Kim Jong Un Akui Korea Utara Sedang Hadapi Ancaman Wabah Kelaparan | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 16.06.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Korea Utara

Kim Jong Un Akui Korea Utara Sedang Hadapi Ancaman Wabah Kelaparan

Kelangkaan pangan di Korea Utara semakin “menegangkan,” kata Kim Jong Un seperti dilaporkan media pemerintah. Pernyataan itu jadi peringatan bagi negeri yang pernah mengalami wabah kelaparan pada 1990-an itu

Kim Jong Un dalam sidang Komite Sentral Partai Buruh Korea di Pyongyang, Selasa (15/6).

Kim Jong Un dalam sidang Komite Sentral Partai Buruh Korea di Pyongyang, Selasa (15/6).

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, dalam sebuah sidang Komite Sentral Partai Buruh Korut, mengimbau petani-petani lokal untuk mampu memitigasi dampak cuaca ekstrem yang melumat hasil panen tahun ini. Kegagalan panen menurutnya dipicu serangkaian badai musim panas yang melanda tahun lalu.

Korea Utara saat ini masih berada di bawah embargo ekonomi internasional. Tanpa sanksi pun, negeri Komunis itu acap kewalahan menjamin ketersediaan pangan bagi warganya, yang ditandai oleh maraknya kasus malnutrisi seperti dilaporkan PBB.

Di tengah pandemi corona, gelombang cuaca ekstrem yang menyebabkan bencana banjir meluluhlantakkan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Di hadapan Komite Sentral, Kim mengabarkan kendati mencatat pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kapasitas produksi, Korea Utara mengalami "serangkaian bencana” yang menciptakan ancaman bagi rakyat.

"Situasi pangan untuk rakyat semakin menegangkan, ketika sektor pertanian gagal memenuhi kuota produksi beras dan gandum akibat kerusakan yang dipicu bencana topan tahun lalu,” katanya seperti dilansir kantor berita KCNA.

Topan Maysak melanda semenanjung Korea pada 3 September 2020.

Topan Maysak melanda semenanjung Korea pada 3 September 2020.

Bencana alam picu gelombang kelaparan

Banjir yang diakibatkan topan pada musim panas tahun lalu merusak ribuan rumah dan jutaan hektar lahan pertanian. Sebagai reaksinya pemerintah di Pyongyang membangun ulang desa-desa yang rusak dalam tempo singkat.

Tapi kerusakan pada sektor pertanian bersifat jangka panjang. Kim mendorong aparat negara mengambil langkah-langkah kongkrit untuk memitigasi dampak cuaca ekstrem. Menurutnya, menjamin ketersediaan bahan pangan adalah "prioritas utama.”

Perkembangan teranyar di Korea Utara mengingatkan pada bencana kelaparan antara 1994 dan 1998, di mana hingga 3,5 juta penduduk meninggal dunia. Saat itu pun, kelangkaan pangan dipicu kegagalan panen akibat bencana alam banjir.

Sejak bencana kelaparan parah itu, produksi dan distribusi pangan di Korut belum sepenuhnya pulih. Hal ini terlihat pada besarnya bantuan pangan dari luar negeri. Menurut estimasi Korea Selatan, Pyongyang membutuhkan setidaknya 1,2 juta ton bahan pangan untuk mencegah bencana kelaparan.

Hal senada diperingatkan Kantor Koordinasi Kemanusiaan PBB (OCHA). Menurut juru bicaranya, dampak pandemi "semakin memperparah” situasi kemanusiaan di Korut tahun ini. Diperkirakakan, sebanyak 10,6 juta penduduk membutuhkan bantuan pangan.

April silam, Kim Jong Un mengimbau warganya untuk menyiapkan diri menghadapi "situasi paling buruk” usai musim panen. Imbauan serupa pernah dikampanyekan kakeknya, Kim Il Sung, yang mengajak rakyat melakukan "mars penderitaan” sebagai tugas patriotik melawan bencana kelaparan.

rzn/as (afp,rtr)

Laporan Pilihan