1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PerdaganganEropa

Ketimpangan Perdagangan Afrika–Eropa: Siapa yang Dirugikan?

25 Maret 2026

Mengapa perdagangan bebas antara Afrika dan Eropa selama lebih dari setengah abad tetap menghasilkan ketimpangan, meskipun volume perdagangan terus meningkat dan hubungan ekonomi kedua kawasan tampak semakin erat?

https://p.dw.com/p/5AzDY
Kenya, Mombasa, 2023 | Kapal kontainer sedang dimuat di pelabuhan
Masih ada ruang untuk perbaikan dalam perdagangan antara Eropa dan AfrikaFoto: David Ehl/DW

Emas, kakao, dan minyak adalah komoditas yang sangat dicari secara global. Ketiganya juga dapat ditemukan dalam jumlah besar di Ghana. Hal ini menjelaskan mengapa negara Afrika Barat tersebut memperoleh pendapatan ekspor yang lebih besar dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk impor.

Untuk memperoleh kondisi ekspor yang menguntungkan, Ghana memberikan akses pasar kepada mitra dagangnya dengan imbal hasil yang tidak optimal.

Berikut contoh yang menunjukkan betapa kompleksnya dampak perjanjian perdagangan semacam itu, dan mengapa surplus ekspor bisa menyembunyikan situasi di mana sebagian orang justru dirugikan.

Sebagai contoh, sekitar 80% ayam di Ghana bukan berasal dari produsen lokal, melainkan diimpor dalam bentuk beku dari Eropa, Amerika Serikat, atau Brasil. Di negara-negara tersebut, peternak sering hanya menggunakan dada ayam untuk konsumsi domestik dan menjual bagian lainnya ke pasar luar negeri.

Meskipun harus membayar bea impor sebesar 30%, ayam impor tetap bisa hingga 35% lebih murah dibandingkan produk lokal, menurut sebuah studi tahun 2023. Hal ini membuat usaha peternakan ayam di Ghana semakin tidak menarik.

“Jika Anda memproduksi ayam, orang tidak membelinya. Jadi Anda tidak bisa memproduksinya,” kata Charles K. Donkor, ketua Poultry Farmers Association di wilayah Ashanti, yang mengelola sebuah peternakan dengan 200 karyawan. Di sana ribuan ayam petelur dipelihara untuk memasok telur, bukan daging.

“Kami tidak bisa menciptakan lapangan kerja bagi anak muda dengan cara seperti ini,” ujarnya kepada DW.

Nigeria, Jos, 2025 | Seorang pekerja mengisi palung pakan di kandang unggas yang dipantau secara digital
Di beberapa wilayah Afrika, mengimpor ayam jauh lebih murah dibandingkan mengandalkan pasar lokalFoto: Olympia De Maismont/AFP/Getty Images

Perjanjian: Perdagangan bebas untuk sebagian besar Afrika

Untuk memahami konteks situasi saat ini, perlu sedikit latar belakang. Selama sekitar setengah abad, semakin banyak perjanjian dan kesepakatan dirancang untuk memastikan perdagangan yang saling menguntungkan antara Eropa dan Afrika, setidaknya secara teori.

Semua ini bermula pada 1975 dengan Konvensi Lomé, antara Komunitas Eropa saat itu dan Organisasi Negara-Negara Afrika, Karibia, dan Pasifik (OACPS atau ACP Group) yang baru dibentuk.

Sekitar setengah dari 79 negara anggota perjanjian tersebut berasal dari Afrika Sub-Sahara.

Konvensi Lomé dan perjanjian penerusnya, dinamai sesuai lokasi pertemuan puncak masing-masing: Cotonou (2000) dan Samoa (2023), dianggap sebagai kerangka utama bagi berbagai perjanjian perdagangan bebas regional maupun bilateral.

Sebanyak 44 dari 54 negara Afrika memperoleh akses bebas bea ke pasar internal Uni Eropa melalui skema ini. Banyak di antaranya juga mengikuti aturan perdagangan negara berkembang yang dikenal sebagai “Everything But Arms” (EBA).

Namun, keseluruhan pengaturan ini tidak selalu menghasilkan manfaat yang seimbang bagi kedua pihak.

Perdagangan antara Eropa dan Afrika meningkat

DW menganalisis arus perdagangan selama 25 tahun terakhir, meskipun data untuk 2025 belum tersedia.

Sejak pergantian milenium, terlihat tren yang jelas: volume perdagangan antara Afrika dan Eropa meningkat di kedua arah.

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Afrika secara keseluruhan cenderung memiliki surplus perdagangan dengan Eropa, artinya mereka memperoleh lebih banyak euro dari ekspor dibandingkan yang mereka keluarkan untuk impor barang dari Eropa.

Namun terdapat perbedaan regional yang besar. Surplus ekspor ini sebagian besar disebabkan oleh minyak dan gas dari Libya dan Aljazair, sementara di Nigeria dan Angola, perdagangan bahan bakar fosil juga menghasilkan arus besar valuta asing dari Eropa.

Antara 2020 hingga 2022, nilai ekspor tersebut ke Uni Eropa lebih dari dua kali lipat. Pada awal pandemi COVID-19, harga minyak mentah sempat sangat rendah. Dua tahun kemudian, dengan dimulainya invasi Rusia ke Ukraina, pasar komoditas mengalami lonjakan harga besar.

Ada juga Pantai Gading yang menjadi pengecualian karena menghasilkan surplus besar melalui ekspor kakao dan karet.

Sebaliknya, lebih dari setengah negara Afrika justru memiliki neraca perdagangan negatif dengan Eropa.

Afrika masih lebih bergantung pada pihak luar

Selain neraca perdagangan keseluruhan, ada faktor penting lainnya: ekspor Afrika ke Eropa lebih berfluktuasi, sementara arus perdagangan dari Eropa ke Afrika cenderung lebih stabil.

Hal ini terjadi karena Afrika banyak mengekspor bahan mentah, yang harganya ditentukan di pasar global, sementara Eropa umumnya mengekspor produk manufaktur atau barang yang telah diproses.

Akibatnya, Afrika jauh lebih bergantung pada Eropa sebagai pembeli dibandingkan sebaliknya, jelas Anja Berretta, kepala Africa Regional Economic Program di Konrad Adenauer Foundation, lembaga yang berafiliasi dengan partai tengah-kanan Jerman.

“Ekspor barang dari Afrika ke Eropa sekitar 25–30%. Tetapi pasar Afrika hampir tidak signifikan bagi Eropa,” kata Berretta.

“Produk yang datang dari Afrika sebagian besar adalah produk belum diproses, misalnya di sektor pertanian atau bahan mentah lainnya. Sebaliknya, Afrika mengimpor barang industri atau produk yang sudah memiliki tingkat manufaktur tertentu dari Eropa.”

Data perdagangan juga menunjukkan pola tersebut: jika melihat kelompok produk terbesar dalam sektor sayuran, mineral, dan barang olahan, terlihat bahwa arus produk ini bergerak sangat satu arah.

Potensi perdagangan EU–Afrika yang semakin besar

“Saat ini terdapat ketidakseimbangan yang merugikan Afrika,” kata Berretta. “Bukan hanya dengan Eropa, tetapi juga dengan Cina, Amerika, dan wilayah lain di dunia. Namun menurut pandangan saya, tidak bisa dikatakan bahwa Afrika secara struktural sengaja dipertahankan tetap kecil.”

Sebagian besar ekonomi Afrika gagal menginvestasikan kembali keuntungan dari komoditas pada tahun-tahun sebelumnya ke pasar domestik mereka, sehingga tidak berhasil melakukan diversifikasi industri, tambahnya.

Berretta menyebut Ghana dan Mauritius sebagai contoh positif, karena kebijakan industri mereka diarahkan pada diversifikasi agar fluktuasi harga komoditas tertentu dapat diredam.

Joseph Matola, pakar ekonomi di South African Institute of International Affairs (SAIIA), menilai bahwa di balik ketimpangan ini sebenarnya terdapat peluang untuk memperluas perdagangan yang saling menguntungkan.

“Uni Eropa sedang berupaya melakukan diversifikasi dan mengurangi ketergantungan risikonya terhadap Amerika Serikat, mengingat perubahan lanskap kebijakan di AS,” kata Matola.

“Eropa secara aktif mencari pasar lain. Mereka mencari pemasok mineral kritis, dan saya pikir Afrika memiliki banyak mineral yang dibutuhkan Uni Eropa.”

Enam tahun setelah AfCFTA: Apakah perdagangan bebas Afrika mungkin?

Matola juga menekankan perlunya pemerintah Afrika memprioritaskan ekspor produk yang telah diproses, sehingga lebih banyak nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi dapat tercipta di tingkat lokal.

Untuk tujuan ini, Uni Eropa melalui inisiatif Global Gateway telah menjanjikan dukungan investasi sebesar €150 miliar (sekitar Rp2.595 triliun) untuk infrastruktur dan produksi energi di Afrika.

Afrika juga sedang berupaya mengoperasikan sepenuhnya African Continental Free Trade Area (AfCFTA) yang mulai berlaku pada 2021.

Benin, Malanville, 2023 | Antrean panjang truk di perbatasan yang ditutup menuju Niger
Inilah contoh hambatan perdagangan non-tarif: truk mengantre bermil-mil di perlintasan perbatasan antara Benin dan NigerFoto: AFP/Getty Images

Zona perdagangan bebas yang beranggotakan 55 negara ini masih jauh dari memenuhi janjinya untuk menghapus berbagai hambatan dalam pertukaran ekonomi.

Berretta menilai proyek ini memiliki potensi besar bagi eksportir Eropa, karena AfCFTA bertujuan menstandarkan pasar dan mengurangi apa yang disebut sebagai hambatan perdagangan non-tarif.

“Yang saya maksud terutama adalah waktu tunggu yang sangat lama di perbatasan, peraturan bea cukai yang kadang sangat berbeda, serta infrastruktur yang sangat buruk.

Sebagai contoh, jika Anda mencoba mengirim barang dari Namibia ke Kenya, prosesnya bisa memakan waktu sangat lama. Setiap perbaikan dalam bidang ini akan membuat pasar Afrika jauh lebih menarik,” katanya.

Apakah zona perdagangan bebas ini pada akhirnya dapat mendorong pemerintah Afrika untuk menggabungkan kekuatan diplomatik mereka dalam negosiasi ekonomi? Matola optimistis.

“Mereka seharusnya menggunakan AfCFTA sebagai platform negosiasi, bukan bertindak sendiri-sendiri. Akan sangat membantu jika banyak negara Afrika melakukan hal tersebut,” ujarnya.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait