1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Foto ilustrasi KTT G7 di Jerman
Foto ilustrasi KTT G7 di JermanFoto: Karl-Josef Hildenbrand/dpa/picture alliance

KTT G7 di Jerman: Pertemuan Puncak di Tengah Krisis

26 Juni 2022

Para pemimpin kelompok G7 kembali menggelar pertemuan puncak, kali ini di Kastil Elmau di Jerman. Pembahasan akan didominasi tema perang di Ukraina, masalah pangan global dan perlindungan iklim.

https://www.dw.com/id/ktt-g7-di-jerman/a-62257987

Setiap tahun, KTT G7digelar berpindah-pindah. Kali ini, anggota G7, yang terdiri dari Amerika Serikat, Italia, Jepang, Jerman, Kanada dan Prancis dan Jerman akan bertemu di kawasan terpencil di Garmisch-Partenkirchen, di selatan Jerman.

Lokasi pertemuannya di Kastil Elmau. Ini bukan pertama kali Kastil Elmau ini menjadi lokasi KTT G7. Tahun 2015 pertemuan puncak kelompok negara-negara industri maju itu sudah pernah digelar di sini. Namun tahun ini, situasinya memang berbeda. Invasi Rusia ke Ukraina tidak hanya berdampak pada perubahan geopolitik dunia, melainkan juga menjurus pada krisis pangan global. Ukraina dan Rusia adalah penghasil gandum utama dunia.

Dunia, yang belum lepas dari cengkeraman pandemi corona, harus berhadapan dengan ketegangan politik dan peperangan yang dengan cepat bisa berdampak luas. Harga energi melonjak dan pada gilirannya mendorong angka inflasi di negara-negara maju ke rekor tertinggi. Selain itu, dunia masih harus menghadapi krisis perubahan iklim, terutama dalam bentuk cuaca yang ekstrem seperti gelombang panas yang kini melanda Eropa maupun bencana banjir seperti di Asia Selatan.

Kastil Elmau, lokasi KTT G7 2002 di Garmisch-Partenkirchen, Jerman
Kastil Elmau, lokasi KTT G7 2002 di Garmisch-Partenkirchen, JermanFoto: Sven Hoppe/dpa/picture alliance

Forum diskusi tanpa keputusan mengikat

Ketika dibentuk tahun 1975 dalam pertemuan puncak di Kastil Rambouillet, Prancis, kelompok ini masih terdiri dari enam negara dan disebut G6, saat itu Kanada belum bergabung. Pertemuan pertama itu digelar ketika negara-negara industri maju juga sedang menghadapi ancaman resesi yang diakibatkan kenaikan harga minyak. Negara-negara penghasil minyak yang tergabung di OPEC ketika itu memutuskan untuk membatasi produksi dan mendikte harga minyak mereka di pasaran dunia.

Tahun 1976 Kanada bergabung dan G7 pun terbentuk lengkap. Tahun 1998 Rusia sempat bergabung sehingga kelompok ini menjadi G8. Namun Rusia keluar setelah menginvasi Krimea tahun 2014. Sejak itu, G8 kembali menjadi G7.

KTT G7 adalah sebuah forum informal, karena G7 bukan organisasi. Pada pertemuan G7 dibahas situasi global dengan keputusan untuk bekerjasama dalam bidang-bidang tertentu. Namun keputusan dan kesepakatan yang dicapai hanya bersifat usulan dan rekomendasi, bukan sesuatu yang mengikat. Hasil pertemuan puncak biasanya diumumkan dalam sebuah komunike atau pernyataan bersama.

Aksi protes kelompok masyarakat sipil pada KTT G7 2021 di Cornwall, Inggris
Aksi protes kelompok masyarakat sipil pada KTT G7 2021 di Cornwall, InggrisFoto: Tom Nicholson/REUTERS

Kritik kelompok masyarakat sipil

Ada tema umum yang selalu menjadi pembahasan, yaitu situasi keuangan dan perekonomian global. Beberapa tahun terkahir G7 juga membahas situasi keamanan, migrasi dan perubahan iklim. Tahun ini, terutama perang di Ukraina dan masalah pangan akan menjadi sorotan. Tema-tema pembicaraan biasanya disiapkan oleh negara presidensi, tahun ini dijabat oleh Jerman.

Sekalipun G7 hanya mewakili 10 persen populasi dunia, kelompok ini menguasai 45 persen perekonomian global. Karena dituduh justru memperbesar kesenjangan, dalam beberapa tahun terakhir G7 juga mengundang wakil-wakil negara berkembang untuk hadir dan bersuara. Tahun ini, Jerman mengundang empat negara untuk hadir, yaitu Indonesia sebagai Presiden G20, Afrika Selatan, Argentina, India dan Senegal mewakili suara negara-negara berkembang. Selain itu, Uni Eropa juga selalu diundang sebagai pengamat.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pertemuan puncak tahun ini pun akan diiringi protes kelompok-kelompok masyarakat sipil. Mereka menuntut agar negara-negara kaya tidak hanya memberi bantuan kepada negara-negara miskin, tetapi mengatasi kesenjangan dan memerangi penyebab ketimpangan itu demi membentuk dunia yang lebih adil. Pada kenyataannya, di berbagai bagian dunia masih ada bencana kelaparan dan kemiskinan yang parah. (hp/yf)