Kolom: Pandemi Corona Pertanda Akhir Zaman? | Mukalama | DW | 12.03.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Kolom: Pandemi Corona Pertanda Akhir Zaman?

Pandemi COVID-19 yang memaksa penutupan Kabah memicu sebagian umat muslim menyuarakan betapa kiamat kian dekat. Tapi sains dan sejarah membuktikan manusia pernah menghadapi bencana kesehatan yang lebih parah sebelumnya

Pemerintah Arab Saudi menutup area Kabah untuk dibersihkan

Pemerintah Arab Saudi menutup area Kabah untuk dibersihkan

Eskalasi wabah corona dan derasnya pemberitaan media memicu sikap unik pada sejumlah pemuka agama, bahwa bencana yang datang merupakan "pertanda kiamat sudah dekat." 

Virus yang pertamakali muncul di Wuhan, Cina, akhir 2019 silam itu kini merambah Eropa dan puluhan negara lain di dunia. Saat ini sekitar 120.000 orang mengidap COVID-19 dan laju infeksi diyakini belum akan melambat dalam waktu dekat.‪ ‬‬

Klaim Agama

Adalah hal lumrah jika dalam kasus bencana atau wabah penyakit, orang berusaha menjelaskan fenomena yang seringkali berada di luar pemahaman manusia itu sebagai sebuah pertanda dari langit. Sikap ini tidak pula terbatas pada agama tertentu. Sebab itu pula sebagian umat beragama menggunakan tafsir "ayat-ayat suci" untuk mengaitkan wabah corona dengan tanda-tanda datangnya kiamat.

Editor DW, Atif Tauqeer

Editor DW, Atif Tauqeer

Beberapa juga mengklaim agama telah memprediksi datangnya bencana corona sejak berabad-abad silam, yang juga memperkuat klaim atas kebenaran tunggal keyakinan yang dianut.

Pengguna media sosial misalnya mengutip Lukas 21:11 dari Alkitab, bahwa "di mana-mana akan terjadi gempa bumi yang hebat, bahaya kelaparan dan wabah penyakit.” Ayat tersebut merujuk pada tanda-tanda akhir zaman.

Seorang pengguna lain menulis beragam peristiwa muram yang terjadi di tahun 2020 merupakan pertanda kedatangan Yesus, "Kebakaran Australia, virus corona, gempa bumi, pembunuhan di seluruh dunia, meningkatnya bencana kelaparan, dan lalu ada mereka yang menertawakan Kitab Wahyu." 

Di sisi lain, sejumlah muslim juga ikut-ikutan aktif mempropagandakan klaim serupa, bahwa Islam sudah memerintahkan umatnya membasuh tangan dalam Wudhu sebelum pakar kesehatan menyarankan "mencuci tangan" buat mencegah penularan. Padahal menurut anjuran medis, mencuci tangan dengan air saja tidak cukup membunuh kuman, bakteri atau virus yang bersarang di permukaan kulit, melainkan harus menggunakan sabun.

Sejumlah pemuka Islam juga terdengar mengaitkan pandemi COVID-19 dengan hadis Nabi Muhammad yang menggambarkan betapa akhir zaman ditandai dengan wabah penyakit di seluruh dunia.

Tidak sedikit pula yang menganggap kebijakan pemerintah Arab Saudi mengosongkan area di seputar Kabah dan menghentikan ibadah umrah  sesuai dengan tanda kiamat, yakni ketika tidak ada lagi manusia yang melakukan Tawaf di Kabah.

Meski bukan pertama kali, penutupan Kabah adalah peristiwa langka. Dalam beberapa kasus, praktik ibadah di Kabah di hentikan ketika Mekkah dilanda banjir, serangan teror kaum militan atau ketika kelompok Ikhwan menduduki Masjid al-Haram di Mekkah pada 1979 untuk menjatuhkan dinasti Saud.

Namun foto Kabah yang sepi di tahun 2020 tetap memicu duka kaum muslim di seluruh dunia. 

Pemuka agama Hindu tidak kalah giat menafsirkan wabah corona sesuai pandangan agama. Swami Chakrapani, Presiden partai konservatif Hindu di India, ‪Akhil Bharatiya Hindu Mahasabha, bahkan menyebut virus corona sebagai "avatar yang mengamuk," sebuah inkarnasi tuhan yang diturunkan demi menghukum manusia tamak.

"Corona bukan virus, tapi avatar yang diturunkan untuk melindungi kaum miskin. Mreka datang dengan pesan kematian dan hukuman terhadap mereka yang memakannya," kata Swami.

Karena virus corona awalnya ditularkan dari hewan ke manusia, Chakrapani menganjurkan warga Cina pemakan daging agar "berjanji untuk tidak melukai mahluk hidup tidak berdosa di masa depan untuk meredakan amarah Corona."

Usulan lain yang tidak kalah dramatis datang dari anggota parlemen negara bagian Assam, India. Suman Haripriya, seorang Hindu nasionalis dari  partai Bharatiya Janata Party (BJP) mengklaim air kencing sapi bisa membantu mencegah penyebaran virus corona. "Ketika air kencing sapi bertebaran, ia menyucikan area itu. Saya yakin air kencing atau kotoran sapi bisa digunakan untuk menyembuhkan virus corona."

‪‪Bantahan Sains ‬

COVID-19 tergolong virus penyakit zoonotik yang menular dari hewan ke manusia. Ada banyak keluarga virus corona yang memicu beragam penyakit seperti Middle East Respiratory Syndrome  (MERS-CoV) atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV). Adapun SARS-CoV-2 yang mewabah saat ini adalah jenis corona yang belum pernah menular pada manusia sebelumnya.

SARS-CoV-2 memicu penyakit COVID-19, sejenis pneumonia akut atau radang paru-paru yang bisa memicu kegagalan organ multiple pada pasien berusia di atas 50 tahun atau yang sudah memiliki penyakit akut lain.

Sejauh ini sudah sekitar 120.000 orang positif mengidap COVID-19 dan sekitar 4.300 meninggal dunia akibatnya. Kebanyakan korban berada di provinsi Hubei, Cina, di mana virus pertama kali mewabah.

Namun berbeda dengan klaim sebagian pemuka agama, bukan kali pertama manusia menghadapi wabah mematikan serupa COVID-19. Pada abad ke14, wabah sampar membunuh lebih dari 200 juta manusia di Asia, Eropa dan Timur Tengah. Penyakit mematikan itu disebabkan oleh penularan bakteri Yersinia Pestis lewat lalat dengan bantuan hewan pengerat seperti tikus. 

Lebih dari seabad silam Flu Spanyol menyebar ke seluruh dunia dan membunuh sekitar 50 juta orang, dari 500 juta yang tertular. Virus influenza tipe H1N1 itu berasal dari unggas atau babi yang menyebar ke manusia lewat daging.

SARS-CoV-2 yang kita hadapi saat ini memang berbahaya. Setiap individu disarankan mengambil langkah pencegahan untuk menghindari penularan dan meminimalisir risiko infeksi pada kelompok usia lanjut. Namun di masa lalu, manusia pernah pula menghadapi pandemi mematikan di seluruh dunia yang memicu jutaan angka kematian. Dan jika menimbang bagaimana manusia mampu menyintas di tengah bencana kesehatan di masa lalu, sulit membantah bahwa "akhir zaman" belum akan tiba, meski dengan hadirnya virus corona.

Ed: rzn/ap