1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Gejala penggurunan di Spanyol
Gejala penggurunan makin luas di SpanyolFoto: PIERRE-PHILIPPE MARCOU/AFP/Getty Images

Krisis Air di Eropa Selatan, Penjatahan Mulai Diterapkan

Tim Schauenberg
6 Juli 2022

Kekeringan parah dan kurangnya curah hujan memaksa beberapa negara di Eropa Selatan seperti Italia, Portugal dan Spanyol menjatah penggunaan air. Dampak perubahan iklim makin terasa di seluruh Eropa.

https://www.dw.com/id/krisis-air-di-eropa-selatan-penjatahan-mulai-diterapkan/a-62378675

Konsekuensi konsumsi air secara berlebihan dan dampak perubahan iklim kini makin terasa dalam kehidupan sehari-hari di Eropa, terutama di bagian selatan yang saat ini mengalami kekeringan dan gelombang panas ekstrem. Pemerintah Italia sudah meminta warganya membatasi penggunaan air seminimal mungkin. Tetapi situasinya bisa makin parah.

Konsumsi air oleh warga di Uni Eropa hanya mencakup 9% dari total penggunaan, sementara bagian terbesarnya, yakni sekitar 60% konsumsi air diserap oleh sektor pertanian. "Kekeringan adalah satu hal," kata Nihat Zal, ahli air di Badan Lingkungan Eropa EEA. "Yang lainnya adalah berapa banyak air yang kita ambil dari sistem."

Air mulai dijatah di Italia

Situasi paling paling dramatis terlihat di Italia utara, yang mengalami kekeringan terburuk dalam 70 tahun terakhir. Lebih dari 100 kota telah diminta untuk membatasi konsumsi airnya. Pada hari Senin (04/07), pemerintah Italia menyatakan keadaan darurat untuk lima wilayah hingga akhir tahun. Menghadapi krisis air itu, pemerintah kini menyiapkan dana bantuan jangka pendek sampai 36 juta euro.

Karena curah hujan selama musim dingin sangat minim, debit air di sungai Dora Baltea dan sungai sungai Po, sungai terbesar Italia, tercatat delapan kali lebih rendah dari biasanya. Kedua sungai menyuplai air untuk salah satu kawasan pertanian terpenting di Eropa. Sekitar 30% produksinya saat ini terancam akibat kekeringan.

Sungai Tiber di Roma dengan tinggi air 1,5 meter di bawah normal
Sungai Tiber di Roma dengan tinggi air 1,5 meter di bawah normalFoto: IPA/ABACA/picture alliance

Otoritas irigasi di wilayah barat laut Italia memerintahkan agar pohon buah-buahan tidak lagi disiram. Air yang dihemat akan digunakan untuk mengairi tanaman padi yang bernilai ekonomi lebih tinggi.

Walikota kota Verona telah mengumumkan, menyiram taman dan lapangan olahraga, mencuci mobil dan teras, mengisi kolam air dan kolam renang dilarang hingga akhir Agustus nanti untuk menjaga persediaan air minum. Kebun sayur hanya boleh disiram pada malam hari.

Kota Pisa juga mulai menerapkan penjatahan air. Mulai bulan ini air minum hanya dapat digunakan "untuk keperluan rumah tangga dan kebersihan pribadi". Pelanggaran akan mengakibatkan denda hingga 500 euro.

Di Milan, semua air mancur dekoratif telah dimatikan. Walikota kota kecil Castenaso ingin mengatasi masalah ini lebih drastis lagi: Dia telah melarang penata rambut dan tukang cukur untuk mencuci rambut pelanggan mereka dua kali. Di kota kecil berpenduduk 16.000 jiwa itu ada 10 penata rambut, yang ditargetkan menghemat ribuan liter air per hari.

Kekeringan parah di Portugal

Portugal mulai bersiap menghadapi tahun yang sangat kering. Kurangnya curah hujan dan rendahnya debit air di bendungan-bendungan mendorong pemerintah untuk membatasi penggunaan pembangkit listrik tenaga air menjadi dua jam per minggu. Tujuannya, untuk menjamin pasokan air minum bagi 10 juta penduduk Portugal, setidaknya selama dua tahun.

Pada akhir Mei, kekeringan parah sudah terjadi di 97% wilayah negara itu. Beberapa daerah mengalami musim kemarau terparah dalam seribu tahun. Asosiasi untuk irigasi pertanian di kota Silves, Lagoa dan Portimo di Portugal selatan telah mengaktifkan rencana darurat, di mana 1.800 lahan pertanian harus mengurangi separuh irigasi pada beberapa tanaman.

Duarte Cordeiro, Menteri Lingkungan dan Aksi Iklim Portugal, menyatakan pekan lalu, meskipun ada persiapan saat ini, negara itu harus hidup dengan pembatasan dan biaya air yang lebih tinggi di masa depan. Dia mendesak komunitas bisnis untuk berinvestasi dalam langkah-langkah penghematan air.

Nihat Zal dari Badan Lingkungan Eropa EEA melihat masih ada peluang untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi pemborosan air. "Rata-rata 25% air tawar hilang dalam perjalanan dari sumber air, seperti sungai, ke kawasan industri," katanya. Membangun infrastruktur air yang lebih efisien akan membawa "potensi penghematan yang sangat besar".

Pemandangan sungai Zezere di Portugal tengah
Portugal dilanda kekeringan parah, pemandangan sungai Zezere di Portugal tengahFoto: CARLOS COSTA/AFP/Getty Images

Krisis air di Spanyol

Spanyol saat ini juga mengalami kekeringan parah, dengan dua pertiga dari total luas lahannya berisiko mengalami kegersangan. Banyak lahan subur berubah menjadi tanah kering. Menurut biro meteorologi Spanyol, ini musim dingin terkering paling parah setelah kekeringan ekstrem tahun 1961.

Di Spanyol utara, 17 daerah terpaksa mengambil tindakan drastis. Kota Campelles di Catalonia sejak Februari lalu membatasi air aliran untuk warga hanya beberapa jam per hari. Untuk keadaan darurat, pemerintah kota membuat penampungan air yang diisi setiap hari di lima lokasi di desa. Di kota kecil Vacarisses di provinsi Barcelona, masyarakat mendapat penggiliran pemasokan air bersih dua kali sehari, antara pukul enam dan sepuluh pagi dan dari pukul delapan malam hingga tengah malam.

Spanyol adalah produsen produk pertanian terbesar ketiga di Uni Eropa. Setidaknya 70% dari semua air tawar digunakan untuk kebutuhan pertanian. "Permintaan terus naik," kata Juan Barea dari Greenpeace Spanyol. "Alih-alih mengusulkan kebijakan yang menghemat air, kami bertindak seolah-olah Spanyol memiliki air sebanyak Norwegia atau Finlandia. Kenyataannya, kami lebih seperti Afrika Utara."

"Untuk mengelola krisis air dengan lebih baik, penting untuk beralih dari manajemen krisis dan penjatahan air ke pemikiran jangka panjang", kata Nihat Zal dari EEA. Ini berarti meningkatkan efisiensi dalam penggunaan air, manajemen risiko berwawasan ke depan, dan mempersiapkan diri untuk krisis berikutnya. Artinya "beradaptasi dengan perubahan iklim di tingkat individu, di tingkat lokal, tingkat pemerintah, di semua tingkat," pungkasnya.

(hp/as)