Langgar Karantina, Vietnam Penjarakan Warga Selama Lima Tahun | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 07.09.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Langgar Karantina, Vietnam Penjarakan Warga Selama Lima Tahun

Vietnam memenjarakan seorang pria pada Senin (06/09) selama lima tahun karena melanggar aturan karantina dan menyebarkan virus corona ke orang lain.

Polisi berjaga di salah satu permukiman di Hanoi

Dibanding Ho Chi Min City, provinsi paling selatan Vietnam, Ca Mau, hanya memiliki 191 kasus sejak pandemi merebak

Vietnam telah menjadi salah satu negara yang sukses menangani pandemi COVID-19 berkat pengujian massal, pelacakan kontak yang agresif, pembatasan perbatasan yang ketat, dan karantina. Namun, kasus infeksi baru sejak akhir April telah menodai rekor itu.

Kantor berita Vietnam (VNA) yang dikelola pemerintah melaporkan pada Senin (06/09), Pengadilan Rakyat provinsi selatan Ca Mau memvonis hukuman penjara kepada seorang pria bernama Le Van Tri, 28, karena "menyebarkan penyakit menular berbahaya".

"Tri melakukan perjalanan kembali ke Ca Mau dari Kota Ho Chi Minh ... dan melanggar peraturan karantina 21 hari," kata kantor berita itu.

"Tri menginfeksi delapan orang, satu di antaranya meninggal karena virus setelah satu bulan perawatan," tambahnya.

Provinsi dengan kasus COVID-19 sedikit

Ca Mau, provinsi paling selatan Vietnam, hanya memiliki 191 kasus dan dua kematian sejak pandemi merebak, jumlah yang jauh lebih rendah dari hampir 260.000 kasus dan 10.685 kematian di Kota Ho Chi Minh.

Vietnam sedang berjuang melawan wabah COVID-19 yang memburuk, yang telah menginfeksi lebih dari 536.000 orang dan menewaskan 13.385, sebagian besar kasus terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Sebelumnya, Vietnam juga telah menghukum dua orang lainnya dengan hukuman penjara yang ditangguhkan selama 18 bulan dan dua tahun atas tuduhan yang sama.

Tonton video 04:06

Hilangnya Indra Penciuman Akibat COVID-19

ha/hp (Reuters)

Laporan Pilihan