Ma Ying-Jeou Menangkan Pemilu Presiden di Taiwan | Fokus | DW | 22.03.2008
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Ma Ying-Jeou Menangkan Pemilu Presiden di Taiwan

Sekitar 17 juta warga Taiwan diserukan untuk memberikan suaranya dalam pemilihan presiden hari Sabtu 22/03. Kandidat oposisi Ma Ying-Jeou dari Partai Kuomintang berhasil mengantongi kemenangan.

default

TPS di Taiwan

Kandidat oposisi Ma Ying-Jeou dari Partai Nasionalis Kuomintang KMT mengungguli kandidat lawannya Frans Hsie dari partai yang berkuasa DPP dalam pengumpulan suara pemilu presiden Taiwan yang digelar hari Sabtu (22/03). Sementara itu, Frans Hsie telah mengakui kekalahannya terhadap Ma Ying-Jeou.

Televisi yang meliput langsung penghitungan suara, pada awal penghitungan suara melaporkan bahwa Ma saat itu memimpin di 20 wilayah dan kota serta meninggalkan saingannya Frank Hsieh. Manager partai KMT Chan Chun-po mengutarakan kepada kantor berita AFP di markas besar KMT di Taipeh bahwa hanya pergantian pemerintahan yang dapat menghentikan kekacauan dalam politik Taiwan saat ini.

Menurut jajak pendapat terakhir menjelang pemilu, kandidat oposisi dari Partai Nasional Kuomintang, KMT Ma Ying-Jeou punya peluang terbaik untuk merebut kursi kepresidenan, namun sebelum pemilu kandidat dari Partai Progresif Demokratik DPP, mantan Perdana Menteri Frank Hsieh kemudian dapat memperkecil perbedaannya. Kedua kandidat merupakan wakil dari kubu yang menunjukkan sikap lunak terhadap Cina yang menganggap Taiwan sebagai provinsi yang ingin memisahkan diri.

Ma Ying-Jeou menyatakan hendak memperbaiki hubungan dengan Cina dan melaksanakan politik yang luwes. Sehubungan dengan pemilu di Taiwan, pemancar televisi EuroNews menayangkan berita yang antara lain memperlihatkan sikap Ma terhadap Cina dan Taiwan sendiri. Dalam laporan itu Ma mengemukakan:

"Setiap saat jika saya membicarakan hubungan kami dengan Cina, saya selalu menunjukkan posisi bahwa Cina adalah ancaman, tetapi di sisi lain, ini juga merupakan peluang bagi Taiwan."

Selain itu Ma juga mengatakan ingin menormalisasi hubungan perdagangan dan investasi dengan Cina, sama seperti yang dilakukan Taiwan selama ini dengan negara-negara lainnya di dunia. Ini berarti membuka hubungan transportasi secara langsung dan mengijinkan akses kegiatan keuangan Taiwan ke pasar Cina.

Cina dan Taiwan memang tidak punya hubungan langsung sejak perpecahan provinsi itu dalam perang saudara tahun 1949. Kandidat presiden Ma selanjutnya mengutarakan, jika terpilih dia akan melibatkan Cina dalam banyak isu, namun akan melindungi identitas dan keamanan Taiwan. Taiwan bukan Tibet dan juga bukan Hong Kong. Ujar Ma yang ingin mengatur negaranya seperti yang telah dilakukan selama ini.

Ma Ying-Jeou dan Frank Hsieh memang berbeda dari Presiden Taiwan Chen Shui-bian dari partai DPP yang membuat marah Cina melalui perluasan kemandirian Taiwan.

Para analis berpendapat bahwa dalam pemilu ini, warga Taiwan tampaknya lebih menyoroti perlambatan ekonomi dan harapan pendekatan ke Cina, menyusul delapan tahun ketegangan selama pemerintahan Presiden Chen Shui-bian.

Pemilu presiden hari Sabtu dilaporkan berlangsung tanpa ada insiden.

Masih belum diketahui, sejauh mana kerusuhan di Tibet membawa pengaruh pada hasil pemilu. Tindak kekerasan aparat keamanan Cina untuk membubarkan demonstrasi warga Tibet menimbulkan kebimbangan baru di Taiwan untuk melakukan pendekatan ke Cina.

Bersamaan dengan pemilu presiden juga dilaksanakan dua referendum untuk menentukan keanggotaan Taiwan di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hal itu membuat marah Cina yang melihatnya sebagai provokasi. Beijing kembali mengancam akan melancarkan perang dengan Taiwan jika memisahkan diri. (cs)