Konflik Atom Korut: Berubahnya Sikap AS dan Korut | dunia | DW | 06.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Konflik Atom Korut: Berubahnya Sikap AS dan Korut

Sejak bertahun-tahun PBB berupaya mengadakan perundingan dengan pemerintah di Pyongyang dalam masalah sengketa atom negara itu. Setelah lama perundingan ini tidak berbuah apapun, sekarang tiba-tiba terjadi perkembangan.

Christopher Hill, Juru runding AS untuk masalah atom Korea Utara

Christopher Hill, Juru runding AS untuk masalah atom Korea Utara

Di New York wakil dari Korea Utara dan Amerika Serikat bertemu secara langsung. Menjelang pertemuan, kedua pihak berupaya keras untuk menunjukkan mereka siap berkompromi. Dalam pertemuan tingkat menteri antara kedua Korea pekan lalu, Korea Utara menjamin akan menutup instalasi nuklirnya dan melaporkan secara terbuka program atomnya. Juga perubahan sikap jelas tampak di pihak Amerika Serikat. Pertama, mereka menyetujui pembicaraan langsung yang selama ini selalu ditolaknya. Kedua, akhir pekan lalu Washington mengisyaratkan akan mencabut sanksi ekonomi terhadap Korea Utara.

Sejak Oktober 2005 lalu, rekening bank Korea Utara sebesar 24 juta Dollar di Bank Delta Asia di Makao, dibekukan. Amerika Serikat menuduh pemerintah di Pyongyang melakukan pencucian uang dan transaksi ilegal lewat rekening bank itu. Diperkirakan separuh dari jumlah uang tersebut akan dicairkan oleh Amerika Serikat. Ketiga, pemerintah Bush untuk pertama kalinya meragukan, apakah Korea Utara benar-benar memiliki program atom kedua. Di depan Kongres di Kapitol secara mengejutkan seorang pejabat dinas rahasia Amerika Serikat menjelaskan, mereka tidak sepenuhnya lagi percaya, bahwa di samping memproduksi plutonium, Korea Utara juga memproduksi uranium yang dapat dibuat bom atom.

Pandangan baru Amerika Serikat ini akan mempermudah bisnis persenjataan nuklir dengan Korea Utara. Karena sengketa atom tersebut terjadi tahun 2002 lalu, yang dipicu oleh tuduhan Amerika Serikat, bahwa Korea Utara secara diam-diam mulai memperkaya uranium. Misalnya Korea Utara telah membeli 20 sentrifugal dari Pakistan, yang dapat dipakai sebagai contoh untuk membangun pabrik pengayaan uranium. Kemudian diduga produk uranium dalam bentuk gas dari Korea Utara ditemukan di instalasi nuklir di Libya. Tapi sekarang juru runding Amerika Serikat untuk masalah sengketa atom dengan Korea Utara, Christopher Hill, menjelaskan, pemerintah di Pyongyang memang membeli sentrifugal, namun diragukan seberapa jauh pemanfaatannya.

Sikap Amerika Serikat ini meringankan Korea Utara untuk membeberkan secara terbuka program atomnya, karena mereka dapat melakukan pengayaan uranium tanpa harus khawatir dikenai sanksi. Paling tidak dengan demikian Washington mengisyaratkan Pyongyang, bisnis atomnya tidak perlu gagal akibat ketidakjelasan dalam tema pengayaan uranium. Oleh sebab itu, harian New York Times dalam sebuah komentarnya menyebut adanya kenyataan pragmatis, di mana Amerika Serikat baru mau berunding setelah Korea Utara menyatakan bersedia mengijinkan kembali masuknya inspektur Badan Energi Atom Internasional ke negara itu.

Iklan