Pesan Lagi 1,8 Miliar Dosis Vaksin, Uni Eropa Andalkan BioNTech-Pfizer | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 15.04.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Vaksin Covid-19

Pesan Lagi 1,8 Miliar Dosis Vaksin, Uni Eropa Andalkan BioNTech-Pfizer

Uni Eropa mengumumkan pemesanan baru 1,8 miliar dosis vaksin BioNTech-Pfizer untuk 2023. Setelah penyaluran vaksin Johnson & Johnson ditangguhkan, BioNTech menjamin pemasokan jalur cepat.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen hari Rabu (14/4) mengatakan akan memesan 1,8 miliar dosis tambahan vaksin BioNTech-Pfizer untuk 2023.

Von der Leyen mengatakan Uni Eropa tetap mengandalkan vaksin BioNTech-Pfizer, sekalipun pemasokan vaksin itu awalnya mengalami kelambatan. Namun dengan kapasitas produksi yang baru dibangun, Uni Eropa sudah mengajukan pesanan baru dan pengiriman 50 juta dosis vaksin untuk kuartal kedua tahun ini.

Pesanan mendadak itu dilakukan setelah pembuat vaksin Johnson & Johnson menangguhkan pengiriman vaksin produksi mereka, karena adanya kasus efek samping langka pembekuan darah yang muncul di AS.

Ursula von der Leyen mengatakan, Brussels memiliki kepercayaan penuh pada teknologi yang digunakan untuk pengembangan vaksin BioNTech. Proses pembuatan vaksin BioNTech yang berbasis teknologi mRNA memang berbeda dengan proses pengembangan vaksin AstraZeneca atau Johnson & Johnson, yang  menggunakan teknologi vektor virus.

Tetapi kelemahannya vaksin BioNTech-Pfizer membutuhkan pendinginan ekstrem untuk transportasi dan penyimpanan. Sedangkan AstraZeneca bisa disimpan lebih mudah pada suhu pendinginan biasa.

Perkembangan kasus Covid-19 di beberapa negara Asia sampai 14 April 2021

Perkembangan kasus Covid-19 di beberapa negara Asia sampai 14 April 2021

"Kita perlu fokus pada teknologi yang telah terbukti keampuhannya," kata Ursula von der Leyen.

Uni Eropa saat ini sudah memesan 2,3 miliar dosis vaksin dari beberapa perusahaan, termasuk dari BioNTech/Pfizer, dan sedang melakukan negosiasi untuk pemesanan baru.

100 juta orang di Uni Eropa sudah mendapat vaksinasi

"Seperti yang bisa kita lihat, dengan pengumuman Johnson & Johnson kemarin, masih banyak faktor yang dapat mengganggu jadwal pengiriman vaksin yang direncanakan,” kata Ursula von der Leyen. "Oleh karena itu, penting untuk bertindak cepat, mengantisipasi, dan menyesuaikan lagi sedapat mungkin."

Untuk periode April sampai Juni 2021, Uni Eropa akan menerima sekitar 250 juta dosis vaksin.

"Ini secara substansial akan membantu mengkonsolidasikan peluncuran kampanye vaksinasi kami," kata Ursula von der Leyen dan menambahkan, sejauh ini sudah sekitar 100 juta orang di Uni Eropa menerima vaksinasi Covid-19 dosis pertama, dan sekitar 27 juta orang sudah menerima dosis kedua.

Kelambatan pemasokan

Pada awal peluncuran vaksinasi, Uni Eropa didera kritik karena dianggap terlambat melakukan pemesanan vaksin. Program vaksinasi beberapa kali harus ditunda karena pemasokan yang terlambat. Para pejabat Uni Eropa sempat memrotes AstraZeneca, yang baru mampu memasok kurang dari seperempat dari seluruhnya 120 juta dosis yang telah dijanjikan.

Meskipun otoritas medis Eropa EMA menyatakan AstraZeneca aman untuk semua orang dewasa, banyak negara Uni Eropa yang membatasi penggunaannya, setelah sejumlah kasus pembekuan darah langka dilaporkan pada beberapa orang muda yang telah mendapat vaksinasi.

Peluncuran vaksin Johnson & Johnson di Eropa juga ditunda, setelah beberapa kasus serupa muncul di Amerika Serikat.

hp/as   (dpa, rtr, afp)

Laporan Pilihan