1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikPrancis

Macron: UE Harusnya Tidak Ikuti AS dan Cina soal Taiwan

10 April 2023

Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta Uni Eropa untuk pertahankan garis kebijakan luar negeri yang independen dan berpendapat UE dapat menjadi "kutub ketiga" bersama Cina dan AS.

https://p.dw.com/p/4Prfl
Pertemuan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dengan Presiden Cina Xi Jinping
Pertemuan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dengan Presiden Cina Xi JinpingFoto: Ludovic Marin/Pool Photo via AP/picture alliance

Dalam wawancara pada hari Minggu (09/04) untuk harian bisnis Prancis, Le Echo, Presiden Prancis Emmanuel Macron kembali menyerukan agara Uni Eropa (UE) mempertahankan kebijakan luar negeri yang independen.

"Kami tidak ingin masuk ke logika blok versus blok,” kata Macron. Ia beralasan bahwa Eropa "tidak boleh terjebak dalam kekacauan dunia dan krisis yang bukan milik kita.”

Macron mencontohkan bahwa eskalasi di Taiwan bukan untuk kepentingan UE.

"Pertanyaan yang diajukan kepada kami orang Eropa adalah sebagai berikut: apakah adanya akselerasi dalam topik Taiwan adalah kepentingan kami? Tidak. Hal terburuk yang bisa kami lakukan sebagai orang Eropa adalah menjadi pengikut topik ini dan beradaptasi dengan ritme dari Amerika serta reaksi berlebihan dari Cina. Mengapa kita harus mengikuti ritme yang dipilih oleh orang lain?” tegas Macron.

Macron serukan ‘otonomi strategis' UE

Kepala negara Prancis itu juga menekankan, Uni Eropa perlu mengembangkan "otonomi strategis”, sebuah istilah yang digunakan untuk merujuk pada blok dalam mempertahankan garis kebijakan luar negeri yang independen.

"Eropa sudah lama tidak membangun otonomi strategis ini,” katanya seraya menambahkan: "Lima tahun lalu, otonomi strategis hanya impian belaka. Sekarang semua orang membicarakannya.”

Macron lebih lanjut mengatakan, negara-negara anggota UE harus menghindari menjadi "pengikut.” Menurutnya, blok Uni Eropa dapat berfungsi sebagai "kutub ketiga” dalam tatanan geopolitik bersama AS dan Cina. Ia memperingatkan agar UE tidak mengikuti kebijakan luar negeri Amerika sebagai "refleks panik.”

Macron menyerukan Uni Eropa untuk menopang industri pertahanannya guna mengurangi ketergantungan pada AS dan Asia
Macron menyerukan Uni Eropa untuk menopang industri pertahanannya guna mengurangi ketergantungan pada AS dan AsiaFoto: Gouhier Nicolas/abaca/picture alliance

Macron juga menyerukan peningkatan belanja militer, dengan mengatakan: "Sejarah terjadi lebih cepat, sehingga ekonomi perang Eropa perlu dipercepat secara paralel.”

"Industri pertahanan Eropa belum bisa memenuhi semua kebutuhan kita dan masih sangat terfragmentasi,” ujarnya. Ia menilai hal tersebut lah yang membuat UE bergantung pada pemasok Amerika dan Asia.

Selain itu, Macron juga mengatakan, penting bagi Brussel untuk "memahami” alasan Cina terkait Taiwan.

"Sebagai orang Eropa, perhatian kami adalah tentang persatuan kami,” kata Macron.

"Cina juga peduli dengan persatuan mereka, dan Taiwan adalah komponen [persatuan] dari sudut pandang mereka,” tambahnya.

Ketegangan atas Taiwan memang telah meningkat selama beberapa bulan terakhir. Cina saat ini bahkan tengah melakukan serangkaian latihan militer di sekitar pulau itu.

Macron sebelumnya bertemu Xi Jinping di Beijing

Macron bersama dengan pejabat tinggi UE lainnya sebelumnya telah melakukan kunjungan ke Cina. Kunjungan tersebut mencakup pertemuannya dengan Presiden Cina Xi Jinping pada Jumat (07/04), yang salah satunya membahas tentang ketegangan seputar Taiwan dan invasi Rusia ke Ukraina.

Para pemimpin Uni Eropa berharap dapat meyakinkan Beijing untuk mengambil peran yang lebih besar dalam mengakhiri invasi Rusia ke Ukraina.

Media pemerintah Cina memuji kunjungan Macron itu sebagai kesempatan untuk "menyuntikkan momentum baru dalam hubungan Cina-Eropa.

Sementara Istana Elysee di Prancis menggambarkan pembicaaran antara pemimpin sebagai pembicaraan yang "padat dan terus terang.”

Dikatakan juga bahwa Macron khawatir tentang "meningkatnya ketegangan di kawasan” yang dapat menyebabkan "kecelakaan yang mengerikan.”

gtp/as 

Materi dari Agence France-Presse berkontribusi untuk laporan ini.