1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Bencana Kelaparan Ancam Tanduk Afrika

2 Februari 2022

Kekeringan ekstrem di Tanduk Afrika menempatkan sebanyak 20 juta penduduk dalam risiko kelaparan. Hujan tidak turun sejak tiga musim terakhir. Tanpa bantuan, penduduk akan kewalahan menghadapi kemarau, Maret mendatang

https://p.dw.com/p/46NQH
Ilustrasi kekeringan di Etiopia
Ilustrasi kekeringan di EtiopiaFoto: Messay Teklu/DW

Kemarau biasanya datang dan pergi. Tapi di Tanduk Afrika, musim kering sudah berlangsung sejak hampir dua tahun.

Foto anak-anak yang berjalan melintasi bangkai binatang yang mati kehausan adalah gambaran paling mencolok dari bencana kekeringan yang melanda kawasan tersebut. Sebanyak 20 juta penduduk terancam krisis pangan dan air bersih.

Saat ini pemerintah di Somalia, Kenya, dan kini Etiopia sudah mengumumkan darurat air menyusul curah hujan yang rendah. Musim kering dikhawatirkan berpotensi memicu darurat pangan terparah sejak 35 tahun, lapor Laboratorium Observasi Bumi NASA.

Menurut lembaga tersebut, perubahan iklim dan fenomena La Niña di Samudera Pasifik berkontribusi terhadap cuaca kering di timur Afrika. Negara-negara di kawasan diminta bersiap menghadapi kelangkaan pangan, setidaknya sampai musim huja berikutnya.

Di kawasan Somali, Etiopia, penduduk yang kebanyakan peternak dan penggembala, berusaha sebisanya memitigasi dampak cuaca ekstrem. Tiga musim hujan berlalu tanpa curahan air dari langit.

Situasinya belum pernah separah ini, menurut Zaynab Wali, ketika menjamu delegasi Lembaga Anak PBB, UNICEF, di kediamannya. Saat bencana kekeringan terakhir melanda lima tahun silam, pemerintah memberikan bantuan makanan dan bibit tanaman kepada penduduk. 

"Sekarang kami tidak punya makanan cukup buat satu keluarga,” tutur ibu tujuh anak tersebut.

Bencana kemanusiaan

Lebih dari enam juta penduduk Etiopia diprediksi akan membutuhkan bantuan pangan darurat pada pertengah Maret, lapor UNICEF pada Selasa (01/02). Adapun di Somalia, jumlah warga yang mengalami rawan pangan mencapai tujuh juta orang. 

Situasi yang mendesak menuntut bantuan cepat, menurut LSM Somali, Consortium, dalam sebuah keterangan pers. Lembaga kemanusiaan itu mengimbau lembaga donor internasional untuk mengalokasikan lebih banyak dana.

Cara Beradaptasi dengan Iklim Yang Terus Berubah

"Kita hanya satu bulan sebelum musim kering, dan saya sudah kehilangan 25 kambing dan domba,” kata Hafsa Bedel, peternak di kawasan Somali, kepada UNICEF. "Saya juga kehilangan empat unta. Tidak ada lagi susu yang bisa diperah,” pungkasnya.

Hafsa mengatakan hasil dari beternak tidak lagi cukup untuk menghidupi keenam orang anaknya. 

UNICEF memperkirakan lebih dari 150.000 anak-anak di Etiopia akan dipaksa bolos sekolah untuk membantu orang tua mencari air, atau mengurus pekerjaan rumah lain. 

"Hewan-hewan mati dalam kecepatan yang luar biasa, dan bertambah setiap bulannya. Matinya hewan-hewan ini berarti kelangkaan pangan untuk anak-anak, untuk keluarga,” kata Gianfranco Rotigliano, utusan UNICEF untuk Etiopia, Selasa (01/02).

Dia mengatakan beberapa sumber air alami telah kering secara permanen. Salah satu solusi yang ditawarkan UNICEF adalah merehabilitasi sumur air yang sudah ada, atau mengebor yang baru.

Menurut Rotigliano, perang antara pemerintah Etiopia dan pemberontak Tigray tidak berdampak pada operasi UNICEF menyalurkan bantuan bagi warga.

rzn/ha (AP, dpa)