1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialAsia

Kim Jong Un Bandingkan Korut dengan Masa Bencana Kelaparan

9 April 2021

Komentar Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tunjukkan keseriusannya tanggapi kesulitan di negaranya saat ini. Para pengamat anggap ini sebagai ujian terbesar di masa 9 tahun pemerintahannya.

https://p.dw.com/p/3rlTh
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un
Pemimpin Korea Utara Kim Jong UnFoto: KCNA/dpa/picture alliance

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyerukan para pejabat di negaranya untuk bekerja lebih keras lagi, untuk menanggulangi beratnya beban ekonomi. Untuk pertama kalinya, Kim membandingkan kondisi sekarang dengan bencna kelaparan tahun 1990-an yang menewaskan ratusan ribu orang warga Korut.

Kim sebelumnya memang pernah mengatakan bahwa negaranya menghadapi situasi "terburuk yang pernah ada” karena beberapa faktor, termasuk pandemi virus corona, sanksi yang dipimpin AS, dan bencana pada musim panas tahun lalu. Tapi ini adalah kali pertama dia secara terbuka menggambarkan kondisi ini setara dengan bencana kelaparan yang mematikan yang pernah melanda negara itu tahun 1990-an.

Para analis pemantau Korea Utara belum mendeteksi adanya tanda-tanda kelaparan massal atau bencana kemanusiaan. Tetapi komentar Kim menunjukkan betapa seriusnya dia memandang kesulitan saat ini - yang menurut pengamat asing adalah ujian terbesar dari masa sembilan tahun pemerintahannya.

"Ada banyak rintangan dan kesulitan di depan kita, jadi perjuangan kita untuk melaksanakan keputusan Kongres Partai Kedelapan tidak akan berjalan lancar,” ujar Kim kepada anggota partai yang berkuasa di tingkat yang lebih rendah, Kamis (08/04), seperti dikutip dari kantor berita pemerintah, Korean Central News Agency.

Kembali gaungkan arduous march

Kim Jong Un juga meminta organisasi WPK (Partai Pekerja Korea) di semua tingkatan, termasuk Komite Sentral dan sel sekretaris dari seluruh partai, untuk kembali melakukan arduous march atau kerja yang lebih berat lagi guna meringankan beban rakyat. Istilah arduous march sendiri dipakai sebagai doktrin pemerintah untuk menandakan masa-masa kelam saat bencana kelaparan melanda Korea Utara sekitar tahun 1994 hingga 1998.

Kim berpidato pada upacara penutupan pertemuan partai dengan ribuan anggota akar rumput (disebut sebagai sel sekretaris) dari partai yang berkuasa. Pada pidato pembukaan hari Selasa (06/04), Kim mengatakan peningkatan mata pencaharian publik dalam menghadapi "situasi terburuk” akan bergantung pada sel-sel partai. 

Sebelumnya pada kongres partai di bulan Januari, Kim memerintahkan para pejabat untuk membangun ekonomi mandiri yang lebih kuat, mengurangi ketergantungan impor, dan memproduksi lebih banyak barang konsumsi. Tetapi masalah Korea Utara adalah gabungan dari salah urus, isolasi diri, dan sanksi berkepanjangan akibat program nuklirnya, demikian menurut para analis.

Data yang dikeluarkan pemerintah Cina menunjukkan perdagangan negara itu dengan Korea Utara menyusut sekitar 80% tahun lalu, menyusul penutupan perbatasan Korea Utara sebagai langkah untuk mencegah sebaran virus corona. Cina adalah mitra dagang dan pemberi bantuan terbesar ke Korea Utara.

Cina kemungkinan tidak akan membiarkan kelaparan terjadi

Para ahli mengatakan saat itu Korea Utara tidak punya pilihan lain selain menutup perbatasan dengan Cina karena wabah virus corona dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih mengerikan pada sistem perawatan kesehatannya yang sangat lemah.

Cha Deok-cheol, wakil juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan, mengatakan kepada wartawan pada hari Jumat (09/04), ada banyak sinyal Korea Utara mengambil langkah-langkah untuk melonggarkan kontrol di perbatasannya dengan Cina, termasuk adanya laporan dari Korea Utara sendiri bahwa mereka membentuk fasilitas antivirus baru di perbatasan dan mengeluarkan undang-undang baru tentang desinfeksi barang-barang impor. 

Kehidupan Sehari-Hari di Korea Utara

Selama bertahun-tahun, Korea Utara bergantung pada bantuan internasional setelah bencana kelaparan melanda negara komunis itu pada pertengahan 1990-an, yang dipicu oleh hilangnya bantuan Soviet, masalah salah urus, dan bencana alam. Tidak jelas berapa jumlah pasti korban tewas akibat bencana kelaparan tersebut, karena jumlahnya disebut bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga 2 – 3 juta jiwa.

Namun beberapa ahli mengatakan kesulitan yang kini tengah berlangsung di Korea Utara tidak akan sampai menyebabkan kelaparan karena Cina tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Mereka mengatakan Cina khawatir dibanjiri pengungsi Korea Utara yang di perbatasan atau pembentukan negara Korea bersatu yang kemungkinan akan berafiliasi dengan Amerika Serikat.

Ketika bulan lalu Kim berkirim pesan dengan Presiden Cina Xi Jinping, media pemerintah Korea Utara mengatakan bahwa Xi menyatakan komitmennya untuk "memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat kedua negara.” Sejumlah analis melihatnya sebagai indikasi bahwa Cina akan segera menyediakan bantuan yang sangat dibutuhkan di Korea Utara, seperti bahan makanan, pupuk, dan persediaan logistik lainnya yang secara signifikan telah menyusut akibat kebijakan lockdown saat pandemi.

ae/as (AP dan berbagai sumber)