Makin Banyak Kritik di AS Tentang Politik Libanon | Fokus | DW | 05.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Makin Banyak Kritik di AS Tentang Politik Libanon

Pertempuran di Libanon terus berlangsung. Pemerintah Amerika Serikat menghadapi makin baynak kritik di dalam negeri.

Dubes AS di PBB John Bolton

Dubes AS di PBB John Bolton

AS terakhir kali ikut serta dalam misi perdamaian PBB di Libanon tahun 1978 lalu. Lima tahun kemudian, di tahun 1983, 241 tentara AS yang menjadi bagian pasukan perdamaian PBB menjadi korban serangan bunuh diri. Itulah alasannya mengapa pemerintahan George W. Bush sampai saat ini menolak keikutsertaan tentaranya.

Tetapi tanpa keikutsertaan AS, misi PBB tidak mungkin berhasil. Demikian pendapat Bill Durch, direktur Program Operasi Perdamaian di Stimpson Center, Washington. Menurutnya, walaupun AS tidak bersedia mengirimkan banyak tentara, setidaknya negara adidaya itu harus menunjukkan kesediaan memikul sebagian risiko dari usaha pemecahan konflik. Bukan hanya nomor satu di fron diplomatik.

Resolusi PBB dan kerangka diplomatis

Duta besar AS di PBB, John Bolton kerap melaporkan kemajuan dalam upaya perumusan resolusi terhadap Lebanon di DK PBB. Terutama pemerintah di Paris dan Washington sejauh ini belum sepakat tentang prosedur pengeluaran mandat PBB tersebut. Ditambah lagi, Bolton dianggap sebagai provokator oleh banyak diplomat di DK PBB. Pakar PBB di Universitas Columbia, Ed Luck berpendapat, taktik perundingan Bolton tidak menguntungkan dan menyebabkan AS terisolasi di PBB.

Pakar Timur Tengah seperti Bill Durch juga memperingatkan, pasukan keamanan, yang setidaknya harus beranggotakan 10.000 hingga 20.000 tentara, baru bisa berhasil, jika sebelumnya kerangka politis untuk penyelesaian konflik sudah ada. Tetapi di sinilah AS tidak memiliki mitra perundingan.

Kendala yang dihadapi AS

Terutama dalam masalah dengan Suriah dan Iran, yang dianggap pendukung terpenting Hisbullah. Menurut Durch, pasukan perdamaian, yang dikirim ke Lebanon Selatan, yang tidak mendapat dukungan Hisbullah dan menjalankan tugas tidak dalam kerangka pemecahan politis apapun, terancam nasib sama seperti yang menimpa pasukan multi nasional tahun 1983 lalu.

Dan mantan Duta Besar AS di NATO, Robert Hunter menambahkan, jika AS bersedia berunding dengan Iran dan Suriah tentang keamanan mereka, serta menawarkan jaminan keamanan yang sesuai, maka kedua negara itu bisa diminta untuk menghentikan dukungannya untuk Hisbullah.

Masalah utama

Tetapi agar solusi perdamaian yang jitu bisa terlaksana AS bukan saja tidak memiliki mitra, tetapi negara itu juga sudah kehilangan kepercayaan negara-negara Arab. Di kubu Arab, pemerintahan George W. Bush dianggap pembela kepentingan Israel. Dan selambatnya dengan adanya perang Irak citra AS di dunia Islam mencapai rekor terendah dalam sejarah.

Mantan penasehat Bill Clonton, Sandy Berger mengatakan, masalahnya adalah tidak adanya fundamen yang sanggup menopang upaya perdamaian. Pemerintah AS yang sekarang tidak memiliki konsep yang handal, sehingga tidak bisa berperan efektif di Timur Tengah. (ml)