pejambon, Jakarta Pusat, Rabu (08/01). 

Retno meminta para WNI mengikuti informasi dari otoritas setempat. Retno meminta WNI di Irak segera menghubungi KBRI setempat jika memerlukan bantuan.

"Sudah ada semua hotline di perwakilan-perwakilan Indonesia yang ada di wilayah tersebut. Tidak hanya di Teheran, di Baghdad, tetapi juga di wilayah-wilayah sekitarnya. Just in case WNI kita memerlukan bantuan," katanya. 

Retno berharap Iran dan AS sama-sama menahan diri. Dia mengatakan konflik antara AS dan Iran berdampak buruk bagi dunia. 

Baca juga"Hegemoni Iran di Irak Akan Berakhir, Cepat Atau Lambat."

"Semua pihak yang terkait dapat menahan diri sehingga tidak terjadi eskalasi yang lebih buruk lagi. Karena kita tahu kalau terjadi eskalasi yang lebih tinggi maka dampaknya tidak akan dapat terlokalisir. Dampaknya pasti akan dirasakan baik oleh kawasan maupun oleh dunia termasuk ekonomi dunia, yg tanpa terjadinya eskalasi, sudah cukup tertekan saat ini," tutur Retno.

Iran sebelumnya menegaskan 'puluhan rudal' diluncurkan terhadap target pangkalan udara Ain al-Asad di Irak, yang menjadi markas tentara AS sebagai balasan atas serangan drone AS yang menewaskan Mayor Jenderal Qasem Soleimani. Iran juga berjanji 'respons yang lebih menghancurkan' akan diberikan jika AS melancarkan serangan lebih lanjut.

Pentagon atau Departemen Pertahanan AS menyatakan besarnya kerusakan akibat serangan rudal Iran masih dalam proses penaksiran. "Kami masih melakukan penaksiran kerusakan awal akibat serangan," sebut Pentagon dalam pernyataannya.

"Jelas bahwa rudal-rudal ini diluncurkan dari Iran dan menargetkan sedikitnya dua pangkalan militer Irak yang menjadi markas militer AS dan personel koalisi," tegas Pentagon dalam pernyataannya, merujuk pada pangkalan militer Ain al-Asad dan Arbil. (Ed: gtp/rap)

 

Baca artikel selengkapnya di:DetikNews

Telepon Menlu Vietnam, Retno Minta Agar Deeskalasi AS-Iran Diupayakan

 Iran-AS Memanas, Ma'ruf Amin: Indonesia Harus Optimal Cegah PerangIran Tembakkan Rudal ke Markas AS, Menlu Minta WNI di Irak Waspada

Laporan Pilihan