1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Vaksin AstraZeneca
AstraZeneca telah mengembangkan satu dari empat vaksin COVID-19 yang saat ini disetujui di Uni EropaFoto: Alexandre Marchi/Photopqr/L'Est Républicain/picture alliance
Hukum dan Pengadilan

Lambat Kirim Vaksin COVID-19, Uni Eropa Gugat AstraZeneca

27 April 2021

Komisi Eropa melayangkan gugatan terhadap perusahaan Inggris-Swedia, AstraZeneca, karena pelanggaran kontrak dalam hal penundaan distribusi vaksin COVID-19.

https://www.dw.com/id/lambat-kirim-vaksin-covid-19-uni-eropa-gugat-astrazeneca/a-57346879

Komisi Eropa mengumumkan pada Senin (26/04) bahwa mereka telah melayangkan gugatan ke pengadilan terhadap perusahaan farmasi AstraZeneca karena pelanggaran kontrak setelah beberapa kali menunda distribusi vaksin COVID-19.

"Komisi tersebut telah mengajukan upaya hukum pada Jumat (23/04) lalu terhadap AstraZeneca," kata seorang juru bicara mengatakan pada konferensi pers, seraya menambahkan bahwa 27 negara Uni Eropa mendukung langkah tersebut.

"Beberapa persyaratan kontrak belum terpenuhi dan perusahaan farmasi itu belum memiliki strategi untuk memastikan pengiriman dosis vaksin tepat waktu," tambahnya.

Namun, seorang diplomat Uni Eropa memperingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi berdampak pada investasi industri obat-obatan Eropa di masa depan. Gugatan hukum diyakini bisa memakan waktu bertahun-tahun, kata seorang duta besar yang memiliki hubungan dekat dengan Paris dan Berlin.

Sikap Uni Eropa terhadap AstraZeneca

Jerman, Prancis, dan Hongaria termasuk di antara negara-negara UE yang pada awalnya enggan menuntut perusahaan tersebut, karena alasan bahwa langkah itu mungkin tidak juga dapat mempercepat pendistribusian vaksin.

Keputusan langkah hukum tersebut muncul ketika pada awal bulan ini Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyarankan untuk tidak lagi berbisnis dengan AstraZeneca dalam program vaksinasi di masa depan.

Mantan menteri pertahanan Jerman itu mengatakan UE hanya akan membeli vaksin yang menggunakan teknologi mRNA, seperti Pfizer dan Moderna untuk periode mendatang. "Kita perlu fokus pada teknologi yang telah membuktikan manfaatnya - vaksin mRNA adalah contoh kasus yang jelas," katanya.

Kemarahan Uni Eropa

Saat menandatangani kontrak dengan UE, AstraZeneca berkomitmen untuk melakukan "upaya terbaik yang masuk akal" untuk mengirimkan 180 juta dosis vaksin ke blok tersebut pada kuartal kedua tahun ini, sehingga total secara keseluruhan mencapai 300 juta dosis. Namun, pada bulan lalu AstraZeneca mengatakan hanya mampu menargetkan sepertiga dari jumlah itu.

Brussels sangat marah akan hal itu, ditambah dengan fakta bahwa dosis vaksin yang dikirim ke Inggris tidak berkurang sama sekali, meski kontrak pembelian Uni Eropa dan Inggris sama-sama tertanggal Agustus 2020.

Pembelaan AstraZeneca

Produsen vaksin AstraZeneca pada Senin (26/04) menyayangkan keputusan Komisi Eropa dan mengatakan bahwa tidak ada dasar hukum yang jelas atas gugatan hukum tersebut.

"AstraZeneca telah sepenuhnya mematuhi Perjanjian Pembelian dengan Komisi Eropa dan akan melakukan pembelaan di pengadilan. Kami menyambut baik kesempatan ini untuk menyelesaikan sengketa secepat mungkin," kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Pada saat yang sama, perusahaan farmasi itu mengatakan bahwa mereka "berharap" untuk tetap bekerja sama dengan Komisi Eropa dalam program vaksinasi. Pihaknya juga akan mengirimkan hampir 50 juta dosis vaksin ke sejumlah negara Eropa pada akhir April 2021.

ha/hp (AFP, Reuters)