Koneksi Internet Minim, Negara Miskin Tersisih dari Diskusi Perubahan Iklim | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 02.06.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kesenjangan digital

Koneksi Internet Minim, Negara Miskin Tersisih dari Diskusi Perubahan Iklim

Negara miskin dan berkembang lebih dulu merasakan dampak perubahan iklim. Saat ingin ikut berdiskusi di forum internasional dan menceritakan kisah mereka, koneksi internet pun ngadat.

Kekeringan di sebuah desa di Zambia

Kekeringan di sebuah desa di Zambia

Aktivis lingkungan dari Zambia, Precious Kalombwana, sangat senang ketika tahu ia akan mengikuti lokakarya pelatihan online dengan mantan Wakil Presiden AS, Al Gore. Tetapi apa nyana, saat giliran dia berbicara di forum tersebut, koneksi internetnya putus sambung. Tidak ada orang yang bisa mendengarnya dengan jelas.

Pandemi COVID-19 memang telah banyak memindahkan acara-acara dari dunia nyata ke dunia maya, termasuk pembicaraan iklim PBB yang dimulai pada hari Senin (01/06). Di satu sisi, perpindahan ini mempermudah para ahli dan aktivis di seluruh dunia untuk berpartisipasi. Namun di sisi lain, orang-orang yang tinggal di berbagai tempat tanpa konektivitas yang dapat diandalkan mengatakan bahwa mereka ketinggalan. Bagi Kalombwana, 27, workshop dengan Al Gore ternyata jadi pengalaman yang membuatnya frustrasi.

"Sangat mengesalkan dan sangat membuat stres saat Anda mencoba terhubung dan Anda tidak dapat berbicara," kata Kalombwana, yang tergabung dalam wadah kampanye nirlaba untuk aksi iklim, Jaringan Warga untuk Pengembangan Komunitas Zambia.

"Saya ingin ambil bagian dalam pertemuan itu karena itu sangat penting bagi saya sebagai aktivis iklim. Saya ingin berhubungan dengan orang lain, mendengar lebih banyak ide tentang apa yang bisa kita lakukan. Saya frustrasi ketika saya tidak bisa melakukannya," tutur Kalombwana kepada Thomson Reuters Foundation melalui telepon.

Tidak semudah "tinggal klik”

Sebelum wabah COVID-19 menghentikan sebagian besar pertemuan tatap muka pada awal tahun lalu, para aktivis seperti Kalombwana seringnya menghadapi tantangan yang berbeda jika ingin ikut dalam forum-forum diskusi iklim di luar negeri.

Birokrasi pengurusan visa, perjalanan panjang, dan tiket pesawat yang mahal membuat para aktivis kesulitan untuk ambil bagian. Setelah kebanyakan aktivitas beralih ke online, sebagian orang hanya tinggal klik untuk bisa masuk ke sebuah acara atau diskusi. 

Tonton video 02:18

Al Gore: Indonesia Hadapi Krisis Berat Perubahan Iklim

Tetapi pergeseran dari dunia nyata ke dunia maya inilah yang juga menyoroti jurang kesenjangan digital. Orang-orang yang tinggal di daerah yang lebih miskin dan negara-negara berkembang yang seringnya berada di garis depan perubahan iklim justru harus berjuang lebih keras lagi karena buruknya koneksi internet.

Di negara berkembang, banyak orang mengandalkan kantor mereka untuk dapat sambungan internet yang bagus. Namun mereka tidak bisa lagi pergi ke kantor karena pembatasan akibat pandemi. Ada pula yang harus menghadapi penutupan akses internet oleh pihak berwenang seperti yang terjadi di Myanmar, atau harus bergantung pada data ponsel dengan kualitas rendah.

"Ini akan mengarah pada hasil yang tidak adil dan akan memperkuat tidak setaranya kekuatan di antara negara-negara dan memungkinkan suara-suara yang berlawanan untuk dibungkam,” kata Harjeet Singh, penasihat senior dampak iklim di Climate Action Network International.

Mimpi raih kesetaraan tanpa akses internet

Sebagai tanda keprihatinan mendalam atas akses internet yang tidak setara di berbagai negara, para delegasi di PBB tidak akan membuat keputusan formal apa pun selama negosiasi iklim online PBB yang dimulai minggu ini menjelang pembicaraan COP26 di Glasgow pada bulan November. Keputusan ini dibuat setelah beberapa delegasi dari negara miskin mengatakan kekhawatiran bahwa masalah konektivitas internet dapat merugikan mereka.

"Lebih banyak orang bertanya 'Bagaimana kita bisa inklusif, bagaimana kita bisa memastikan bahwa kita bisa punya lebih banyak suara, siapa yang belum kita libatkan?'" kata Eleanor Sarpong dari koalisi global Alliance for Affordable Internet (AA41).

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk melibatkan orang-orang yang koneksinya tidak memungkinkan untuk melakukan streaming video yang memakan banyak data dan mendominasi banyak acara virtual, kata para ahli. 

Salah satunya penyelenggara harus menawarkan berbagai tingkat kualitas streaming, termasuk diadakannya pilihan hanya audio dan opsi teks yang butuh data jauh lebih sedikit, kata Osama Manzar, direktur Digital Empowerment Foundation di India. Berbagai pemikiran out of the box sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini.

Saling pinjamkan fasilitas

Selain mengubah format konferensi, penyelenggara acara dapat menawarkan dukungan keuangan untuk membantu menjembatani kesenjangan digital ini. Beberapa organisasi memberikan hibah untuk membeli data internet yang harganya sering kali tidak terjangkau bagi banyak orang, kata Sarpong, atau mereka membayar biaya untuk pergi ke pusat bisnis dan hotel yang memiliki koneksi baik di daerah yang memiliki infrastruktur internet buruk.

Harjeet Singh, penasihat senior tentang dampak iklim di Climate Action Network International, mengatakan kantor PBB di Nepal mengundang organisasi lain untuk tidak ragu menggunakan tempat dan koneksi internet mereka untuk bergabung dalam pembicaraan jika mereka kesulitan untuk bisa online. Dia menyarankan organisasi lain juga mengikuti inisiatif ini.

Peristiwa-peristiwa dengan tensi tinggi seperti negosiasi PBB yang bisa berlangsung hingga berjam-jam mungkin juga menuntut lingkungan kerja yang lebih terfokus dan bebas dari gangguan yang kadang-kadang ditemui di rumah, kata Singh.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pertemuan online biasanya diadakan di beberapa zona waktu berbeda. Karena itu, pengaturan waktu harus bervariasi untuk memastikan tidak ada satu kelompok pun yang terus-menerus ketinggalan diskusi.

Opsi ini telah diadopsi pada pembicaraan iklim bulan ini, dengan sesi harian yang lebih pendek selama tiga minggu. Namun, membangun koneksi lewat layar ternyata jelas lebih sulit daripada bertemu langsung, kata Singh.

"Tidak ada alasan mengatakan 'karena kita melakukan ini secara virtual, kita hanya akan melibatkan orang-orang dari Global North' ... ketika orang-orang yang terkena dampak berada di beberapa negara (berkembang) dan mereka akan berada dalam posisi terbaik untuk berbicara mengenai pengalaman mereka sendiri," tambahnya.

ae/pkp (Thomson Reuters Foundation)

Laporan Pilihan